Mengenang Pahlawan Kemanusiaan di Hari Kasih Sayang

Anggota KSR PMI Unit Turen menggelar apel penghormatan di makam pahlawan kemanusiaan dan monumen Peniwen Affair. (Foto : Dokumen KSR PMI Turen)

Terakota.id—Hari kasih sayang diekspresikan dengan beragam bentuk. Muisis Cak Gik Arbanat menulis dan menciptakan lagu berjudul Ibuku Sayang. Sedangkan sekitar 40-an anggota Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit Turen menyampaikan dengan cara menziarahi pahlawan kemanusiaan di Peniwen, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, Ahad 14 Februari 2021.

Diawali dengan menggelar apel penghormatan di depan pusara 12 relawan remaja Palang Merah dan monumen Peniwen Affair. Dilanjutkan kerja bakti dengan membersihkan pelataran makam dan memotong rumput di sekitar makam. Selain itu, mereka juga mengecat batu nisan dan pusara makam.

Ketua KSR PMI Unit Turen Adila Romadhan mengisahkan sejarah pembantaian kedua belas relawan remaja Palang Merah di Peniwen yang dilakukan militer Belanda saat Agresi Militer Belanda kedua 19 Februari 1949. Kisah disampaikan berdasar buku sejarah tragedi Peniwen yang diterbitkan PMI Kabupaten Malang dan relief monumen.

Anggota KSR PMI Turen mengecat pusara dan batu nisan 12 makam pahlawan kemanusiaan di Peniwen, Kromengan, Kabupaten Malang. (Foto : Dokumen KSR PMI Turen)

Relief pertama menggambarkan para relawan remaja menolong dan merawat tentara pejuang yang terluka di Rumah Sakit Husodo. Relief kedua menggambarkan tentara Belanda menggiring para relawan ke halaman. Kedua tangan para relawan diikat. Senjata api menempel di tubuh mereka, senjata menyalak para relawan terjatuh. Mati tertembak.

“Gedung SDN Peniwen 2 ini dulu berdiri Rumah Sakit Husodo,” kata Adila. Bekas bangunan Rumah Sakit Husodo kini hanya menyisakan pondasi. Keduabelas relawan yang bersemayam di bawah monumen Peniwen Affair antara lain Robi Andreas, J.W. Paindong, Slamet Panidjo, Suyono Inswihardjo, Sugiyanto, Matsaid, Wiyarno, Kodori, Sowan, Nakrowi, dan Soedono.

Rakyat Peniwen melalui pimpinan Gereja Jawi Wetan Ds. Martodipuro melayangkan surat protes kepada World Council of Churches (WCC) atau Dewan Gereja-gereja Sedunia. Protes Lantaran militer membantai relawan kemanusiaan yang melanggar hak asasi manusia, karena relawan remaja tengah menjalankan tugas kemanusiaan.

Lima orang utusan WCC mendatangi Desa Peniwen diantar anggota Synode Jawa Timur. Mereka menyelidiki peristiwa tentara Belanda pembantaian relawan remaja. Serta menyaksikan lokasi pemakamannya. Selain itu, mereka juga hadir untuk menghibur masyarakat Kristen Peniwen.

Monumen dibangun atas prakarsa Bupati Malang Edy Slamet ditandai dengan peletakkan batu pertama 11 Agustus 1983. Pembangunan monumen dibiayai KNPI Kabupaten Malang yang diresmikan Pengurus Besar PMI Marsekal Muda dr. Sutojo Sumadimedja pada 10 November 1983.

Anggota KSR PMI Turen mengecat pusara dan batu nisan 12 makam pahlawan kemanusiaan di Peniwen, Kromengan, Kabupaten Malang. (Foto : Dokumen KSR PMI Turen).

Monumen Peniwen Affair merupakan salah satu dari tiga monumen Palang Merah di dunia. Lokasi gugurnya para relawan diresmikan Ketua PMI Jusuf Kalla menjadi Jalan PMR pada 15 Januari 2011. Makam dan monumen menjadi saksi bisu kejahatan perang yang dilakukan militer Belanda. Membunuh relawan kemanusiaan

Menziarahi makam pahlawan kemanusiaan ini tak lepas dari kelahiran KSR PMI Unit Turen 14 Februari, 37 tahun lalu. Ketua PMI Kecamatan Turen Rudi Osiyo berharap generasi muda meneladani sikap kerelawanan generasi terdahulu. Bahkan, sampai harus bertaruh nyawa untuk kemanusiaan.

“Mari meneladani dan mendoakan pahlawan kemanusiaan dan para pendiri KSR PMI Turen yang telah meninggal,” kata Rudi.

Makam 12 pahlawan kemanusiaan di Peniwen, Kromengan, Kabupaten Malang. (Foto : Dokumen KSR PMI Turen)

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini