Mengenal Instrumen Tradisi Nusantara di Museum Musik Indonesia

Pemandu Museum Musik Indonesia Anang Maret Tri Basuki menjelaskan piringan hitam kepada para siswa SD Plus At Taqwa. (Terakota/ Wulan Eka).

Theng..theng..theng..thong..thong…thong..theng..thong…thong..theng..theng..

Terakota.idRiuh, beragam instrumen musik menggema di lantai dua Gedung Kesenian Gajayana Kota Malang.  Puluhan pelajar sekolah tengah memainkan beragam instrumen musik pukul, tiup dan petik koleksi Museum Malang Indonesia (MMI) bersemayam. Berlokasi di  Jalan Nusakambangan Nomor 19, Kota Malang.

Puluhan siswa berseragam dan mengenakan topi tampak antusias mencoba memainkan aneka instrumen musik koleksi MMI. Sebagian khusyu menyimak penjelasan pemandu museum, Anang Maret Tri Basuki.

“Ini alat musik Sasando berasal dari Nusa Tenggara Timur. Masuk kategori kordofon karena berdawai, cara mainnya dipetik,” ujar Anang menjelaskan.

Anang menambahkan daun lontar pada alat musik Sasando fungsi utamanya sebagai hiasan. Ketika daun lontarnya dibuka, permukaannya akan menampung suara. “Resonansinya lebih indah, suara lebih keras,” tambah Anang.

Siswa SD Plus At Taqwa duduk meriung bersama Ketua Museum Musik Indonsia Hengky Herwanto sembari mendengarkan lagu anak-anak era 1970-an sampai 1980-an. (Terakota/ Wulan Eka).

Lantas para pelajar menyalin penjelasan Anang di atas lembaran buku catatan sekolah. Sebanyak 35 siswa kelas 4 SD Plus At Taqwa, Lamongan tengah mengunjungi MMI. Didampingi empat guru, selama kurang lebih dua jam mereka berkunjung dan mengulik dunia musik, Rabu, 10 Maret 2021.

“Biar anak-anak ini lebih riil, melihat langsung museum yang menyediakan alat musik daerah. Harapannya anak-anak bisa praktik langsung,” ujar salah seroang pendidik SD Plus At Taqwa, Lathifatuz Zulfa.

Zulfa menceritakan siswa yang diajarkannya mengalami kejenuhan pasca sekolah daring. Kegiatan belajar di luar kelas menurutnya dapat menjadi solusi untuk kembali memacu semangat belajar siswa.

Kegiatan kunjungan museum kali ini menjadi metode pembelajaran praktikum mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBDP). Ttempo lagu, ragam lagu daerah, alat musik tradisional menjadi fokus yang mereka kulik.

Siswa disambut dengan beragam lagu anak-anak dari kaset dan piringan hitam yang menggema di seluruh ruangan. Ketua MMI Hengki Herwanto sengaja memilih memutar lagu anak-anak tahun 1970-an dan 1980-an.  Menurutnya saat ini Indonesia dalam masa darurat lagu anak.

Siswa SD Plus At Taqwa melihat dan memainkan beragam instrumen musik di Museum Musik Indonesia. (Terakota/ Wulan Eka)

“Anak-anak lebih kenal lagu dewasa. Secara psikologis anak belum layak mendengar syair seperti itu, khawatirnya mempengaruhi perkembangan dirinya,” ujar Hengki.

Protokol kesehatan diterapkan selama kunjungan. Mereka wajib mencuci tangan, memakai masker. MMI telah kembali buka kunjungan sejak Agustus 2020. Kunjungan bisa secara pribadi maupun rombongan. Dipersilakan bertandang. Khusus kunjungan rombongan, diwajibkan memesan terlebih dahulu.

Menilik Koleksi Alat Musik Daerah Koleksi MMI

MMI sampai 2019 tercatat memiliki lebih dari 100 item instrumen tradisional nusantara. Meliputi instrumen Terbang Gede dari Banten, Gambus Pagun dari Kalimantan Utara. Sapek dan Jimbe dari Kalimantan Timur, Heron dari Sumatera Selatan. Celempung dari Jawa Barat, Bangsi dari Sumatera Utara. Kompang dari Riau, Serangko dari Lampung hingga Tifa dari Maluku Utara.

Instrumen dipajang di satu sudut ruang terpisah. Pengunjung diizinkan memainkan alat musik dengan didampingi pemandu museum.  Koleksi digolongkan berdasar sumber bunyinya, idiofon (dari bahan dasarnya), membrafon (dari selaput/membran). Aerofon (dari hembusan udara), kordofon (dari getaran dawai) dan  elektrofon (dari tenaga listrik).

“Alat musik daerah mulai dikoleksi sejak 2015. Pada 2016 MMI memperoleh sumbangan dari 40 walikota yang menghadiri acara Apeksi di Malang. Setelah itu semakin bertambah,” ujar Hengki memungkasi wawancara.

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini