Mengenang Perjuangan Tokoh Pers Indonesia

Terakota.id-Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya menggelar pameran dan apresiasi tokoh pers bertajuk “SADA JIWA” di Galeri Raos, Kota Batu, 8-11 April 2017. Mereka tengah memperkenalkan kisah hidup tokoh pers Indonesia agar dikenal dan dihargai.

 

Para tokoh yang akan dipamerkan antara lain Adinegoro, Mochtar Lubis, Agus Salim, P.K. Ojong, Jakob Oetama, Rosihan Anwar, Goenawan Muhammad, H. Misbach, dan Tirto Adhi Soerjo.

 

Selama pameran akan menampilkan pertunjukan seni teater, puisi, dan dongeng.  Menurut tim Penggagas acara Kala event organizer kumpulan mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya menjelaskan setiap pertunjukan memiliki arti. Ketua pelaksana pameran Rizki Akbar teater pertunjukan akan menampilkan kisah para tokoh pers. Selain itu juga untuk membangkitkan kesadaran, simpati pengunjung tentang pentingnya perjuangan tokoh pers.

 

Puisi untuk menyampaikan pemikiran tokoh pers sedangkan dongeng untuk menceritakan kisah tokoh pers yang dikemas menarik dan menghibur.  Sedangkan pertunjukan seni menampilkan karya para tokoh pers dan perwakilan mahasiswa Universitas Brawijaya.

 

Teater Celoteh  bakal menyajikan berkonsep membaca puisi dengan bebas dimana saja. Bejo Sandy dari Teater Celotek merupakan komunitas teatrikal dan musikalisasi puisi. Pers di mata Bejo Sandy merupakan alat perjuangan pada masa lalu hingga saat ini. “Tokoh, para penggagas dan pendiri harus dipelajari untuk generasi masa depan.”

 

Mata Pena merupakan wadah mahasiswa yang berminat di bidang sastra sekaligus membangun literasi, dan menghidupkan sastra di Indonesia. Pegiat mata pena, Nisaa menjelaskan setiap proses kreatif merupakan sesuatu yang penting untuk dijalani. “Untuk menjadi kupu-kupu harus melalui proses menjadi ulat dahulu,” katanya.

 

Sementara band Fletch yang dibentuk pertengan 2015, merupakan band beraliran alternatif  pop-folk. Mereka akan mengusung beragam lagu yang bertemakan perjuangan dan pers. Sedangkan pameran seni lukis berjudul ‘Tak terlupakan’ dikerjakan mahasiswa Universitas Brawijaya yakni Vadilla M.Widyananda, Yawara dan Roudlo. Mereka mendeskripsikan kisah Tirto Adhi Soerjo dalam perjalanannya memperjuangkan pers Indonesia dengan surat kabar yang Ia terbitkan.

 

Sedangkan Muizuddin Nurazmi bekerja, Chusnul Khasanah mengerjakan karya berjudul ‘Imagination to Dream.’  Mendeskripsikan sosok Goenawan Muhammad yang memiliki mimpi besar, membuat perlawanan dalam sastra dan seni.
Tiwi Maryani, dan Alfi Anto R. mengerjakan lukisan bertema ‘Sederhana’ menonjolkan karakter P.K. Ojong yang sederhana, hemat, dan disiplin. Kemudian Adhip Prana, Afif Musthapa berjudul ‘Harusnya Gitu!’ mendeskripsikan surat wasiat mendiang Mochtar Lubis kepada pers saat ini. Untuk menjunjung tinggi kebenaran tanpa pandang bulu dan tidak membolak- balikan fakta demi kepentingan pribadi.

 

Kemudian Luthfi Nurhazami, Muhammad Lutfie Anan dengan karya ‘No Aesthetic Today’mengisahkan H. Misbach memandang realitas  Negara atau pemerintah cenderung mengintimidasi rakyat bawah dengan kebijakannya. Reinarus Reski, Ahmad Kholili berjudul ‘Agus Salim’ menonjolkan sosok Agus Salim yang berwibawa, keras, dan pekerja keras.

 

Dimas Adrian, Hevidz Hadid Aqvaz dengan karya berjudul ‘No Angel in The World’ mendeskripsikan sikap Jakoeb Oetama yang membangun sesuatu dengan usaha dan kerja keras. Konsistensi menjadi salah satu kuncinya. Ramzi Chalid, Figo Dimas Saputra dengan karya ‘Pertanda Merah’ mendeskripsikan Rosihan Anwar yang menilai uang bukanlah segalanya. Seorang wartawan harus lebih berjarak dengan kaum penguasa. Agar karya jurnalistiknya lebih objektif  sesuai fakta bukan dibuat untuk kepentingan pribadi.

 

Rizki Akbar, Alvi Abdurrakhman berjudul ‘Harapan untuk Tumbuh’ mengisahkan tokoh pers Adinegoro yang mendambakan semangat juang nasionalisme dalam penyebaran media informasi dan edukasi melalui pers.

 

Acara dibuka Noertjahyo jurnalis senior Kompas bekas ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Malang dan sambutan pembimbing dan Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB Antoni. Dipadu dengan penampilan kelompok puisi Mata Pena, teater Celoteh dan grup musik Fletch.

 

 

 

 

Tinggalkan Pesan