Mengada melalui Meragukan

Ilustrasi: www.geeksaresexy.net

Terakota.id–Seminggu lalu, saya memanen mangga di kebun. Hasilnya sebenarnya cukup banyak untuk disimpan dan dinikmati sendiri, tetapi agak terlalu sedikit jika ingin dibagikan kepada tetangga, kenalan, atau kolega. Intinya, panen mangga kami tahun ini nanggung.

Akhirnya, saya memutuskan untuk memeram mangga-mangga panenan tersebut dalam kardus dan ember hitam yang saya selimuti dengan gombal. Apakah saya akan membaginya dengan tetangga, kenalan, atau kolega tergantung pada bagaimana nanti saja. Begitu biasanya saya bersiasat: jika tidak bisa memutuskan sesuatu saat itu juga, saya akan menundanya selama beberapa waktu. Biasanya, saya akan mendapat momentum yang pas untuk mengambil keputusan yang tepat setelahnya.

Namun kali ini, siasat saya tersebut tidak berjalan seperti yang saya inginkan. Setelah beberapa hari berada dalam peraman ditambah beberapa hari saya kelupaan menengoknya, beberapa dari buah mangga yang saya peram ternyata membusuk. Dengan agak menyesali diri, saya membuka peraman tersebut dan mengeluarkan semua mangga dari wadahnya.

Saya lalu memilah-milah mangga-mangga tersebut. Satu demi satu saya ambil, saya pelototi, saya pencet-pencet, dan kalau perlu saya baui. Yang saya dapati sudah membusuk atau tidak layak konsumsi, saya taruh di sebelah kiri untuk kemudian saya buang ke tempat sampah agar menjadi kompos.

Yang saya anggap baik, mulus, berbau harum, dan mengkal saya sisihkan di sebelah kanan. Mangga-mangga ini akan saya serahkan kepada istri saya untuk dikupas dan dipotong-potong. Beberapa akan bisa dimakan segar-segar, yang lain bisa disimpan untuk dijadikan manisan atau jus. Terserah istri saya.

Beberapa buah mangga yang lain saya dapati masih keras dan dalam keadaan belum matang. Maka, saya kembali masukkan mangga-mangga tersebut ke dalam ember peraman. Akan saya tandai dan saya ingat-ingat untuk memeriksanya secara rutin, mungkin setiap pagi. Dengan begitu, saya tidak akan terlewatkan ketika waktunya tiba bagi mangga tersebut untuk matang.

Sikap Skeptis dan Cogito

Cerita sederhana tentang bagaimana saya memilih dan memilah mangga-mangga peraman saya, mencermati dan mengamati satu demi satu, memisahkan yang baik dari yang busuk, dan lalu membuang yang busuk agar tidak menulari yang baik adalah sebuah ilustrasi mengenai sikap seorang skeptis. Seorang yang skeptis, mungkin agak berbeda dari pengertian yang secara awam kita biasa dengar dan ketahui, adalah seorang yang dengan saksama meragukan banyak hal atau informasi yang masuk ke dalam kepalanya.

Pikiran kita ibarat ember atau kardus tempat saya memeram mangga-mangga panenan kami. Di era digital dan pascakebenaran dewasa ini, berbagai informasi dapat dengan mudahnya dan gegap-gempitanya masuk meruak ke dalam lapis-lapis pikiran kita dan ingin menguasai ingatan kita. Saking deras dan cepatnya bandang informasi tersebut, pikiran kita seolah tidak memiliki waktu yang cukup untuk sekadar menarik nafas. Kita terengah-engah dan akhirnya percaya begitu saja pada beragam informasi yang tak jarang saling bertentangan dan kurang logis.

Seorang yang skeptis adalah seorang yang meragukan (dalam fungsinya sebagai kata kerja, bukan kata sifat). Dubium sapientiae initium, kata Rene Descartes (1596-1650). Meragukan adalah awal dari kebijaksanaan atau pengetahuan, demikian kira-kira terjemahannya. Seorang skeptis meragukan dan menunda untuk percaya pada hal-hal yang disampaikan kepadanya.

Dia tidak serta-merta menerima yang disampaikan kepadanya, juga bila yang disampaikan tersebut kedengarannya baik, menguntungkan, atau menyenangkan hatinya. Pun dia tidak begitu saja menolak dan menafikan apa-apa yang sekilas terdengar tidak baik, merugikan, atau membuat hatinya kesal. Intinya, seorang skeptis menunda untuk membuat penilaian secara serampangan. Bahkan, dia akan meragukan apa yang sudah ada atau masuk ke dalam ingatannya.

Dia akan menggelar semua informasi, pengetahuan, prasangka, stereotipe, asumsi, ideologi, dan juga ilmu yang telah didengar, dipelajari serta diinternalisasinya di hadapannya. Ini agak mirip seperti saya yang menumpahkan dan mengeluarkan setiap buah mangga dari wadah peramannya. Dan seperti saya yang setelahnya lalu mengamati dengan saksama tiap-tiap buah mangga yang saya ambil, begitu pun seorang skeptis akan mencermati dengan teliti setiap gagasan yang mengisi kepalanya.

Gagasan-gagasan di kepala seseorang secara agak simplisistik dapat digolongkan ke dalam tiga kategori: (1) yang jelas-jelas baik dan bermanfaat, (2) yang jelas-jelas buruk dan penuh mudarat, dan (3) yang belum dapat dipastikan kebaikan dan kebermanfaatannya. Kategori yang pertama dan kedua biasanya lebih sedikit jumlahnya dan lebih gampang penangannya. Yang baik dan bermanfaat dapat kita simpan dan pertahankan. Yang buruk serta penuh mudarat, tentu saja, tinggal kita buang dan tinggalkan.

Gagasan-gagasan yang termasuk dalam kategori yang ketigalah yang jumlahnya sangat banyak serta lebih sulit dikenali sehingga membutuhkan pengamatan serta pencermatan lebih saksama dan hati-hati. Mirip seperti memilah buah mangga yang sepintas-lalu terlihat bagus, dengan kulit yang mulus dan tampilan luar yang memesona, tetapi di dalamnya ada larva lalat buah, begitulah gagasan-gagasan yang tampaknya indah dan muluk, tetapi sebenarnya mengandung racun bagi otak kita.

Sikap dan tindakan meragukan atau ‘dubitare’ (Bahasa Latin) akan benar-benar diuji dalam hal ini: ketika kita berhadapan dengan hal-hal yang sudah kita yakini betul kebenarannya meskipun tidak pernah atau belum kita uji sendiri, yang diajarkan secara turun-temurun, atau yang memiliki landasan dogmatis yang tidak boleh diganggu-gugat. Gagasan-gagasan semacam ini pun semestinya kita gelar dan kita cermati dengan saksama dan hati-hati. Itulah yang seharusnya dilakukan.

Pada kenyataannya, ada banyak gagasan yang diberikan atau disampaikan kepada kita adalah diskursus, yang memiliki konteks dan kepentingan serta pihak-pihak di antaranya. Tetapi seringnya gagasan-gagasan itu disampaikan atau dijejalkan sebagai ajaran yang ‘baku’ dan terberi. Kalau kita mempraktikkan atau menjalankan sikap dubium atas gagasan-gagasan itu, akan timbul suatu ketidakseimbangan yang disebabkan oleh tersinggungnya mereka yang merasa memiliki marwah untuk menjaganya. Di sini, saya sedang berbicara tentang ideologi yang sudah mengurat-akar, baik dalam rupa isme-isme tertentu maupun dalam wujud keyakinan religius tertentu.

Menurut para pemikir Sejarah Baru, banyak hal—termasuk gagasan dan keyakinan yang kita sekarang ini pegang erat-erat bukanlah sesuatu yang secara alamiah ada atau terberi. Banyak gagasan dan keyakinan semacam itu adalah suatu hasil konstruksi atau rekayasa dari kelompok yang merasa memiliki otoritas atau kuasa dalam bidang-bidang tertentu. Tentu saja, mereka tidak akan begitu senang jika ada orang atau kalangan yang meragukan gagasan dan keyakinan yang mereka jaga dengan amat ketat serta memberi mereka privilese baik secara intelektual, sosial, politik, maupun ekonomis.

Namun justru di sinilah locus eksistensial manusia berada. Dalam pilihan dan tindakan untuk meragukan, kita tidak hanya berikhtiar untuk mencapai pengetahuan yang sejati dan benar. Kita tidak hanya bercita-cita meraih kebijaksanaan atau sapientia melalui usaha mengkritisi gagasan dan keyakinan. Lebih penting dan mendasar daripada itu, melalui pilihan dan tindakan meragukan, kita mengaplikasikan kemandirian pikiran kita. Secara lebih khusus, kita mempraktikkan pikiran kita untuk berpikir. Dalam istilah yang digunakan oleh Descartes, kita melakukan tindakan cogitare (atau berpikir). Maka, dengan atau karena berpikir aku mengada: Cogito ergo sum.

Manusia tidak seharusnya sekadar menerima dan mewarisi gagasan-gagasan dari pendahulunya, tetapi juga memikirkan, meragukan, mencermati, dan memilah-milah berbagai gagasan tersebut, untuk melihat manakah yang baik dan berguna, manakah yang tidak baik dan penuh mudarat sehingga layak dibuang, dan selalu menentukan bila ada gagasan-gagasan yang belum pasti.

Lewat pilihan dan tindakan untuk meragukan, kita mengada. Cogito ergo sum. Hasil akhirnya seperti apa? Ya belum tahu, karena proses meragukan, proses skeptis berlangsung terus-menerus dan tidak boleh berhenti, seperti kita tidak mau berhenti mengada.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini