Menghadirkan Instrumen Musik Pedalaman Rimba Borneo di Malang

Naya siswa SMPN 4 Malang memainkan Sapek Kenyah sedangkan Aldi mahasiswa ISI Yogyakarta memainkan Sampek Kayaan. (Terakota/Givari Jokowali).

Reporter : Givari Jokowali

Terakota.id–Denting dawai bergema dari balik Museum Musik Indonesia (MMI) yang terletak di Gedung Kesenian Gajayana Malang Jalan Nusa Kambangan, Klojen, Kota Malang. Sejumlah orang tengah tekun, memetik alat musik berdawai, Senin malam 20 Agustus 2018. Suaranya terdengar sampai di luar gedung, dentingan dawai terasa menenangkan jiwa.

MMI rutin setiap pekan menggelar latihan atau belajar alat musik tradisional Dayak, Sapek. Mereka yang belajar beragam mulai pelajar Sekolah Menengah Pertama, mahasiswa dan orang dewasa. Mereka adalah angkatan pertama belajar musik Sapek di MMI. Menempati lantai dua di gedung Kesenian Gajayana, MMI mereka tekun berlatih.

“Saya sangat tertarik belajar sapek. Saya tahu sapek saat Festival Dawai Nusantara di simpang balapan kemarin,” kata salah seorang peserta, Nayu. Siswa  SMP Negeri 4 Malang ini baru tiga kali mengikuti latihan bermain sapek. Tetapi ia telah menunjukkan kepiawaiannya, memainkan dan memetik sapek dengan lancar.

“Sapek tergolong instrumen musik dawai yang unik. Dari bentuknya saja orang akan tertarik untuk memainkan,“ kata salah seorang pengajar instrumen musik sapek, Azis Suprianto. Targetnya, selama belajar peserta bisa mengiringi satu lagu. Azis seniman musik yang tinggal di Malang ini belajar sapek secara otodidak. Tak hanya memainkkan, Azis juga mendesain, membuat instrumen sapek.

“Suaranya yang merdu, mistis dan indah. Saya langsung jatuh cinta,” katanya. Berkat kepiawaiannya memainkan instrumen sapek, ia telah bermain musik di sejumlah Negara. Bermain musik sembari menunjukkan kekayaan instrumen Nusantara. Salah satunya sapek.

Sapek, kata Azis, berasal dari tanah Borneo atau Kalimantan. Instrumen ini akrab dimainkan suku Dayak Kayaan yang mendiami Sungai Mandalam Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.  Sungai Mahakam dan sungai Kayam, Kalimantan Timur, dan sungai Baram Talaang Usaan dan Tabau, Serawak, Malaysia. Dayak kayaan termasuk suku yang berjumlah besar terbagi dalam beberapa sub-kayaan  antara lain Punan, Kenyah dan Kayaan.

Instrumen sapek berbentuk seperti perahu atau sampan. Secara bentuk sapek memiliki dua jenis, yaitu sapek Kayaan dan sapek Kenyah. Perbedaan, sapek Kayaan berbadan lebar sedangkan, sapek Kenyah berbadan kecil memanjang. Hiasan di bagian kepala sapek menambah daya tarik tersendiri, biasanya berbantuk binatang mitologis.

Pemuda hingga orang tua tekun belajar memainkan instrumen musik tradisional Sapek di Museum Musik Indonesia. (Terakota/Givari Jokowali).

Bagian tersebut dianggap memiliki kekuatan untuk menaklukkan unsur apapun yang menganggu. Namun, seiring perkembangan zaman bagian kepala memiliki bentuk yang sama seperti alat musik gitar.

Dalam membuat instrumen sapek, suku dayak memanfaatkan kayu ulin. Agar suara yang dihasilkan lebih keras, tetapi karena sifat kayu ulin yang padat sehingga bobot sapek menjadi lebih berat. “Perkembangan teknologi dengan pelantang, sapek sekarang dibuat dari kayu cempedak dan nangka” ujar salah seorang pengajar sapek, Boni.

Selama tiga jam lebih, mereka berlatih memainkan sapek. Belajar bermain sapek ditutup dengan bermain bersama, melantunkan sebuah lagu khas dayak berjudul “datun julud.” Dentingan sapek malam itu seolah membawa kita terbang ke pedalaman hutan Kalimantan, sembari menikmati alam bersama suku Dayak.

 

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini