Mengenang Monumen Tugu Kemerdekaan Kota Malang

Reporter : Imam Rosyadi

Terakota.id-Tugu di depan Balai Kota Malang menjadi tetenger, yang terkenal di Malang. Sebuah tugu berwarna hitam, menjulang dikelilingi aneka bunga dan tanaman hias. Sebagian mengenalnya dengan sebutan Alun-Alun Bunder atau Alun-Alun Tugu. Tanaman hias turut mempercantik monumen tugu.

Dosen sejarah Universitas Negeri Malang Najib Jauhari menjelaskan sebelum berdiri monument tugu, di depan Balai Kota terhampar tanah kosong. Dipercantik dengan aneka tanaman. Saat itu, Alun-Alun dikenal dengan sebutan J.P. Coen Plein. Yakni nama Gubernur Jenderal Hindia Belanda J.P. Coen atau Jan Pieterszoon Coen. Pemerintah Hindia Belanda kerap mengabadikan nama pejabatnya menjadi nama taman atau jalan utama.

Lahan itu berubah setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Tepat pada 17 Agustus 1946, dilakukan prosesi peletakan batu pertama pembangunan tugu yang ditandatangani Wakil Gubernur Jawa Timur Dularnowo. “Tugu ini merupakan simbol tugu kemerdekaan yang pertama berdiri di Nusantara,” kata Najib.

Pendirian tugu sekaligus menjadi simbol wilayah Malang dan sekitarnya yang dulu merupakan pusat administrasi Belanda telah dikuasai sepenuhnya oleh Republik indonesia. Sayang, saat proses pembangunan dan tugu belum sepenuhnya berdiri terjadi Agresi Militer Belanda I pada 1947.

Militer Belanda berhasil menguasai Malang, mereka mengalihfungsikan tugu menjadi tugu kolonialisme. Tentara belanda meletakkan mahkota kerajaan Belanda dan bendara Belanda berwarna merah putih biru di puncak tugu.

Setelah berubah menjadi tugu kolonialisme, akhirnya tugu dihancurkan pada masa agresi militer tersebut. Bangunan tugu dihancurkan pada 23 Desember 1948. Lantaran militer Belanda mendengar kabar selama tugu peringatan Proklamasi Kemerdekaan masih tegak berdiri maka perjuangan warga malang tidak akan bisa dipatahkan.

Tugu dihancurkan Belanda dan hanya menyisakan pondasi tugu. Setelah perang dan agresi militer Belanda usai, pada 1949 Belanda menyerahkan kembali kekuasaan kepada Pemerintah Republik Indonesia. Selanjutnya, muncul rencana mendirikan kembali tugu Proklamasi Kemerdekaan di depan Balai Kota Malang pada 1950.

Baca juga :  Bimo Petrus, Dua Dasawarsa Tanpa Kejelasan

Lantas dibentuk panitia pembangunan tugu. Proses pembangunan tugu tuntas pada 1953. Setelah monumen tugu berdiri, Presiden Republik Indonesia Sukarno meresmikannya pada 20 Mei 1953.  Saat peresmian, ribuan warga Malang berjejal menghadiri dan melihat langsung monumen tugu dan Presiden Sukarno.

mengenang-monumen-tugu-kemerdekaan-kota-malang
Presiden Sukarno meresmikan monumen tugu Kemerdekaan Indonesia di Malang, 20 Mei 1953. (Repro :Telusuri Malang dengan Hati).

“Selanjutnya Tugu sebagai identitas kota Malang dan  semakin menguat ketika pada 1970 Pemerintah Kota Malang mengubah lambang Pemkota Malang menjadi gambar Tugu.” Hingga saat ini, Tugu Kota Malang masih tetap kukuh berdiri dan menjadi salah satu lambang dan identitas Kota dingin ini.

Bangunan tugu sendiri, katanya, memiliki beberapa makna. Bentuk monumen tugu memiliki arti pada puncak monumen yang berbentuk bambu tajam menunjukan bambu adalah senjata yang pertama kali digunakan Bangsa Indonesia melawan tentara belanda dalam merebut kemerdekaan. Pada puncak Tugu terdapat rantai yang menggambarkan kesatuan rakyat Indonesia.

Sedangkan anak tangga berbentuk empat dan lima sudut, bintang mempunyai 8 tingkat, dan pondasi berjumlah 17 pondasi. Melambangkan tanggal bersejarah Indonesia meedeka 17 Agustus 1945.

Sedangkan bunga teratai yang tumbuh di air yang mengelilingi monumen melambangkan Indonesia merupakan Negara kepulauan terdiri dari ribuan pulau. Sedangkan warna bunga teratai merah putih melambangkan bendera Indonesia.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini