Mengenang Pengorbanan Relawan PMR di Peniwen

Monumen Peniwen Affair dibangun mengenang relawan PMR yang gugur saat Agresi Militer Belanda. memuntahkan tembakan membabi buta 19 Februari 1949. (Foto: koleksi pribadi).

Oleh : Muhammad Aqib Nur Habibi*

Terakota.id—Sebuah monumen Palang Merah berdiri di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Monumen dikenal dengan sebutan Peniwen Affair ini memiliki sejarah dan latar belakang pendiriannya. Monumen berdiri di samping Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Monumen Peniwen Affair dibangun untuk mengenang para relawan Palang Merah Remaja (PMR) yang gugur saat Agresi Militer Belanda. Tentara Belanda memuntahkan tembakan membabi buta saat memasuki Desa Peniwen, 19 Februari 1949.

Monumen Peniwen Affair merupakan satu-satunya monumen Palang Merah di Indonesia. Sekaligus satu dari dua monumen Palang Merah yang diakui dunia internasional. 70 tahun lalu, tentara Belanda memasuki Peniwen.

Nur Hadi dan Sutopo dalam Perjuangan Total Brigade IV Pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang (1997:213) menyatakan peristiwa di Peniwen sangat memalukan militer Belanda. Sebab terjadi penembakan membabi buta yang dilakukan pasukan Belanda yang masuk dari arah barat (Jambuwer). Banyak yang gugur dalam penembakan yang tidak bertanggung jawab tersebut.

Soehario K. Padmodiwirio alias Hario Kecik, dalam Pemikiran Militer 2: Sepanjang Masa Bangsa Indonesia (2009:20-21) menyatakan setelah tentara Belanda menghadapi pasukan Republik, mereka malah masuk perangkap di Desa Peniwen. Militer Belanda terperangkap tembakan mitraliur dan tembakan tekidanto yang disiapkan jauh sebelumnya.

Saat itu tentara Belanda kehilangan lebih dari 12 tentara. Karena sangat marah, mereka mengambil 12 pasien yang sedang dirawat di rumah sakit kecil di Desa Peniwen. “12 relawan PMR yang tengah merawat pasien dipaksa keluar rumah sakit. Mereka berdiri berjajar di tembok Rumah Sakit. Lantas diberondong senjata sampai mati,” tulis Hario.

Namun, hal berbeda mengenai korban disampaikan oleh Prayoga Kartomihardjo, Prapto Saptono dan Soekarsono dalam Monumen Perjuangan Jawa Timur (1986:138). “Gugur dalam peristiwa ini Roby Andris dan J. W. Paindong dari Brigade 16 yang sedang menjadi pasien,” tulis Kartomihardjo.

Rumah sakit untuk merawat korban milik Zending dari Kristen-Protestan. Pendeta gereja mengajukan surat resmi dikirimkan ke kantor pusat Zending Protestan di Malang. Lantas, surat diteruskan ke Persatuan Bangsa Bangsa. Tak lama kemudian, berita pembantaian di Peniwen disiarkan surat kabar di Malang dan Surabaya.

“Ada yang menyiarkan di surat kabar luar negeri di Amerika dan Inggris sebagai Skandal Pembunuhan Peniwen Besar yang dilakukan tentara Belanda usai Perang Dunia II,” tulis Hario Kecik yang pernah menjadi Kepala Staf Security KCKS.

Dibangun monumen

Untukmengingat peristiwa kebrutalan tentara Belanda di Desa Peniwen, dibangun monumen di lokasi penembakan.  Biaya berasal dari dana Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia se-Kabupaten Malang dan bantuan Pemerintah Kabupaten Malang.

Menurut Kartomihardjo dkk (1986:136), penggalian tanah dilakukan pada tanggal 11 Agustus 1983. Selesai dibangun pada 10 September 1983. Monumen Peniwen Affair diresmikan 10 November 1983.

Mengenang peristiwa kebrutalan tentara Belanda di Desa Peniwen, dibangun monumen. Biaya berasal dari dana AMPI se-Kabupaten Malang dan bantuan Pemerintah Kabupaten Malang. (Foto: dokumen pribadi).

Dinding badan tiang penyangga terukir tiga buah relief. Masing-masing berada di dinding menghadap ke arah barat, utara dan timur. Ketiga relief, menggambarkan adegan penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan tentara Belanda di Desa Peniwen. Tepat di halaman depan monumen, berjajar makam pahlawan dari barat ke timur.

Monumen juga terukir nama korban relawan PMR. Pahlawan PMR antara lain Matsaid, Slamet Ponidjo, Suyono Inswihardjo, Sugiyanto, J. W. Paindong, Roby Andris, Wiyarno, Kodori, Said, Sowan, Nakhrowi, dan Soedono, sedangkan rakyat yang gugur: Wagimo, Rantiman, Twiandoyo, Sriadji dan Bapak Kemis.

Sepatutnya generasi menggali dan mengetahui peristiwa bersejarah di Desa Peniwen. Serta mewarisi nilai perjuangan para pahlawan.

* Mahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini