Mengembalikan Perpustakaan sebagai Ruang Kreasi dan Inovasi

Djoko Saryono mengkhawatirkan perpustakaan akademis di perguruan tinggi dan sekolah terancam gulung tikar. Karena tak segera berbenah dan memenuhi kebutuhan dan tuntutan zaman. Bersyukur, katanya, hadir perpustakaan pribadi dan perpusatakaan alternatif. “Setiap perubahan ada celah kemungkinan seribu kemustahilan,” ujarnya.

Mengembalikan Perpustakaan sebagai Ruang Kreasi dan Inovasi

Terakota.id–Tradisi mencatat dan menulis dimulai pada 7 ribu tahun sebelum Masehi oleh Bangsa Sumeria. Terutama sejak ditemukan aksara dan angka, oleh dua petani yang tengah menghitung utang. Lantas kedua petani menulisnya dalam angka dan aksara paku.

“Sejak ditemukan angka dan aksara, literasi dimulai. Penggeraknya petani, buka cendekiawan,” kata Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang, Profesor Djoko Saryono, dalam diskusi mengelola perpustakaan dan pengarsipan dalam Pameran Malang Sejuta Buku, Ketemu Buku #2 di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Ahad 22 Oktober 2017.

Guru besar sastra Indonesia ini menyebutkan jika kegemaran menulis angka dan aksara itu bisa dipisahkan. Literasi, katanya, merupakan ibu kandung kebudayaan. Meski tradisi lisan berkembang di nusantara, namun proses kreasi dan produksi dimulai dari membaca dan menulis. “Tradisi lisan itu hasil  kebudayaan. Penyebarannya dilakukan dengan lisan,” ujarnya.

Pada masa lalu, katanya, membaca dan menulis tak maksimal karena rakyat Indonesia mengenal aksara pada abad ke 4 Masehi. Kebiasaan membaca dan menulis tak berkembang luas karena ada pemisahan sosial. Di Kepulauan Kei, katanya, ada tradisi Ngabal. Hanya keluarga tokoh masyarakat yang boleh membaca undang-undang .

“Sampai hari ini pengeramatan ritual lisan lebih kuat, daripada menulis,” ujarnya. Namun, seiring perkembangan zaman bakal tergerus kemajuan teknologi. Sehingga pengeramatan ritual lisan juga bakal memudar. Seperti kitab suci, kini banyak umat muslim yang membaca Al Quran dengan gawai tak lagi membawa kitab suci secara fisik. Percetakan dan perdagangan Al Quran bakal merosot.

“Kita sekarang dikepung teknologi digital,” ujarnya.

Djoko menjelaskan jika museum memiliki makna kuil, tempat kegiatan spiritual atau tempat untuk beraktivitas yang halus. Museum juga menjadi tempat intelektualitas. Ketika makna museum kuat, katanya, perpustakaan menjadi bagian dari museum. Sedangkan belakangan museum menjadi bagian perpustakaan karena museum untuk simpan dan koleksi barang berharga.

“Hari ini museum dan perpustakaan berbeda. Sehingga perlu bersinergi dan mendukung,” kata Djoko. Peran perpustakaan sebagai tempat belajar dan penciptaan hilang hanya menjadi tempat pelayanan, melayani buku. Padahal, katanya, perpustakaan merupakan ruang mencipta, relaksasi dan belajar.

Perpustakaan juga harus menjembatani berbagai komunitas. Ruang belajar bersama komunitas baik perupa, pelukis, musisi, dan komunitas lain. Jika dalam era digital perpustakaan hanya menjadi tempat penyimpanan buku, maka akan tertinggal dan digantikan teknologi. Apalagi teknologi digital telah menyebabkan beragam profesi mati diambil alih secara otomatis digital.

“Jika perpustakaan hanya tempat dokumentasi akan kalah dengan digital. Tak akan didatangi orang,” ujarnya. Sehingga era digital menjadi tantangan terbesar bagi dunia pustaka. Jika perpustakaan tak dibutuhkan bakal ditinggalkan.

“Perpustakaan itu dunia kreasi. Perpustakaan jadi ruang cipta membuat buku, bukan koleksi dan dokumentasi buku,” ujarnya. Dia berharap perpustakaan menjadi ruang interaksi, rekreasi, relaksasi dan edukasi. Jika semua sudah terpenuhi, maka perpustakaan akan menjadi ruang kreasi dan inovasi. Sehingga tradisi literasi bakal bisa diteruskan.

Djoko mengkhawatirkan perpustakaan akademis di perguruan tinggi dan sekolah terancam gulung tikar. Karena tak segera berbenah dan memenuhi kebutuhan dan tuntutan zaman. Bersyukur, katanya, hadir perpustakaan pribadi dan perpusatakaan alternatif. “Setiap perubahan ada celah kemungkinan seribu kemustahilan,” ujarnya.

Sebuah peradaban, katanya, akan musnah karena dihancurkan kebudayaan dan literasi. Seperti yang dialami peradaban suku maya dan Alexandria. Pemusnahan buku atau pelarangan buku, katanya, dilakukan oleh orang yang mengetahui perbukuan. Mereka melakukan pemberangusan karena ada kepentingan dan menutup sesuatu.

Generasi Zombie

DISKUSI. Kepala Perpustakaan Universitas Negeri Malang Djoko Saryono, Pendiri Pataba Soesilo Toer dan pendiri Ruang Baca Aqil Willy Ariwiguna dalam diskusi perpustakaan. Diskusi dalam rangkaian Pameran Sejuta Buku, Ketemu Buku #2 di Taman Krida Budaya Jawa Timur. (Terakota.id/Eko Widianto)

Sementara pengelola Ruang Belajar Aqil Lowokwaru Malang, Willy Ariwiguna mengakui jika kesadaran belajar di masyarakat hilang diganti dengan televisi dan gawai. Lantaran secara visual lebih menarik. Sehingga perustakaan harus berubah lebih banyak menjadi lembaga pembelajar. Program yang dijalankan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Masyarakat butuh keterampilan cara membuat tempe. Kita adakan pelatihan membuat tempe,” ujarnya. Sehingga perpustakaan berfungsi untuk membaca teks dan fenomena. Dia mengaku memulai dengan menggandeng anak muda.

“Jalan sendiri di jalan kegelapan yang terang. Muncul generasi zombie, sibuk dengan gawai sendiri. Generasi menyeramkan,” ujarnya. Untuk itu, perpustakaan tak hanya dibutuhkan bangunan megah, tetapi harus memiliki fungsi, dan ada actor yang berperan untuk meneruskan ilmu pengetahuan.

“Nenek saya mewariskan dua lemari buku catatan. Berisi catatan kejadian penting, sejarah, resep masakan dan tata cara menjahit. Ini menjadi harta keluarga,” katanya. Dia membangun perpustakaan secara kolaboratif dengan berbagai komunitas di Yogyakarta dan Bandung.

“Menyusun pengetahuan yang terserak tak bisa sendiri. Jalan-jalan setahun, untuk tahu kebutuhan masyarakat,” katanya.  Kini, dia telah menggelar beragam kegiatan dan pelatihan di sejumlah tempat di sekitar Malang mulai dari Kota Malang, Kalipare, dan Bantur. Sampai keluar Kota seperti Sidoarjo.

Pendiri Gubuk Cerita, Ragil Cahya Maulana menilai jika saat ini masyarakat tak menempatkan pengetahuan dan buku sebagai kebutuhan. Sehingga tak menyediakan anggaran untuk belanja buku. “Tak ada Kebutuhan pengetahuan. Merasa tak perlu belanja buku,” ujarnya.

Selain itu, juga karena masalah masa lalu sejumlah buku dilarang. Sehingga masyarakat menjadi takut berpengetahuan. Dia menyebutkan jika ada pemimpin korup baik secara moral dan administrasi akan melarang orang berpikir dan membaca buku karena membahayakan kekuasaan.

“Usai peresmian gedung perpustakaan nasional 27 lantai. Disusul pembubaran diskusi di mana-mana,” ujarnya. Saat larangan membaca buku tertentu, katanya, sementara saat yang sama menganjurkan untuk rajin membaca buku.

Sementara pendiri Perpustakaan semua Anak Bangsa (Pataba) Blora, Soesilo Toer menyediakan buku bacaan dan ruang layaknya rumah sendiri. Disediakan sekitar 10 ribu eksemplar beragam buku, termasuk buku karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Pram adalah kakak kandung Soesilo Toer.  “Saya adik ke enam dari Pram,” katanya.

Para pengunjung, katanya, disediakan makan dan minum. Bahkan jika bermalam, pengunjung juga dipersilahkan tidur di kamar yang dulu dihuni Pram. Pataba, katanya, juga menjadi ruang diskusi dan berinteraksi dengan pemuda Blora.

 

 

 

 

 

 

 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan