Menggelorakan Semangat Kak Azis Franklin

Kak Azis Franklin Suprianto tengah tampil di depan panggung memainkan sapek khas Dayak yang diproduksi sendiri. (Foto : dokumen pribadi).

Oleh : Rika Ayu Perdana*

Terakota.idAkun Facebook Kak Azis Franklin Suprianto terus update. Dinding Facebook bertulis status dan berbagi video. Akun Facebook ini milik seniman serba bisa Kak Azis Franklin. Bernama lengkap Yohanes Azis Suprianto, seniman multi talenta tutup usia, Jum’at 12 Februari 2021 pukul 13.10 WIB. Dikenal di panggung dengan sebutan Azis Franklin, lahir Malang, 15 Februari 1966.

Pada 23 Februari 2021, sesosok pemuda memetik dawai sapek khas Dayak. Dentingan dawai mengalun merdu, sembari menyanyikan,”sungaiku…sungaimu…sungai kita semua.” Inilah aksi Ian, putra Kak Azis Franklin.

Setelah Kak Azis berpulang, akun Facebook dikelola anak pertamanya bernama Firstyan A. Sakti akrab disapa Ian. Beragam komentar dari teman dan sabahat memberi semangat Ian. “Mantaps,” tulis Redy Eko Prastyo, teman Kak Azis yang biasa bermain bersama dalam kelompok M2I Dawai. Sementara Cicik Winarni Herlambang menulis, ”semangat meneruskan perjuangan ayah.” Sementara Ki Jumaali Dharmakanda menulis, “lanjut Ian.” Ki Jumaali alias Lek Jumaali ini kerap berkolaborasi dalam seni wayang Wolak Walik.

Kak Azis Franklin dikenal piawai mendongeng, mendalang wayang kontemporer, berpuisi, berteater dan membuat instrumen sapek. Bakat seninya mengalir dari kedua orang tuanya.  Dari pasangan Seger dan Semi. Seni teater tradisional ludruk dan keroncong menjadi asupan saban hari di rumah. Sehingga seni menjadi atmosfir hidup sejak usai dini. “Bapak cepat belajar dengan suatu yang baru,” kata Ian kepada Terakota, 23 Februari 2021.

Kak Azis merupakan seorang pembelajar. Tak pernah lelah untuk belajar, setiap hari selalu ada sesuatu yang baru untuk dibelajar. Sehingga banyak ragam seni yang dipelajari selama hidup. “Mulai pagi, siang sampai malam. Kadang keinginan belajarnya tidak diimbangi dengan istirahat yang cukup,” kata Ian.

Kak Azis Franklin bersama Ki Jumaali Dharmakanda bersiap memainkan wayang Wolak Walik. (Foto : dokumen pribadi).

Sehingga kadang tidur sebentar, setelah bangun kembali langsung mengerjakan sesuatu. Terus belajar membuat karya, hasil belajarnya terbayarkan setelah menghasilkan karya. Dari kerja kerasnya, publik mengakui karya Kak Azis.

“Tapi ya itu, bapak sendiri seringkali lupa menjaga kesehatan. Waktu tidur tidak jelas, tidurnya kapan dan bangunnya kapan?,’ kata Ian.

Namun, Kak Azis tidak pernah mengeluh dan menyerah. Terus belajar untuk menciptakan karya yang bisa dinikmati dan diterima masyarakat. Seperti membuat instrumen sapek khas Dayak, ia belajar secara otodidak. Memanfatkan kayu bekas yang tak terpakai.

Kak Azis seorang pembelajar, ramah dan mudah bergaul dengan beragam golongan dan lapisan masyarakat. Ia sering beranjang sana dan bersilatuhrahmi bertemu seniman lain, termasuk belajar hal baru.

“Bertemu orang baru dianggap dapat memberikan ilmu pengetahuan yang didapat,” katanya. Sehingga jejaring pertemanan dan pergaulannya luas. Terdiri atas beragam profesi, lintas iman dan etnis.

Kak Azis juga bisa berkolaborasi dengan seniman lain. Membuat karya dan berkolaborasi bersama-sama. Kecintaannya terhadap seni yang memotivasi untuk belajar dan mengembangkan beragam jenis kesenian.

Jika ada yang menghadapi masalah, Kak Azis turut membantu mencari solusi. Termasuk panggilan jiwa membantu sesama. Tak terhitung, Kak Azis menghibur korban bencana alam di berbagai daerah dengan mendongeng atau bermusik. Termasuk menggalang donasi melalui pertunjukan musik bagi publik.

“Meskipun Bapak telah berpulang, tapi karya-karyanya akan langgeng dan abadi,” kata Ian. Karya Kak Azis, kata Ian, akan menjadi pesan yang langgeng untuk dinikmati siapapun.

*Reporter magang Terakota.id dan mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini