Mengenang Tugu Kemerdekaan di Alun-Alun Bunder Kota Malang

mengenang-monumen-tugu-di-alun-alun-bunder-kota-malang
Presiden Sukarno usai meresmikan monumen tugu di Alun-alun Bundar Kota Malang. (Foto : Flick).

Terakota.id Tidak terasa esok hari 17 Agustus 2020, kita semua akan memperingati hari kemerdekaan. Untuk memperingati hari tersebut ada baiknya jika kita yang ada di Malang mengenang pendirian “Tugu Kemerdekaan” yang ada di Alun-Alun Bunder. Persis di depan Balai Kota Malang guna menganang sejarah perjuangan para pahlawan kita. Dwi Cahyono seniman dan budayawan pendiri Museum Panji, dalam bukunya berjudul “Malang Telusuri dengan Hati”, 2007, halaman 114, menjelaskan 17 Agustus 1946 diadakan peletakan batu pertama sekaligus menempatkan Oorkonde (prasasti) dalam fondamen pembangunan tugu peringatan proklamasi kemerdekaan di Malang.

Ditandatangani Dularnowo sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur, Mr. Soenarko sebagai Residen Malang dan AG Soeroto sebagai ketua panitia pembangunan tugu. Saat pembangunan tugu mencapai 95 persen terjadi Clash I yang memaksa pembangunan dihentikan. Keyakinan yang berkembang di kalangan masyarakat saat itu selama tugu peringatan proklamasi masih berdiri, maka perjuangan arek-arek Malang tidak akan dapat dipatahkan. Keyakinan yang berkembang di kalangan masyarakat saat itu selama tugu peringatan proklamasi masih berdiri, maka perjuangan arek-arek Malang tidak akan dapat dipatahkan.

“Keyakinan tersebut justru berbuah petaka sesaat setelah tentara Belanda mendengarnya. Tugu tersebut dihancurkan pada tanggal 23 Desember 1948 hingga tinggal pondasinya saja. Setelah perang usai dan kedaulatan kembali ke pemerintahan Kota Malang, dibentuk kepanitiaan untuk membangun kembali tugu yang hancur, dan setelah pembangunannya selesai, tugu tersebut diresmikan oleh Presiden Soekarno tanggal 20 Mei 1953 dengan nama Tugu Nasional” tulis Dwi.

mengenang-monumen-tugu-di-alun-alun-bunder-kota-malang
Presiden Sukarno meresmikan monumen tugu Kemerdekaan Indonesia di Malang, 20 Mei 1953. (Repro :Telusuri Malang dengan Hati).

Penjelasan Dwi diperkuat keterangan sejarawan Malang Suwardono dalam bukunya yang berjudul “Monografi Sejarah Kota Malang”, 1997, halaman 23-24 yang menjelaskan 17 Agustus 1946 panitia Tugu Kemerdekaan diketuai A.G. Soeroto mulai bekerja. Peletakan batu pertama tugu dilakukan Bapak Doel Arnowo, Wakil Gubernur Jawa Timur waktu itu.

“Bangunan tugu kemerdekaan itu batu-batunya diambil dari Gunung Arjuno. Akan tetapi ketika hampir rampung dikerjakan, bangunan itu harus terbengkalai. Ini sebagai akibat tentara Belanda kembali menduduki Kota Malang pada tanggal 21 Juli 1947. Pada tanggal 23 Desember 1948, lingga tugu kemerdekaan dirobohkan oleh Pemerintah pendudukan belanda. Batu-batunya yang asli banyak yang disingkirkan dan dihancurkan. Baru pada masa pengembalian kekuasaan dari tentara pendudukan Belanda ke tangan pemerintah Republik Indonesia, Pada tanggal 9 juni 1950 panitia Tugu Kemerdekaan mulai aktif kembali. Kegiatan ini atas desakan rakyat warga Kota Malang agar tugu kemerdekaan didirikan kembali,” tulis Suwardono.

Suwardono menambahkan pada 20 Mei 1953, bersamaan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional, tugu kemerdekaan diresmikan Presiden Soekarno. Bentuk tugu kemerdekaan beserta maknanya diuraikan sebagai berikut: Jarum tugu terdiri dari 6 buah bamboo runcing, yang sebuah lebih tinggi dari yang lain. Yang tertinggi berujung sebilah keris yang berhiaskan karangan bunga melati. Semua ini melambangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan pusat pemerintahan di Pulau Jawa. Keenam, bambu runcing tersebut dibalut atau diikat dengan 4 lapisan pelat yang berpenjuru 5, mengandung maksud angka 45 yaitu tahun proklamasi.

Di atas empat pelat tadi terdapat bidang relief yang menggambarkan wajah Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, teks proklamasi, dan gambar peta kepulauan Indonesia, telapak tangan kanan,seekor Banteng. Tangga undak-undak yang, bertingkat 8 dan berdasarkan lantai yang berpenjuru 17, bermakna bulan 8 hari yang ke 17,” tulisnya.

Dasar tugu yang berbentuk bulat bermakna kesatuan dan kebulatan tekad bangsa Indonesia dalam menyelesaikan tugas perjuangannya. Kolam yang berbentuk bulat menunjukkan arti bahwa Negara Republik Indonesia merupakan kesatuan yang terdiri dari beberapa kepulauan yang dibatasi oleh lautan. Bunga teratai merah dan putih melambangkan suatu maksud dan tujuan. Dengan ketenangan batin dan di bawah kibaran sang Dwi Warna memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar bangsa Indonesia dapat mewujudkan cita-cita proklamasinya.

mengenang-monumen-tugu-di-alun-alun-bunder-kota-malang
Alun-alun Tugu Malang, salah satu cagar budaya di Kota Malang (Terakota/Zainul Arifin).

“Cita-cita itu adalah suatu masyarakat yang adil dan makmur berlandaskan Pancasila serta mendapat ridho dari Tuhan Yang Maha Pemurah,” tulis Suwardono menguraikan makna Tugu. Kini Tugu Kemerdekaan Malang dijadikan pemerintah Kota Malang sebagai sarana ruang terbuka hijau untuk masyarakat. Tugu ini ramai dikunjungi warga Kota Malang untuk berekreasi, bersantai atau sekedar berfoto.

Namun, dalam menyongsong hari Kemerdekaan diharapkan tugu tak hanya menjadi “simbol belaka” tetapi nilai-nilai yang telah dibuat oleh para founding father kita dapat meresap dan diamalkan oleh segenap warga Malang khususnya dan Indonesia pada umumnya. Semoga!

Merdeka…. Merdeka… Merdeka…

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini