Mengenang Perjuangan Para Tentara Pelajar di Malang

Terakota.id–Bus Malang City Tour (Macito) melaju pelan di antara deru kendaraan yang bergerak cepat di jalur utama Kota Malang. Kursi bus berwarna hijau bergaya retro penuh terisi, sebagian penumpang tampil mengenakan pakaian bertema kepahlawanan. Kedua pipi ditempel stiker bendera merah putih, tampil penuh keceriaan. Sementara di depan bus mobil sebuah mobil jeep klasik berpenumpang para tentara pejuang era kemerdekaan.

Mereka mengenakan seragam militer, lengkap dengan senapan mesin dan senjata api yang digunakan dalam pertempuran saat merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Mereka adalah anggota Reenactor Malang, sebuah komunitas pecinta sejarah berdiri April 2007. Mereka tergabung dalam kegiatan Tour de Macito Heroes Day yang diselenggarakan memperingati hari pahlawan, 10 November 2018.

Bus melaju pelan, sejarawan Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono menerangkan kisah heroik di Kota Malang saat mempertahankan kemerdekaan. Para peserta yang sebagian besar anak muda khidmat mendengar setiap penjelasan. Sejumlah situs bersejarah didatangi, meliputi monumen Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), taman makam pahlawan, monument Tentara Ginie Pelajar (TGP) kawasan lapangan Rampal, dan museum Brawijaya.

Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) didedikasikan untuk perjuangan personil TGP mempertahankan kemerdekaan Indonesia. (Terakota/Eko Widianto).

“Saya lebih tahu jika Malang memiliki sejarah penting perjuangan. Dulu, pelajar saja sudah mengangkat senjata mempertahankan kemerdekaan,” kata mahasiswa sejarah UM, Raisya Rahmawati yang mengikuti Macito.

Para Pelajar Angkat Senjata

Sementara Novitasari mahasiswi asal Lumajang mengenang perjuangan TRIP di Jalan Salak (Sekarang Jalan Pahlawan TRIP). Ia melihat dan mendengar kisah perjuangan pelajar dalam mempertahankan kemerdekaan. Monumen pahlawan TRIP serta makam bersama para pejuang TRIP yang gugur dalam pertempuran di Jalan Salak, 31 Juli 1947.

“Di sini, 35 pejuang TRIP yang berhasil diidentifikasi dimakamkan menjadi satu,” kata Novitasari.

Baca juga :  “Arjuna Mencari Cinta” di Panggung Sastra

Sejarawan Dwi Cahyono menjelaskan jika Malang memiliki sejumlah situs dan palagan terkait merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Yakni pada agresi militer pertama 1947 dan agresi militer ke dua 1949. Kota Malang, katanya, juga kota perjuangan melibatkan pertahanan semesta termasuk pelajar.

“Sebutan agresi militer mengikuti perspektif Belanda. Belanda sentris. Justru gerilyawan diposisikan sebagai agreso, para pengacau. Ini merugikan yang lebih tepat mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya.

Seperti pertempuran di Jalan, para pejuang TRIP tak bisa mengelak bertemu dengan pasukan Belanda yang tengah berpatroli. Sehingga para pejuang TRIP menggunakan senjata seadanya melawan militer Belanda. Apalagi militer Belanda menggunakan senjata berat termasuk tank amfibi.

Mahasiswa dan pemuda mengikuti Tour de Macito Heroes Day menelusuri jejak perjuangan tentara pelajar di Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Saat itu, pejuang TRIP menghadang tank belanda agar tak merangsek ke kantung pertahanan pejuang. Akibatnya militer Belanda memuntahkan mortir dan sebagian pejuang dilindas dengan tank. Saat itu pertahanan pejuang dibagi dalam tiga sector komando, sektor timur di lapangan Rampal, sektor tengah di Kayutangan dan sektor barat Jalan Ijen.

“Pertempuran terjadi sepanjang Jalan Salak dan Ijen. Mujahid dan kusuma bangsa gugur, dimakamkan secara massal.” Pertempuran sengit terjadi selama lima jam. Monumen diresmikan Presiden Sukarno pada1959. Juga dibangun patung TRIP di persimpangan Jalan Pahlawan TRIP dan Jalan Ijen untuk mengenang perjuangan TRIP mempertahankan kemerdekaan.

Tentara Ginie Pelajar

Pejuang pelajar, kata Dwi, selain TRIP juga ada Tentara Ginie Pelajar (TGP) sebuah kesatuan yang terdiri dari pelajar teknik. Monumen terdiri dari dua patung pejuang TGP sembari membawa senjata api dan mortir berdiri di persimpangan Jalan Tangkuban Perahu dan Jalan Semeru Kota Malang. Patung ini bakal menarik perhatian pengguna jalan yang melintas, lokasinya berada di pojok Stadion Gajayana Malang.

Baca juga :  Politik Cinta Romeo dan Juliet Menuju Rekonsiliasi

“Kenapa monument TGP berdiri di sini? Karena TGP dibentuk di sekolah di situ,” kata Dwi menunjuk gedung SMP dan SMA Yayasan Pendidikan Kristen, Jalan Semeru. Gedung berdiri sejak 1938. Dulu, katanya, gedung tersebut merupakan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang dikelola yayasan Kristen.

TGP yang terdiri dari pelajar Sekolah Teknik Negeri (STN) setara SMP dan Sekolah Menengah Teknik (SMTT) setara SMA. TGP dibentuk Februari 1947, bersemboyan berjuang sambil belajar. Sedangkan sekolah dan asrama berada di Sumber Waras, Lawang. Sedangkan mes para pelajar berada di Jalan Ringgit (Sekarang Jalan Pandan) Nomor 5.

Sampai saat ini, juga masih ada peninggalan jejak TGP di gedung tersebut. Saat memasuki koridor utama bangunan di sebelah kanan, terpampang prasasti bermerah bergambar logo Tentara Genie Peladjar (TGP). Logo melambangkan bintang, arca Ganesha, padi-kapas, pelita, roda gigi, senapan, dan bulu lambang pena.

Sementara sebelah kiri, terdapat prasasti terukir kalimat, “di tempat ini pada tanggal 2 Februari 1947 terbentuk TGP (Tentara Genie Peladjar) sebagai kelanjutan perjuangan Pelajar Tehnik Jawa Timur-Jawa Tengah-Jawa Barat tahun 1945.”

Periode sejarah kemerdekaan, katanya, dibagi dalam perjuangan nasional sampai 1928. Setelah 1928 disebut periode perjuangan nasional dan setelah Indonesia merdeka 1945 disebut periode mempertahankan kemerdekaan.  “Selama perang mempertahankan kemerdekaan 41 personil TGP gugur mulai 1947 sampai 1949,” kata Dwi.

Komunitas Reenactor Malang turut meramaikan Tour de Macito Heroes Day. (Terakota/Eko Widianto).

Dwi menjelaskan kegiatan ini sebagai tamasya kota atau city tour. Sebuah wisata edukasi atau mendidik di lingkungan sekitar Kota Malang. “Istilah tamasya dulu lazim diucapkan, kata ganti dari berwisata atau rekreasi.”

Ia menyebut kegiatan ini bagian dari upaya mengenalkan identitas Kota Malang secara berkala. Bakal dilakukan periodeik setiap dua bulan sekali. Agar edukatif, pemandu tak hanya menjelaskan di atas bus Macito. Tetapi juga kerap turun ke situs yang menjadi penanda peristiwa tertentu. Seperti nonumen pahlawan TRIP dan TGP.

Baca juga :  Sejarah Kota Malang, Sejarah Indonesia

“Renungan di makam pahlawan TRIP, mengenang perjuangan para pelajar kala itu,” katanya.

Kepala Seksi Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang Agung H Buana berjanji bakal mengemas wisata dengan konsep pendidikan. Meliputi pendidikan sejarah dan pendidikan seni dan budaya. “Ini tour de macito kedua, bertepatan dengan hari pahlawan menyisipkan kisah heroic,” ujarnya.

Jika selama ini pendidikan sejarah terkesan berat dan menegangkan, ia berharap bisa memberikan pendidikan yang menyenangkan dan menghibur.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini