Mengenang Ang Hien Hoo, Wayang Orang Etnis Thionghoa (1)

Sejumlah karung lusuh berjajar di dalam sudut gudang Perkumpulan Sosial Panca Budi Jalan Laksamana Martadhinata 70 Kota Malang. Karung berisi piranti gamelan terdiri dari kendhang, bonang,  damung, gong, kenong ini tak terawat. Sejak medio 1990-an seluruh piranti gamelan disimpan, tak pernah dimainkan. Padahal gamelan ini merupakan salah satu saksi bisu sejarah kejayaan Wayang Orang Ang Hien Hoo.  “Bagaimana lagi, tak ada yang memainkan. Tak ada niatan untuk dijual. Disimpan saja,” kata staf Perkumpulan Panca Budhi, Chambali Suwito, 62 tahun.

Chambali bukan pagawai biasa, dia juga terlibat dalam perjalanan kelompok wayang orang Ang Hien Hoo. Menurut penuturan bapaknya, Soemito yang bekerja di  organisasi sosial bidang kematian Ang Hien Hoo, Wayang Orang Ang Hien Hoo berdiri 1957.  Setiap hari. tak  banyak aktivitas kerja terutama saat tak ada persemayaman atau perawatan jenazah. Untuk mengisi waktu  luang, awalnya mereka menyewa gamelan dan memainkan alat musik pukul itu secara bersama-sama.

“Tapi kok kurang lengkap tanpa karawitan, sampai dilengkapi dengan tarian. Terbentuklah wayang orang,” katanya. Mereka membentuk kelompok kesenian wayang orang yang dipimpin Liem Ting Tjwan. Saat itu, Chambali tak berdiam diri dia mengikuti aktivitas berkesenian bapaknya. Dia memegang alat musik pukul bonang, telaten belajar bersama para seniman lainnya. Pelatih Suprapto menggelar latihan gamelan berlangsung malam hari, sehingga tak menganggu waktu sekolah.

Tak hanya suka bermain gamelan, kolaborasi tari, musik dan tembang saat latihan wayang orang sekaligus hiburan bagi warga Malang. Mereka menonton saat para pemain wayang orang berlatih. Maklum saat itu tak banyak hiburan di Kota Malang.  Atraksi kesenian tradisi seperti wayang orang menjadi salah satu hiburan bagi hiburan bagi warga Malang saat itu. Latihan diselenggarakan di aula gedung perkumpulan sosial Ang Hien Hoo. Selain untuk latihan wayang orang, aula juga untuk berlatih bulu tangkis dan catur dan olahraga lainnya.

Pemeran Wayang Orang Ang Hien Hoo tengah merias diri sebelum tampil. (Foto: Aris Hidayat/Terakota)

Pementasan untuk Amal

Tak hanya puas latihan bersama wayang orang. Mereka juga melakukan pementasan untuk penggalangan dana amal. Seperti saat Gunung Kelud meletus pada 1965, Wayang Orang Ang Hien Hoo tampil di Gedung Kesenian Cendrawasih sekarang bernama Gedung Kesenian Gajayana. Seluruh tempat duduk berjumlah sekitar 500 kursi penuh terisi penonton. “Seluruh hasil penjualan tiket diberikan untuk korban bencana alam,” katanya.

Pementasan Ang Hien Hoo, katanya, tak pernah dilakukan untuk mencari keuntungan. Semua dilakukan untuk kepentingan sosial. Saat itu jumlah pemain sebanyak 90 orang, sekitar 90 persen merupakan warga etnis thinghoa.  Juga diundang organisasi kemasyarakatan untuk tampil menghibur. Saat itu, sejumlah kelompok wayang orang etnis thiongho juga bermunculan di Surabaya, Semarang dan Solo.

Pementasan berlangsung selama 2,5 jam, penonton antre untuk membeli tiket. Wayang orang Ang Hien Hoo langsung melejit menjadi primadona. Bahkan, Presiden Sukarno mengundang wayang orang Ang Hien Hoo di istana merdeka pada 1962. Presiden Sukarno mengundang wayang orang Ang Hien Hoo karena salah satu wayang orang yang beranggotakan warga keturunan thionghoa.

Mereka bermain selama 2,5 jam, namun Chambali lupa cerita atau lakon yang dipentaskan di depan orang nomor satu di Indonesia kala itu. Presiden Sukarno, katanya, jeli dan teliti melihat riasan masing-masing karakter wayang. Bahkan, Bung Karno mengoreksi dan memperbaiki riasan sejumlah karakter tokoh wayang orang.

“Presiden Sukarno memperbaiki riasan, kurang ini, kurang itu,” ujarnya. Menurutnya, Sukarno merupakan tokoh besar yang mengerti seni budaya tradisi.  Dia mengaku bangga dan senang bisa tampil di hadapan Presiden Sukarno. Meski awalnya, sempat canggung dan gerogi. Namun, untuk tampil terbaik dia dan seluruh pemain wayang orang Ang Hien Hoo berhasil tampil maksimal. Presiden Sukarno juga memuji tampilan penampilan seluruh pemain wayang orang.

“Pesan Bung Karno, teruskan kesenian tradisi wayang orang jangan sampai mati,” kata Chambali. Mereka berfoto bersama, bahkan Presiden Sukarno terpesona dengan salah seorang primadona wayang orang bernama Ie Kiok Hwa.  Presiden Sukarno menghadiahi remaja yang akrab disapa Nelly Ie, sebuah nama Ratna Djuwita. Bung Karno juga mengangkat Ratna Djuwita sebagai anak. Nama pemberian Bung Karno terus melekat sampai akhir hayat. Seperti iklan kematian di salah satu surat kabar local di Malang, Ratna Djuwita meninggal  3 Juni 2013 pada usia 77 tahun.

Ratna merupakan anak pasangan seniman wayang orang asal Surabaya. Ratna dan orang tuanya , kata Chambali, bermain di teater wayang orang Sarutomo Surabaya. Saat pementasan wayang orang di Surabaya sepi, mereka pindah ke Malang dan bergabung dengan Ang Hien Hoo. “Tarian dan karakter Ratna sudah terbentuk,” katanya. (bersambung)

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini