Menggugah Realitas Fiksional yang Mendarah Daging

menggugah-realitas-fiksional-yang-mendarah-daging
Ilustrasi : shutterstock.com

Terakota.id–Manusia dan cerita sangat erat kaitanya. Pembeda antara manusia dengan spesies yang lain ada pada imajinasinya. Youval Noah Harari mengatakan bahwa hewan memiliki realitas objektif saja, sedangkan manusia memiliki realitas objektif dan realitas fiksional. Realitas fiksional inilah yang membuat manusia dapat hidup berdampingan dan berkelompok dengan jumlah besar. Harari mengibaratkan bahwa apabila sekelompok simpanse diletakkan di stadion, pasti mereka akan menjadi ribut dan berkelompok kecil-kecil. Hal itu karena realitas mereka hanya sebatas pada apa yang mereka lihat saja.

Hubungan yang dijalin antar sesama simpanse ini terjadi karena mereka saling memenuhi kebutuhan jangka pendek, seperti memanjat satu pohon pisang, kawin, atau menuju suatu sumber air. Sifat tersebut tentu berbeda dengan manusia, yang cenderung menjalin hubungan jangka panjang dengan mitos (realitas fiksional) yang diciptakan secara bersama-sama. Dalam realitas fiksional terdapat beragam fiksi yang saling terikat.

Hidup manusia diikat oleh beragam fiksi mulai dari fiksi terkecil hingga fiksi terbesar. Harari mengatakan bahwa keluarga pada dasarnya adalah fiksi, kemudian berlanjut pada cerita rakyat setempat, lalu negara, dan berakhir pada mitos global. Pada dasarnya fiksi-fiksi ini saling berbenturan satu sama lain. Oleh sebab itu, dibentuklah fiksi-fiksi moralistik untuk mengikat fiksi-fiksi yang saling berbenturan. Ini perlu dilakukan agar manusia terhindar dari kepunahan serta nafsu saling menyerang satu sama lain.

Tinjauan Biologis

Berdasarkan teori evolusi Charles Darwin, hukum evolusi adalah yang kuat yang menang. Sejarah kehidupan juga mengatakan bahwa pada dasarnya sel itu saling memakan untuk bisa bertahan hidup. Teori ini diperkuat oleh teori Richard Dawkins. Secara biologis, manusia tersusun oleh bahan-bahan alam sehingga terjadi proses alam di dalamnya. Dalam buku berjudul Selfish Gene (1976), Dawkins mengatakan bahwa spesies terbentuk dari sel mati menuju sel hidup, dan sifat sel adalah saling memakan.

Tubuh manusia seperti sebuah perpustakaan yang penuh cerita. Ryu Hasan seorang ahli neurologi mengatakan bahwa kromosom manusia itu seperti bab dalam buku yang menerangkan spesiesnya. Kromosom berisi gen yang merupakan cerita manusia tersebut, mulai dari sifat, turunan, dan sistem kekerabatannya. Dalam gen ada exon dan intron yang diibaratkan seperti paragraf. Setelah itu ada nukleotida yang diibaratkan seperti kata, dan ditutup dengan kodifikasi ATG yang diibaratkan seperti huruf.

Sekumpulan perpustakaan fiksi yang ada dalam tubuh manusia satu dengan manusia yang lain tentu berbeda. Ini karena sifat sel itu pada dasarnya bervariasi. Varian satu dan varian  lain tidak sama, tapi ada yang dominan. Biasanya yang dominan tersebut dilegitimasi sebagai normal oleh ilmu kedokteran dan yang tidak dominan dilegitimasi sebagai tidak normal. Normal dan tidak normal  atau sehat dan sakit, juga merupakan terminologi kedokteran untuk membuat varian yang berbeda tadi menjadi setidaknya sama atau mirip.

Diperlukan terminologi atau narasi atau saya menyebutnya fiksi ini agar terjadi keseragaman (dominan). Secara alamiah, semakin berbeda maka semakin sering bergesekan atau bersinggungan sedangkan semakin sama sifatnya semakin jarang untuk bergesakan. Posisi fiksi yang lebih besar, diperlukan untuk mengatasi gesekan-gesekan ini.

Apabila ditinjau secara neurologis, dalam otak manusia terdapat mirror neurons. Dalam mirror neurons ini terdapat susunan algoritma yang membentuk kesadaran. Inilah yang membedakan antar kecerdasan manusia dengan kecerdasan buatan (artificial intelegence/AI). Seiring perkembangan zaman, bukan tidak mungkin bahwa apabila ditemukan algoritma kesadaran, maka AI akan menemukan kesadarannya sendiri.

Perkembangan tersebut bisa saja terjadi karena sirkuit neuron yang ada dalam otak manusia senantiasa terkoneksi. Ada istilah yang mengatakan bahwa semakin banyak membaca maka semakin tidak tahu. Secara biologis, ketika orang membaca maka sirkuit neuronnya terkoneksi dan semakin bercabang konektifitasnya. Ketika AI sudah ditemukan, bukan tidak mungkin apabila algoritma kesadaran juga ditemukan.

Untuk menghindari hal tersebut, maka dibentuklah fiksi yang bersifat moralistik. Fiksi digunakan untuk memodulasi pengetahuan manusia. Ryu Hasan mengatakan bahwa pengetahuan itu pada dasarnya tidak berdasarkan dari kebenaran melainkan dari yang menyenangkan. Ketika bahagia, sistem kekebalan tubuh manusia meningkat. Oleh sebab itu, kesenangan adalah landasan utama seseorang untuk memperoleh pengetahuan.

Apabila senang, maka manusia akan mempelajari kebenaran atau fakta-fakta yang mendukung kesenanganya itu. Inilah celah yang digunakan oleh fiksi khususnya yang bersifat moralistik. Kesenangan manusia harus dikendalikan atau disamakan agar tidak terjadi benturan-benturan narasi yang mengancaukan kehidupan. Sarana pengendali utama adalah narasi dan fiksi moralistik.

Berpikir Saintis

Risiko terbesar yang dihadapi oleh manusia adalah kematian, karena setelah mati tidak ada risiko lain lagi yang perlu ditanggung oleh manusia. Dalam perjalanan hidup manusia, Jared Diamon mengatakan bahwa selalu ada lompatan kognitif yang dihadapi dari berbagai era. Era pertama adalah era pemburu pengubur. Lompatan kognitif pada era ini adalah ditemukanya api. Melalui api, maka manusia memiliki banyak waktu untuk melakukan kegiatan lain selain makan.

Setelah itu beranjak pada era agrikultur. Pada era ini, lompatan kognitif manusia adalah membuat cerita dan takhayul dan terciptalah sistem feodalisme. Singgungan fiksi mulai terjadi pada era ini. Para pemburu pengubur yang sudah tidak lagi patut pada mitos bersama yang diciptakan oleh masyarakat setempat, khususnya tuan tanah dan kaisar, maka akan mendapat hukuman. Era berikutnya adalah era revolusi industri. Ada narasi tandingan yang mulai mengikis takhayul dan mitos yaitu ilmiah.

Banyak sekali ilmuan besar dibunuh di era ini karena pemikiran mereka dianggap menentang fiksi lama yang telah diciptakan masyarakat setempat. Meskipun demikian, pengetahuan tetap berkembang sehingga ditemukanlah mesin uap, listrik, dan beragam penemuan lainya. Revolusi industri membawa kita pada revolusi internet atau yang saat ini terjadi. Narasi baru yang dicitptakan adalah kekembaran atau imitasi. Banyak sekali temuan baru yang mengimitasi kehidupan mulai dari foto copy, teknologi print 3D, teknologi hologram, hingga kloning.

Berdasarkan historiografi di atas, saat ini kita sedang berada dalam lompatan kognitif era internet. Penemuan manusia yang semakin berkembang membawa manusia pada fiksi-fiksi yang semakin cepat. Menurut pakar fisika, Prof. Freddy Permana Zen, semakin dekat objek dari gravitasi maka akan semakin lambat, sedangkan semakin jauh objek dari gravitasi maka akan semakin cepat. Data yang kita gunakan sekarang disebarkan oleh satelit yang posisinya jauh dari gravitasi. Persebaran data atau narasi atau fiksi terjadi dengan sangat cepat, dalam hitungan detik.

Persebaran yang cepat ini memacu benturan antara fiksi satu dan fiksi yang lain sehingga era kegagapan informasi benar-benar terjadi. Agar hal tersebut bisa dihindari, maka diperlukan metode saintis dalam menanggapi pengatahuan atau fiksi fiksi baru. Carl Sagan dalam bukunya bertajuk The Demon Haunted World (1995) mengatakan bahwa manusia perlu mempunyai pola pikir skeptis dalam menerima informasi. Sagan mendasari pola pikirnya itu berdasarkan tiga permasalahan yang ditemukannya yaitu (1) kemampuan literasi yang rendah, (2) pola pikir ilmiah yang belum terbangun, dan (3) kebutuhan akan sains komunikator yang semakin berkurang.

Astronom, Avivah Yamani mengatakan bahwa membangun pola pikir kritis dapat dimulai dengan empat tahap berpikir saintis yaitu (1) bertanya, (2) riset, (3) membangun hipotesa, dan (4) menguji hipotesa. Apabila ada informasi atau narasi atau fiksi yang masuk dan diterima oleh manusia maka hendaknya dia menanyakan dulu validitasnya, lalu meneliti faktanya, membangun hipotesa, dan menguji kebenaranya.

Kebiasaan ini perlu ditanamkan sejak dini sehingga metode belajar yang digunakan bukan lagi metode menghafal melainkan metode bertanya. Semakin besar pertanyaan atau rasa ingin tahu maka semakin kritis pola pikir manusia sehingga tidak mudah termakan fiksi yang mampu membuatnya saling memusnakan satu sama lain. Selain itu, tujuan utamanya adalah membangkitkan realitas fiksional yang positif dalam tubuh manusia.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini