Mengapa Minke Menjadi Minke yang Seperti Itu?  

Repro sampul buku Bumi Manusia

Terakota.id–Kadang, saya bertanya: apa yang menjadikan seorang karakter atau tokoh dalam fiksi sebagaimana adanya dirinya? Apakah itu hasil kesewenang-wenangan pengarang? Sampai taraf tertentu, tentu saja begitu. Sang pengarang memiliki ‘kebebasan’ untuk membentuk dan mengarahkan tokoh-tokoh beserta nasib mereka. Pengarang bebas menggunakan imajinasinya untuk menentukan awal, pertengahan, dan akhir dari suatu karakter—juga bila karakter yang dikembangkannya adalah tokoh historis, asal dia mau membuat penafian di awal yang menjelaskan hal itu.

Terkait dengan hal yang baru saja saya sebut, saya teringat pada film Inglorious Basterds (2009) besutan Quentin Tarantino yang mengisahkan kematian pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler, dalam sebuah plot ledakan bioskop tempatnya menonton pemutaran perdana film propaganda nasional. Film itu memberikan akhir yang berbeda bagi sosok Hitler, dan tentu saja menimbulkan pertanyaan serta gugatan dari kalangan pemerhati sejarah. Masakan Hitler mati kena bom? Itu berbeda dengan fakta yang ada. Namun Inglorious Basterds sejak awal adalah sebuah film fiktif dan dari fakta itu saja mestinya dapat ditarik inferensi bahwa yang ditampilkan di sana tidak boleh dipahami sebagai fakta keras. Dalam hal ini, fiksi dalam film Tarantino ini adalah alternatif imajiner sutradara atas peristiwa sejarah.

Namun, sebebas-bebasnya pengarang atau sutradara, tentu dia memiliki batasan. Dan batasan itu berkaitan dengan kewajaran perkembangan tokoh. Ketika tokoh berkembang dengan tidak wajar, tidak logis, tidak masuk di akal, sebagai pembaca kita mesti akan menggugat. Well, menggugat mungkin terlalu jauh. Kita mungkin bisa bertanya: mengapa bisa begitu? Dan kepada siapa kita akan menggugat atau bertanya, selain kepada pengarang, ketika, misalnya, tokoh yang terkenal bebal tiba-tiba penuh welas asih pada sesama dan perhatian pada isu-isu politik yang subtil?

Saya sendiri ingin mencoba menelaah secara “mandiri” mengapa tokoh utama di dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer berkembang menjadi seperti dirinya di dalam opus magnus tersebut. Saya mau tak mau mesti menelaah sendiri karena tidak mungkin bagi saya untuk bertanya kepada pengarangnya, karena sebagaimana kita sudah mafhumi bersama sang pengarang itu telah mati, baik secara harfiah maupun dalam pengertian metaforis.

Mengapa Minke Menjadi Minke?

Minke muda menuntut ilmu di bangku HBS (Hoogere Burgerschool) dan baik oleh ayahnya, yang kemudian menjadi bupati, maupun oleh para guru serta pendidiknya, dia diharapkan akan menjadi seorang priyayi yang mengemban fungsi serupa jembatan penghubung antara pemerintah kolonial dan rakyat (pribumi). Dengan kata lain, Minke dididik dan diarahkan agar menjadi contoh dari berhasilnya politik balas-budi yang sedang digencarkan oleh pemerintah kolonial Belanda setelah mendapat kritik dan serangan keras dari kaum radikal di Belanda.

Namun, alih-alih menjadi sekrup dan baut yang pas dengan dan untuk mesin kolonialisme, Minke justru mencelas dan di waktu kemudian dia menjadi salah seorang pemula dalam mengkritik sistem yang melahirkannya tersebut. Ketika masih menjadi siswa HBS, Minke sudah menjadi penulis, meskipun awalnya adalah menjadi semacam copy-writer iklan.

Menjadi penulis mengandaikan menjadi pemikir dan orang yang diharapkan sekadar menjadi penyambung lidah pemerintah tidak perlu “berpikir” kreatif dan kritis. Penulis adalah orang yang gelisah dan banyak bertanya. Sedangkan untuk menjadi pejabat pemerintah, bertanya adalah tabu, sebab mengikuti dan menjalankan perintah atasan dan aturan lembaga sudahlah cukup.

Perihal menulis ini juga menjadikan Minke kesayangan Nyai Ontosoroh, melebihi siapa pun yang lain, termasuk putranya sendiri. “Menulis adalah pekerjaan keabadian, karena sepintar-pintarnya orang, jika dia tidak menulis dia akan dilupakan,” demikian kurang-lebih pernyataan Nyai Ontosoroh tentang tindakan menulis.

Ilustrasi : @pickled_lily_

Selain menulis, selama duduk di bangku HBS, Minke juga menjadi semacam pedagang atau makelar lukisan dan perabotan kelas atas. Sebagai seorang anak bupati dan pejabat tinggi pemerintah kolonial, yang sangat menjunjung reputasi dan nama baik di atas segalanya, pilihan menjadi pedagang adalah pilihan yang sangat merendahkan, karena mengandaikan pekerjaan kotor yang melibatkan tipu-tipu dan kekeceh uang. Kaum feodal, seperti ayah dan keluarga besar Minke memandang remeh uang dan lebih memandang tinggi nama baik dan kedudukan.

Pilihan Minke untuk mengisi waktu luang di antara belajar di sekolahnya dengan menjadi pedagang, karenanya, jelas bertentangan dengan spirit pendidikan di HBS dan jiwa kepriyayian yang kental di keluarganya. Pemanggilannya ke rumah ayahnya secara paksa di suatu pagi buta tidak saja menunjukkan kemarahan sang patriark pada tingkah sang anak yang “bermain api” dengan janda kaya dari Wonokromo itu.

Pemanggilan paksa itu lebih-lebih merupakan usaha sang ayah untuk mengingatkan Minke pada harapan yang disandangkan di bahunya oleh karena pendidikan yang dienyamnya. Secara sederhana, pemanggilan ke rumah ini, bagi Minke, mengandung makna: berhentilah menulis (berhentilah gelisah, berpikir, dan bertanya—apalagi mempertanyakan penguasa kolonial), berhentilah berusaha di luar cara yang diharapkan, yaitu menjadi pegawai kolonial.

Pertanyaannya adalah: mengapa Minke (bisa) memutuskan untuk mencelas dari harapan dan ‘kewajaran’ sebagai karakter dalam Tetralogi Buru tersebut? Kita dapat dengan agak meyakinkan membeberkan berbagai peristiwa dalam rentang kehidupan Minke yang mendorongnya untuk melakukan tindakan dan memilih sikapnya itu.

Yang pertama, pengalamannya tidak sepenuhnya diterima di lingkungan totok Belanda di sekolahnya, sebagaimana bisa dicontohkan dalam pemberian nama panggilan Minke (yang bisa jadi merupakan misnomer dari monkey oleh seorang gurunya adalah satu peristiwa “traumatis” yang mendorongnya mengambil jarak dari harapan dan cita-cita kolonial yang tersemat dalam pendidikannya. Dia tidak mau mengidentifikasi dirinya sendiri dengan suatu sistem yang dengan halus menolaknya.

Ilustrasi : @Regran_ed

Selanjutnya, pergaulannya dengan Jean-Marais, pelukis berdarah Prancis yang terceraikan dari kekasihnya karena kolonialisme, adalah dorongan lain. Juga dan terutama perjumpaan dan interaksi mendalamnya dengan keluarga Mellema, khususnya dengan Nyai Ontosoroh dan Annelies, yang berakhir dalam trauma dan rasa sakit mendalam terhadap kekejaman kolonialisme Belanda yang memisahkannya dari istri sahnya (Annelies) pun merupakan impetus lain dari tindakannya mencelas dari harapan yang disandangkan kepadanya.

Begitu pula pengalaman-pengalamannya selanjutnya yang dirasakannya setelah dia meninggalkan rumah Nyai, termasuk pergaulannya dengan Kommer dan aktivis nasionalis Tiongkok, adalah dorongan eksternal belaka yang semakin menjauhkannya dari jalan yang dilapangkan kolonialisme baginya. Dorongan-dorongan tersebut penting dan signifikan dalam mengarahkan sikapnya. Namun, dorongan eksternal saja biasanya tidak memadai untuk membakar jiwa dan hati dan pikiran ke suatu arah.

Saya sendiri menganggap ada sesuatu di dalam dunia batin Minke yang memang condong kepada pemberontakan. Artinya, dia memiliki bibit ke arah pemberontakan itu di dalam identitasnya yang paling dalam, sejak dia masih sangat kecil dan tinggal di dalam keluarga.

Sayangnya, sedikit sekali  informasi mengenai masa kecil Minke yang dapat kita korek dari Tetralogi Buru karya Pram. Namun, dari yang sedikit itu, kita bisa merasakan ketidaksukaan yang terpendam dan baru sedikit termanifestasikan dari Minke setelah dia bersekolah di HBS di lain kota terhadap sosok ayah dan kakak-kakaknya (yang kebetulan juga laki-laki) yang begitu feodalistis, patriarkis, dan kolonial-sentris. Ketika dipanggil paksa pulang, Minke merasa sebal dan jengkel karena dia harus berjalan menunduk-nunduk di hadapan ayahnya, harus menyembah ayahnya setiap kali akan berbicara, harus rela buku hariannya dibaca tanpa izin oleh kakaknya hanya karena kakaknya itu lebih tua daripada dirinya.

Jiwa pemberontak ini ada dalam diri Minke sejak dia belum bersekolah di HBS, walaupun dia belum tahu namanya dan belum sanggup merumuskannya. Tetapi, begitu dia terbebas dari belenggu dan kuk rumah ayahnya, Minke segera mengambil jalan yang disukainya sendiri, bahkan bila itu mencelas dari harapan dan cita-cita kolonialisme yang dibebankan atasnya. Belanda dan kolonialismenya bisa jadi Minke pandang sebagai “perpanjangan” dari sosok ayahnya yang patronistik dan eksploitatif.

Setiap dari kita memiliki warna dasar semacam ini sebagai identitas terdalam kita. Mungkin kita telah menyadarinya, atau mungkin juga belum. Tetapi, pada gilirannya, kita bisa mengikuti warna dasar itu atau memutuskan untuk tidak mengikutinya, dengan bantuan dorongan-dorongan eksternal yang kita jumpai di sepanjang perjalanan hidup kita.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini