Mengenang Akhir Hidup Putra Sang Fajar

mengenang-akhir-hidup-putra-sang-fajar
21 Juni 1970 pukul 07.00 WIB, Bung Karno mengembuskan nafas terakhir. (Infografis : Nanda Dwika).

Terakota.id–Presiden Sukarno meninggal pukul 07.00 WIB, 21 Juni 1970, sang Proklamator menjemput maut setelah lima tahun melawan penyakit gagal ginjal. Hari ini kita mengenang Bung Karno, Sang Proklamator. Putra Sang Fajar. Bapak Bangsa ini meninggal saat menjadi tahanan rumah di Wisma Yaso Jakarta (Sekarang Museum Satria Mandala). Bung Karno dikucilkan dari rakyat, bahkan keluarga sulit membesuk. Harus mendapat izin dari otoritas berwenang.

Cindy Adams dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah menulis Bung Karno berwasiat dimakamkan “di bawah pohon yang rindang, dikelilingi alam yang indah, di samping sebuah sungai dengan udara segar dan pemandangan bagus. Aku ingin beristirahat di antara bukit yang berombak-ombak dan di tengah ketenangan. Benar-benar keindahan dari tanah airku yang tercinta dan kesederhanaan darimana aku berasal. Dan aku ingin rumahku yang terakhir ini terletak di daerah Priangan yang sejuk, bergunung-gunung dan subur, di mana aku pertama kali bertemu dengan petani Marhaen.”

Asvi Warman Adam dalam buku Bung Karno Dibunuh Tiga Kali menulis di mana Sukarno dimakamkan. “Di dalam salah satu wasiat itu dicantumkan tempat makam Bung Karno, yakni di bawah kebun nan rindang di Kebun Raya Bogor,” tulis Asvi.

mengenang-akhir-hidup-putra-sang-fajar
Ribuan orang mengantar jenazah Bung Karno menuju lokasi pemakaman di Blitar, 22 Juni 1970. (Foto : Repro Cindy Adams, Sukarno My Friend).

Istri Sukarno, Ratna Sari Dewi Soekarnoputri menulis surat kepada Presiden Soeharto April 1970. Ia memprotes proses tahanan rumah Bung Karno yang dianggap membunuh Sukarno secara perlahan-lahan. Berikut lembar terakhir surat yang ditulis di Paris April 1970.

“Bapak Soeharto, Soekarno sungguh-sungguh mencintai negara dan rakyatnya. Termasuk pula mereka, yang berniat untuk membunuhnya, bisa dia dekati dengan lembut bila mereka minta maaf. Dibandingkan dengan beliau, Anda menyimpan hati yang kejam di balik senyum Anda. Anda telah menyuruh membunuh ratusan ribu orang.

Bolehkah saya bertanya sekali lagi, ‘Apakah Anda tidak mampu mempertahankan posisi dan kekuasaan Anda kecuali dengan kelicikan dan pertumpahan darah?’ Barangkali kesalahan Anda terbesar adalah, tidak segera menyuruh membunuh Soekarno tahun 1965 itu. Dengan mudah Anda bisa menuduh para komunis melakukan pembunuhan itu. Bila Anda mau, dengan cara itu Anda bisa mencegah dilakukannya pembunuhan massal pada rakyat. Dan sementara itu pula, Anda bisa mempertahankan kedamaian jiwa jutaan pengagum Soekarno.

Para pengagum yang sekarang hanya bisa memandang tanpa daya nasib yang menimpa pemimpin mereka. Selanjutnya akan sia-sia saja melampiaskan rasa rendah diri Anda terhadap Soekarno. Itu akan merupakan kematian yang lebih terhormat bagi Pemimpin Besar Revolusi, daripada seperti sekarang disiksa sampai dijemput maut. Merupakan aib nasional untuk Indonesia bahwa Soekarno tidak diperlakukan dengan lebih terhormat yang patut diterimanya setelah mengabdikan seluruh hidupnya bagi nusa dan bangsanya. Izinkanlah saya mengakhiri surat ini dengan menyatakan sekali lagi kesetiaan saya yang mendalam untuk Bapak kita. Hidup Bung Karno! .”

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini