Mengajak Macron Bermain Catur

Ilustrasi : Martin Malchev

Terakota.id–Ada banyak film terkenal tentang bermain catur.  Sebut saja misalnya The Sevent Seal (1957), The Chess Players (1977), Dangerous Moves (1984),  Knight Moves (1992), Searching for Bobby Fischer (1993), Fresh (1994), The Luzhin Dafence (2000), Queen to Play (2009), Pawn Sacrife (2014), The Darks Horse (2014), dan Queen of Katwe (2016).

Inti dari film tersebut sebenarnya hampir sama. Cerita tentang kehidupan manusia dengan menjadikan permainan catur sebagai media. Bahannya sama yakni tentang bermain catur beserta aturan yang melekat dengan bumbu-bumbu cerita yang lain. Di situlah kemudian terjadi dramatisasi, konflik, persabahatan, cinta, persekutuan dan taktik manusia dalam usahanya mempertahankan kehidupan. Tentu dengan plot masing-masing. Namun dengan cermin dan fokus utama cerita papan catur.

Apa yang menarik dari bermain catur? Bagi saya olah raga otak seperti catur itu mengandung pelajaran penting dalam kehidupan ini. Catur bukan sekadar olah raga biasa. Ia mempunyai filosofi penting. Tentu jika kita memang memperhatikan gerak gerik dalam permainan  catur.

Coba kita perhatikan sebentar. Papan catur berbentuk bujursangkar mempunyai sebidang papan yang tetap dengan kotak-kotak hitam/gelap (dark) dan putih/terang (light) dalam jumlah tetap. Kotak-kotak itu membagi dua sisi yang berbeda karena catur memberikan kesempatan dua orang untuk bermain. Keduanya mendapakan hak yang sama. Buah catur berjumlah 16 buah. Satu sisi berwarna putih, sisi lainnya berwarna hitam.

Yang tidak kalah pentingnya urut-urutan penataan buah catur dalam papan. Kemudian dibagi ke dalam dua baris. Paling belakang ada satu raja, satu ratu, dua gajah, dua kuda, dua benteng. Sementara di depannya berbaris rapi delapan bidak (pion).

Nah karakter masing-masing buah catur juga berbeda tidak bisa ditukar satu sama lain. Misalnya  Raja. Raja bisa bergerak keman saja tetapi hanya  1 langkah. Raja ini penentu “kehidupan” permainan. Jika ia mati, akan dianggap selesai. Maka, semua buah catur akan berusaha melindungi raja ini agar tidak terkena ancaman “skak” (check) dari lawan.

Kemudian ada ratu. Ia bisa pula disebut dengan ster. Hampir punya postur sama dengan raja. Ia bergerak bebas ke mana saja (depan, belakang, kiri, kanan, serong) dengan langkah bebas.

Lalu ada menteri. Disebut juga gajah atau peluncur. Langkahnya diagonal dengan jumlah bebas. Jika di kotak putih harus bergerak diagonal putih dan sebaliknya.

Kemudian ada kuda.  Kuda ini melangkah seperti huruf L. langkahnya 2-3 (dua petak menyamping + dua petak maju/mundur) atau langkah 3-2 (3 petak menyamping + dua petak maju/mundur). Kuda ini bisa melompati buah catur lain. Ini yang unik.

Kemudian ada benteng. Ia hanya bisa bergerak menyamping atau maju/mundur (tak bisa serong). Langkahnya bebas. Benteng istimewa karena dapat menempati posisi raja dengan menggeser posisi raja (disebut dengan lukir atau blokir(castling).

Terakhir pion. Jumlahnya ada 8 buah. Pion disebut juga dengan bidak, prajurit atau askar. Pion hanya dapat melangkah satu ke depan. Namun saat langkah pertama bisa 2 langkah ke depan). Pion ini bisa memakan buah catur lawan dengan gerakan serong satu langkah ke depan.

Lalu apa yang menarik dari permainan catur ini? Buah catur bergerak sesuai aturan yang sudah disepakati. Tak bisa saling tukar antar buah catur. Ini sudah hukum permainan catur.

Yang lebih menarik lagi, posisi pemain catur. Perhatikan. Pemain catur tetap harus mematuhi cara bermain catur.  Pamain catur ini diberikan kesempatan bebas untuk menjalankan apa saja dari buah caturnya. Dia mau menjalankan menteri, kuda, beteng, pion atau yang lain. Pemain bebas melakukan permainan.

Namun kebebasan pemain ini tentu tetap terbatasi dalam papan catur. Jadi, dia tidak bisa bermain di luar papan caturnya itu. Intinya, pemain diberikan kebebasan bermain tetapi tetap terbatas pada wilayah dan aturan yang sudah disepakati. Bagaimana jika kebebasannya itu melanggar wilayah pemain lawan? Tentu ia akan dianggap curang atau bahkan kalah.

Kartun Nabi

Apa kaitan antara Emmanuel Macron (presiden Perancis) dengan bermain catur? Ini mungkin analogi yang tidak seratus persen benar. Tetapi kita bisa belajar dan mencontoh apa yang disajikan dalam permainan catur tersebut.

Sebagai seorang presiden, ia tentu bebas melakukan apa saja. Tetapi ia tetap terbatasi dengan konstitusi negaranya. Ini jika kita mengaca ke dalam. Bagaimana jika ia melakukan kegiatan yang menyinggung wilayah lain? Tentu ini akan bermasalah. Meskipun ia mengatakan bebas berbuat karena alasan kebebasan. Apakah kebebasan yang dia yakini tidak melanggar hak kebebasan orang lain? Ini misalnya.

Nah, beberapa waktu lalu Macron  diprotes umat Muslim dunia karena mengijinkan majalah Charlie Hebdo memuat kartun Nabi Muhammad SAW  yang pernah diterbitkan pda tahun 2015 (juga 2006).  Lepas dari latar belakang pemuatan kartun kontroversial tersebut, Macron menuai kecaman. Boikot produk Perancis pun bermunculan di seluruh dunia. Macron beralasan dan berlindung di balik kebebasan pers di Perancis.

Sementara itu di sisi lain, bagi umat Muslim memvisualkan Nabi Muhammad itu dilarang. Ini bukan informasi baru. Di Eropa soal kartun, visualisasi Nabi memang kontroversial. Macron sedang berusaha “bermain catur” diluar papan caturnya. Tentu saja pihak-pihak yang berada di luar itu akan tertanggu.

Macron memang berbeda dengan presiden Jacques Chirac. Chirac menganut paham toleransi dan menghormati semua agama/kepercayaan. Sementara Macron mengatakan bahwa kebebasan penting sebagai bagian dari  kebebasan berekspresi dan hak menghujat.

Ada kalanya memang kebebasan itu dilematis. Ia memang merupakan hak manusia. Tetapi manusia lain juga punya hak dasar pula yang harus dihormati. Dalam kurun waktu lama orang sering berlindung dibalik kebebasan dengan mengancam hak orang lain. Macron tidak salah mengibarkan kebebasan. Tetapi apakah kebebasan yang dipilihnya itu tidak mengancam hak kelompok lain? Ini yang juga harus digarisbawahi. Tentu saja sebagai presiden dia punya perhitungan politis. Termasuk perhitungan akan ada Pemilu di Perancis tahun 2022.

Dalam hal ini Macron perlu diajak bermain catur. Bahwa pemain itu bebas menggerakkan buah caturnya. Tetapi kebebasan itu tetap dipengaruhi dan terbatasi oleh “aturan main”. Aturan main itu salah satunya adalah penghormatan hak orang lain, tak semata-mata kebebasan absolut. Memang, mengekang diri itu lebih sulit daripada mengumbar nafsu.  Analogi yang belum tentu benar tetapi tidak seratus persen salah.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini