Menerapkan Kampus Hijau Sebagai Praktik Pelestarian Lingkungan Hidup

UI GreenMetric World University Rankings 2019 menetapkan kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi kampus hijau nomor dua di Indonesia. (Foto : Sindonews).

Oleh : Wahyu Eka S.*

Terakota.id-Dalam salah satu perayaan Hari Bumi pada tahun 1970, beberapa siswa menguburkan sebuah mobil untuk melambangkan keseriusan kerusakan yang dibuat oleh manusia terhadap lingkungan. Karena peristiwa ini, orang menjadi sadar ternyata ada hubungan antara lingkungan dan pentingnya pendidikan.

Masalah krisis energi pada tahun 1970 memunculkan perhatian orang pada konsep perlindungan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di kampus (Bartlett & Chase, 2004). Peran universitas dalam perlindungan lingkungan terungkap dalam banyak tindakan, seperti memunculkan solusi dan tindakan nyata, dari kondisi tersebutlah muncul blue print “kampus hijau.”.

Gerakan keberlanjutan kampus muncul pada awal 1990-an dan sejak itu melewati dua gelombang evolusi. Yang pertama dihabiskan untuk membayangkan dan mengartikulasikan kebutuhan kampus untuk memasukkan segala macam inovasi untuk mengurangi dampak lingkungan secara keseluruhan.

Gerakan ini membayangkan kampus dipenuhi dengan bangunan hijau, sistem energi terbarukan, makanan organik lokal, lansekap organik, keanekaragaman hayati asli yang diperkaya, sistem transportasi berpolusi rendah, jalur sepeda, tangki penyimpanan air hujan di tempat, sistem pengolahan air limbah, dana abadi yang diinvestasikan secara sosial, praktik kimia hijau, tidak ada laboratorium limbah padat, produk pembersih hijau, dan utilitas kampus emisi gas rumah kaca rendah (GRK), bersama dengan banyak ide lainnya. (Sharp, 2009)

Sharp (2009) mengungkapkan sepanjang periode 1990-an dan berkembang hingga awal milenium baru, kampus-kampus di seluruh dunia telah bereksperimen dengan berbagai proyek kampus hijau, dan sekarang kita dapat menemukan contoh, di mana hampir semua kampus telah berlomba-lomba terkait konsep hijau ini.

Namun, di sepanjang proses mungkin beberapa dari kita mulai memperhatikan, dikala universitas mengumpulkan kesuksesan proyek hijau mereka secara perlahan, tetapi secara dasar mereka tidak mencapai semacam transformasi organisasi yang dalam. Banyak dari kita mungkin sekarang melihat, bahwa memang diperlukan gerakan kampus hijau secara mendasar.

Lebih lanjut, Sharp (2009) dalam penelitiannya mencontohkan, jika tidak biasa bagi suatu lembaga untuk membangun proyek bangunan hijau yang tampak dalam satu tahun, jika hanya untuk kembali ke desain bangunan konvensional dalam proyek-proyek yang akan mereka kerjakan kemudian. Keberhasilan tunggal terkait memasukan konsepsi kampus hijau belum benar-benar mereformasi persetujuan bangunan dan proses desain dalam lembaga. Beberapa kampus akan mempublikasikan proyek-proyek konservasi energi tertentu seperti penerangan retrofit satu tahun, sembari menambahkan pendingin udara ke gedung-gedung yang sama tahun berikutnya.

Kampus-kampus ini hanya berhasil mencapai proyek tanpa melembagakan persyaratan intensitas energi untuk membatasi energi yang digunakan. Bahkan yang lebih aneh ialah, kampus-kampus lain menempatkan tempat sampah daur ulang yang megah dan mahal di tempat-tempat umum sambil memungkinkan peningkatan limbah, menciptakan keberhasilan yang terisolasi tanpa rencana pengurangan limbah yang komprehensif.

Sebagai pengakuan akan perlunya melampaui keberhasilan proyek yang hanya jadi ajang pameran, sekitar 2003-2004 gerakan kampus hijau telah memasuki gelombang kedua. Yakni gelombang di mana kampus mulai menerapkan lebih banyak tekanan dan mendorong komitmen publik yang lebih besar, investasi staf khusus, dan semacam struktur tata kelola keberlanjutan khusus, biasanya di bentuk komite universitas dengan perwakilan staf, mahasiswa, dan fakultas.

Upaya ini bertujuan untuk menggerakkan sektor universitas melampaui kemenangan kecil dari proyek tunggal, menuju kemajuan berkelanjutan yang bertujuan mencapai tujuan lingkungan yang lebih besar, didukung oleh kapasitas profesional yang dapat memastikan kemajuan yang berkelanjutan (Sharp, 2009).

Selama gelombang pertama dan kedua dari perkembangan kampus hijau, kita akan menemukan signifikansi perbedaan antara upaya kampus di awal yang hanya berfokus pada proyek hijau, menampilkan suatu kebijakan kampus pro lingkungan, namun sebenarnya hanya tampak sebagai citra baik saja. Karena tidak upaya transformasi kelembagaan, hanya tindakan-tindakan dangkal yang tidak berimplikasi pada konteks kampus hijau itu sendiri.

Sementara pada gelombang kedua, perkembangan gerakan kampus hijau lebih kompleks. Mulai ada upaya transformasi lembaga dengan mengaturnya melalui skema kebijakan hijau, menyiapkan infrastruktur baik fisik maupun pengetahuan. Sehingga upaya menuju kampus hijau lebih serius karena melibatkan transformasi sosial di lembaga itu sendiri.

Seperti Apa Kampus Hijau?

Tujuan awal dari pengembangan “kampus hijau” adalah untuk mengurangi pengaruh buruk terhadap lingkungan yang disebabkan oleh operasi kampus, seperti menggunakan sejumlah besar listrik, minyak, gas, air, bahan kimia, dan sumber daya lainnya. Kampus besar dengan banyak siswa membutuhkan lebih banyak sumber daya daripada komunitas dan institusi sederhana, atau beberapa perusahaan.

Selain itu, sejumlah besar limbah, air limbah, bahan kimia, dan limbah beracun dihasilkan selama pengoperasian kampus, yang menyebabkan masalah lingkungan bagi kampus dan lingkungan sekitarnya.Karena itu, tugas mendasar untuk pengembangan awal kampus hijau adalah mengurangi dampak masalah lingkungan pada kampus dan masyarakat sekitarnya (Bartlett & Chase, 2004).

Pada dasarnya kampus hijau adalah lembaga pendidikan yang memenuhi kebutuhannya dari sumber daya alam, seperti energi, air, dan bahan yang tersedia oleh alam tanpa mengorbankan kebutuhan orang-orang baik di negara sendiri maupun di negara lain, serta generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Pada bagian ini kita akan belajar apa itu kampus hijau dan mengapa itu penting.

UI GreenMetric World University Rankings 2019 menetapkan Wageningen University & Research sebagai peringkat pertama kampus hijau dunia. (Foto : wur.nl).

Pemanasan global, hilangnya keanekaragaman hayati, atau polusi plastik di lautan adalah masalah lingkungan global yang mengancam kehidupan di planet bumi. Hari ini sudah terjadi pencemaran yang masif, kondisi tersebut telah berdampak negatif pada pertanian, melalui hilangnya serangga penyerbuk, keamanan air karena kekeringan dan kesehatan manusia melalui mikro-plastik dalam makanan.

Sebagai lembaga penelitian dan pembelajaran, kampus seharusnya dapat memainkan peran penting untuk membantu masyarakat dalam mengatasi masalah tersebut. Inilah mengapa penting untuk menjadi kampus sebagai suatu lembaga yang berperspektif hijau. Karena itu, kampus hijau seharusnya menunjukan sebuah institusi pendidikan yang memenuhi kebutuhannya secara berkelanjutan, tidak menjadi institusi yang memiliki peran signifikan dalam perusakan lingkungan hidup dan menjadi pelopor pembangunan berkelanjutan yang berdasar pada kelestarian.

Maka dari itu, konsep kampus hijau harus memenuhi kriteria berikut:

  1. Semua mahasiswa harus berhubungan dengan topik keberlanjutan melalui studi mereka atau kegiatan ekstrakurikuler;
  2. Nol emisi CO2 dengan membeli energi terbarukan, mempromosikan transportasi umum atau bangunan yang ramah lingkungan;
  3. Tanpa limbah dengan memaksimalkan daur ulang, pengomposan makanan sisa, menggunakan kembali air, dan membeli produk daur ulang atau yang sifatnya berkelanjutan;
  4. Menciptakan budaya yang bersifat melestarikan keanekaragamaan hayato dengan membeli makanan organik, membuat kebun kampus atau melarang bahan kimia beracun.

Pertanyaan Konstruktif Sebelum Menuju Kampus Hijau

Apakah kampus kita menggunakan energi untuk memanaskan/mendinginkan bangunan, serta menyalakan komputer dan lampu. Apa dampak lingkungan dari konsumsi energi di kampus? Jika energi dihasilkan dari bahan bakar fosil, maka emisi CO2 mencemari atmosfer dan menyebabkan pemanasan global.

Apakah kampus kita juga membeli makanan untuk disajikan di ruang makan. Makanan apa yang disajikan? Dari mana asalnya? Daging murah dan produk susu berkontribusi pada kekejaman terhadap hewan. Perusahaan kopi dan teh yang mengeksploitasi petani menyebabkan kemiskinan.

Apakah kampus kita juga membutuhkan banyak semen, kayu, beton, batu bata, logam atau kaca untuk membangun perpustakaan, ruang pengajaran, dan laboratorium. Bagaimana jejak lingkungan bangunan, renovasi, pemeliharaan atau penghancuran semua bangunan ini? Produksi semen adalah salah satu industri paling intensif CO2 di seluruh dunia. Produksi kayu dapat berkontribusi terhadap perusakan habitat dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Apakah kampus kita telah menerapkan konsep tata kelola sampah berkelanjutan, semisal menerapkan prinsip reduce, reuse. Recycle. Lalu, bagaimana pengelolaan akhirnya? Masih terpusat di TPA atau sudah mandiri? Pengelolaan sampah di universitas harus mampu menunjukan kelola berkelanjutan, membatasi penggunaan sampah plastik dan yang tak bisa didaur ulang. Memaksimalkan inovasi seperti konversi plastik ke teknologi tepat guna sebagai pengganti.

Apakah kampus kita telah menerapkan tata ruang yang berkelanjutan, seperti ruang terbuka hijau, kawasan resapan dan mendukung penerapan kawasan yang berkelanjutan di sekitarnya. Baik mendorong pemerintah merencanakan tata ruang berdasarkan keberlanjutan ekologis dan anti terhadap eksploitasi banal.

Tentu tidak mudah, tetapi menjadi kampus hijau adalah kerangka konstruktif untuk menjadi role model dalam penerapan pembangunan berkelanjutan yang lebih berpihak kepada lingkungan hidup, tanpa mengesampingkan manusia, Manusia tanpa alam akan kelabakan, tapi alam tanpa manusia tidak akan risau dan gelisah.

Wahyu Eka Setyawan (Sumber: Dok. Pribadi)

*Penulis Aktivis Walhi Jatim dan Pegiat Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam FNKSDA).

*Tulisan ini merupakan pengantar dari seminar nasional bebas sampah bertajuk “Green Millenials Together against Our Waste for Sustainable Future” Universitas Brawijaya

Referensi

 

Bartlett, P. F., & Chase, G. W. (2004). Sustainability on campus.

https://www.greenofficemovement.org/green-university/

Sharp, L. 2002. Greening campuses: the road from little victories

to systemic transformation. International Journal of Sustainability in Higher Education 3(2):128–145

Sharp, L. (2009). Higher education: the quest for the sustainable campus. Sustainability: Science, Practice and Policy, 5(1), 1–8.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini