Mengenang Gus Solah

Terakota.id – Perjumpaan saya dengan para “pendekar” ialah ketika saya diajak Pak Sulastomo (Mas Tom, almarhum, tak lain Ketua Umum PB HMI) untuk mengatur keseharian “organisasi” yang dikoordinatorinya: Gerakan Jalan Lurus (GJL).

Saya ditunjuk sebagai sekretaris eksekutif alias kapala kantornya. Kegiatannya rapat mingguan para pengurus, plus mendesain acara acara diskusi. Sekira itu tahun akhir 2001.

Sebagai orang yang paling muda alias yang paling unyu-unyu di antara para senior, tentu sepertilah saya ada di tepian sumur ilmu: setiap perhelatan dengan para pendekar itu, sepertilah saya sedang menimba ilmu dan, tentu juga, pengalaman hidup.

Gus Solah ialah salah satu tokoh yang rajin ikut diskusi dan rapat-rapat. Kelompok epistemik GJL langsung terbentuk: ada Mas Tom, Pak Harry Tjan Silalahi, Pak Solichin, Pak Soelarso, Pak Soemarno Dipodisastro, Pak Listiyanto, Pak Adham Arsyad, Pak Jusuf Sjakir, Pak Winarno Zain, Pak Kiki Syahnakri, Bu Rosita Noer, Mas Tommy Legowo, Mas J Kristiadi, Pak Sjahrial Djalil, dan yang lain. Ada pula Cak Nur yang sempat berpidato ketika peresmian GJL dan Buya Syafii Maarif juga sering terlibat diskusi. Masih banyak lagi.

Spektrum Mas Tom di GJL luas, lintas agama dan kelompok. Dan, kami saling berbagi gagasan tentang masalah-masalah kebangsaan atau Keindonesiaan. Nama “Jalan Lurus” sendiri memang mengesankan “klaim” yang sangat percaya diri. Tapi Mas Tom selalu meyakinkan, tidak soal dengan nama itu dan tidak merasa “keberatan nama”. “Yang penting niat kita untuk memperkaya khazanah, bertukar pikiran bagi kebaikan bangsa,” ujarnya suatu ketika.

Salah satu seminar yang diselenggarakan GJL sekira tahun 2003 pembicaranya Buya Syafii Maarif, Gus Solah, Pak Kiki Syahnakri, dan Mas J Kristiadi. Yang dibahas masalah-masalah kebangsaan. Tentulah saya sekadar moderator, mengampu jalannya diskusi. Sebagai moderator saya harus atraktif supaya diskusi semarak. Ragam joke saya lontarkan, dan tak segan saya hentikan penanya yang bertele-tele. Saya masih ingat pujian Buya Syafii. “Anda moderator hebat,” katanya. Gus Solah senyum-senyum.

**

Dalam setiap kesempatan bertemu, Gus Solah punya pertanyaan template ke saya. “Dik Alfian sedang nulis apa?”

Lalu kami berbagi gagasan. Gus Solah termasuk yg sering mengapresiasi tulisan-tulisan saya. Opini-opini di Kompas atau suratkabar lain. Kebetulan waktu itu saya sudah punya kolom tetap di Harian Pelita. Namanya Pelita Hati. Rubrik ini pernah dihuni para kolumnis agung: Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, Quraish Sihab; selain juga Abdul Gafur.

Di sisi lain Mas Tom juga mengajak saya sebagai Dewan Redaksi majalah Amanah bersama Mas Gambar Anom. Dari sini saya terbiasa rapat mencari tema aktual sebagai laporan utama tentang umat dan bangsa. Saya menulis rubrik ragam, membahas tema khas, misalnya tentang sejarah atau tokoh. Saya juga menulis kolom tentang haji. Saya belajar banyak di sini.

Kembali ke Gus Solah, beliau itu tipe penulis pemikir yang rasional, pandai mendudukkan masalah, memberi perspektif dan menyisakan harapan ke pembaca. Kalau kita simak ragam tulisannya, terasa adanya informasi yang diceknya benar-benar. Lantas diurutkannya peristiwa dengan diberi titik-titik tekan. Dari situ dia susun narasi argumentasi yang mengena, tetapi bijak.

Dalam perkembangannya Gus Solah juga diminta Mas Tom, yang juga pimred Harian Pelita ketika itu, untuk turut menulis di kolom Pelita Hati. Maka formasi baru para kolumnis terbentuk. Yakni, Pak Amir Santoso, Pak Sulastomo, saya, Gus Solah, dan Pak Nazaruddin Umar. Bertahun-tahun kami setia mengisi kolom tersebut. Saya hadir setiap Jumat di kolom itu sejak Januari 2000.

*

Pada suatu hari saya membeli baju batik. Di gerai batik itu saya sengaja cari motif yang saya pikir tak akan ada orang yang menyamainya. Dalam suatu seminar GJL, batik baru itu saya pakai dengan yakinnya. Tak tahunya baju batik saya itu, sama persis dengan yang dikenakan Gus Solah.
“Wah rupanya, walaupun tidak kencan, baju kita sama nih …” komentar Gus Solah sambil tertawa.

Yang lain menggoda, “Wah, ini seperti orang kembar …”

Dan merebaklah tawa.

*

Setahun lalu Gus Solah bertandang ke kampus Unas Ragunan. Di situlah kebetulan saya berkantor. Hadir sebagai tamu ujian terbuka doktoral Prof. Umar Basalim, lagi lagi Gus Solah nanya, “Lagi nulis apa sekarang?”

Karena ditanya soal menulis, tiba-tiba saya ingat buku saya.

“Gus, saya punya buku tentang pengalaman saya menulis di media massa. Boleh nggak kapan kapan sy sowan ke Tebu Ireng menularkan ke para santri pengalaman menulis saya?”

“Oh monggo, kami senang sekali …”

Belum sempat menundaklanjuti keinginan saya itu, alangkah kaget dan sedihnya saya mendengar berita Gus Solah wafat dan kemarin telah dimakamkan.

Innalilahi wa inna ilaihi rojiun. Al Fatihah.

Jakarta, 4 Februari 2020

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini