Mengenang Ang Hien Hoo, Wayang Orang Etnis Thionghoa (2-habis)

Pertunjukan wayang orang dengan lakon Anoman Obong di aula klenteng Eng An Kiong, Malang, Jawa Timur, Senin 22 Februari 2016 malam. Pementasan wayang ini dilakukan dalam rangka memperingati Cap Gomeh atau hari ke -15 setelah Tahun Baru Imlek. (Aris Hidayat/Terakota)

Menjuarai Berbagai Festival Wayang Orang

Sebagian besar pemain wayang orang Ang Hien Hoo, katanya, merupakan warga keturunan thionghoa yang lahir dan tumbuh di Indonesia. Mereka lebih akrab berkomunikasi dalam bahasa Jawa dan mengenal ada istiadat dan tradisi Jawa.  Sehingga saat bermain wayang orang, mereka bisa menjiwai karakter dan berdialog dengan baik.

Kepiawaian bertutur dalam setiap adegan dengan bahasa jawa halus, tak terlepas dari campur tangan Suryadi. Seorang sastrawan Jawa asal Malang yang mengoreksi dan memperbaiki setiap dialog dalam pewayangan. Apalagi kesenian wayang orang juga memberikan tuntutan sehingga setiap dialog harus benar. “Setiap dialog memiliki arti dan mengandung falsafah jawa yang tinggi,” katanya.

Apalagi, sebagian dialog disampaikan dalam bentuk tembang. Selain merdu juga harus sesuai dengan karakter tokoh yang diperankan.  Wayang Orang Ang Hien Hoo juga sempat menjadi juara dua dalam festival wayang orang di Solo pada 1961. Mereka mementaskan wayang berjudul “Karna Tanding.” Yakni cerita epos Mahabarata yang menceritakan peperangan antara Adipati Karna yang berada di barisan Kurawa melawan Arjuna (Pandawa) yang juga saudaranya.

Dia meyakini, Suryadi berperan besar dalam pementasan wayang orang Ang Hien Hoo tersebut. Sebab, selain tarian dan alunan gamelan, tata bahasa juga menjadi faktor penting dalam penilaian. Saat itu, katanya, peserta festival dari berbagai kota di seluruh Indonesia. Mereka bermain maksimal, bahkan wayang orang dari Solo juga menjadi pesaing terberatnya. Chambali juga bangga bisa mengikuti festival, selain merebut juara dua juga bisa bertemu artis wayang orang idolanya, Retno Maruti asal Solo.

Tropi juara dua wayang orang itu, sempat disimpan di lemari pengurus. Namun, karena renovasi bangunan sebanyak tiga kali sejumlah barang berharga hilang. Termasuk tropi wayang orang Ang Hien Hoo. Chambali berusaha mencari, namun sampai sekarang tak juga ketemu. Kini, hanya sebuah bendera bertulis logo dan nama wayang orang Ang Hien Hoo yang tersimpan di ruang pengurus Perkumpulan Sosial Panca Budhi.

Persiapan menjelang ertunjukan wayang orang dengan lakon Anoman Obong di aula klenteng Eng An Kiong, Malang, Jawa Timur, Senin 22 Februari 2016 malam. Pementasan wayang ini dilakukan dalam rangka memperingati Cap Gomeh atau hari ke -15 setelah Tahun Baru Imlek. (Aris Hidayat/Terakota)

Mengubur Trauma

Tak banyak dokumen dan data tentang Wayang Orang Ang Hien Hoo yang tersimpan di dalam Perkumpulan Sosial Panca Budhi. Sulit melacak masyarakat thionghoa dalam berkesenian tradisi wayang orang. Termasuk tak ada foto dan buku yang menerangkan kiprah Ang Hien Hoo. Hanya sebuah buku peringatan satu abad perkumpulan sosial panca budhi d/h Ang Hien Hoo. Itu pun berupa tulisan sambutan pengurus perkumpulan, yang menerangkan sejarah perkumpulan sosial Panca Budhi. Termasuk sekelumit tulisan tentang wayang orang Ang Hien Hoo. Namun tak ada tulisan yang khusus menerangkan wayang orang yang sempat menjadi primadona di jamannya.

“Mungkin dokumen dan foto hilang saat 1965,” katanya. Saat itu, semua kesenian mati tak ada yang berani tampil. Sejumlah seniman yang disangka terlibat partai terlarang Partai Komunis Indonesia. Sehingga banyak kesenian yang mati, mereka takut tampil atraktif di depan publik. Termasuk wayang orang Ang Hien Hoo dipaksa mati, saat namanya terkenal dan menjadi idola.

Tak hanya wayang orang Ang Hien Hoo, Ketua perkumpulan sosial Ang Hien Hoo, Siauw Giok Bie juga menjadi tahanan politik setelah peristiwa September 1965 meletus. Dia dihukum tanpa proses peradilan.  Siauw menjadi Ketua mulai 1968-1965. Namun tak ada foto dan keterangannya di dalam ruang pengurus perkumpulan. Meski sejumlah foto Ketua perkumpulan lainnya dipajang di tembok, terbingkai rapi lengkap dengan keterangan lama memimpin perkumpulan.

Sejak saat itu, perkumpulan Ang Hie Hoo bersalin nama menjadi Panca Budhi. Sejumlah kesenian tradisi tak ditampilkan, juga tak ada latihan di dalam aula gedung perkumpulan. Termasuk kesenian wayang orang Ang Hien Hoo, bahkan sebagian pemainnya memilih menutup diri dan tak beraktivitas di kesenian.  “Menghilangkan ingatan dan memusnahkan dokumen adalah cara mengubur trauma,” kata budayawan sekaligus guru besar sastra Universitas Negeri Malang, Djoko Saryono.

Setelah tragedi 1965, katanya,  kesenian tradisi seperti Barongsai, dan Liang Liong tak pernah muncul di depan publik. Termasuk kesenian tradisi yang dimainkan oleh keturuan etnis thionghoa. Kemudian, katanya, keturunan etnis thionghoa dibelokkan hanya piawai bisnis dan dilarang berkesenian.

“Apalagi kesenian dicitrakan negatif.  Dibenturkan antara religi dengan kultural,” katanya. Seperti kesenian ludruk, kesenian  teater tradisional yang seluruh pemainnya laki-laki dianggap menyuburkan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Sehingga memukul para seniman untuk berkesenian, mereka takut dan enggan tampil di depan publik.

Chambali bersama pengurus perkumpulan sempat membangkitkan kembali wayang orang Ang Hien Hoo. Gamelan dikeluarkan dari gudang, para seniman diajak berlatih bermain wayang orang. Mereka menggandeng anak muda untuk belajar menari, nembang dan memainkan gamelan. Namun, wayang Ang Hien Hoo yang bersalin nama menjadi wayang orang Panca Budhi tak bertahan lama. Sekitar dua tahun, wayang orang yang juga dimainkan  warga etnis thionghoa gulung tikar.

Chambali berharap pemerintah meniru Pemerintahan Republik Rakyat Cina yang mendorong kesenian dan budaya asli Cina dipertahankan. Pemerintah memberikan berbagai fasilitas dan kemudahan. Para seniman diberi dana cukup untuk menggelar pertunjukan, merawat alat dan berkolaborasi dengan seniman lain. “Siapapun yang belajar dibiayai pemerintah,” kata Chambali.

Sementara itu, sejarawan Universitas Negeri Malang Mudzakir Dwi Cahyono menjelaskan jika sebelum 1965, kesenian tradisi marak karena ada bingkai politis tak hanya kompetitif antar kesenian. Setiap partai politik saat itu, katanya, mendirikan lembaga seni budaya tujuannya untuk mencari pengaruh guna mendulang suara dalam Pemilu. Kesenian juga dianggap efektif untuk menyampaikan pesan ideologi partai politik kepada calon pemilih.

Termasuk wayang orang Ang Hien Hoo diuntungkan karena situasi politik saat itu. Terutama Presiden Sukarno juga sosok tokoh yang mencintai kesenian tradisi. Sehingga beragam kesenian tumbuh subur. Namun, Dwi Cahyono tak memiliki jawaban pasti kenapa masyarakat thionghoa memilih bermain wayang orang dibanding kesenian yang lain. “Mungkin karena wayang orang dianggap adi luhung, gerak dan bahasanya halus,” katanya.

Dwi juga menduga kecintaan warga etnis thionghoa kepada kesenian wayang orang karena karena banyak pedagang cina yang berteman dengan pejabat kerajaan. Mengingat kesenian wayang orang awalnya merupakan pertunjukan di dalam istana kerajaan.  Akulturasi budaya Cina-Jawa juga memicu persilangan budaya. Seperti wayang potehi atau wayang titi, kesenian tradisi Cina dimainkan oleh orang Jawa. Termasuk Liang Liong, kesenian ini sering dipertunjukkan oleh orang Jawa dalam setiap perayaan ulang tahun kemerdekaan 17 Agustus.

Kini, aula perkumpulan Panca Budhi tampak lengang tak ada lagi aktivitas kesenian dan olahraga.  Lantai dasar gedung yang menjadi rumah persemayaman jenazah ini menjadi tempat penyimpanan peti jenazah. Sedangkan di lantai dua terdapat sejumlah altar untuk menyimpan abu jenazah. Di sudut ruangan di lantai dua ini, sekaligus menjadi tempat penyimpanan atau bersemayamnya gamelan yang digunakan wayang orang Ang Hien Hoo. (Habis)(EW)

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini