Menemui Penyair yang Hilang dalam Istirahatlah Kata-Kata

Suasana terkurung hampa dan ketidakpastian mendominasi dalam film, dan sebagai penonton saya seperti bisa merasakan suasana batin seorang Wiji Thukul yang tak bisa leluasa bergerak seperti ketika dia masih bisa aktif dalam gerakan perlawanan.

Antusiasme untuk menonton film Istirahatlah Kata - kata di Malang

 

Oleh  : Yusri Fajar*

Mereka yang merasa kehilangan dan tak mengenal Wiji Thukul secara langsung akhirnya bisa melihat Wiji Thukul yang direpresentasikan dalam film bertajuk Istirahatlah Kata-kata garapan sutradara Yosep Anggi Noen. Rasa penasaran dan misteri tentang sosok Wiji Thukul yang hilang bersama beberapa aktivis lainnya akhirnya sedikit terjawab melalui film yang dibintangi sastrawan sekaligus aktor Gunawan Maryanto ini.

Sebagai penyuka karya sastra yang selama ini mengenal sosok Wiji Thukul sebagai penyair pemberani yang melahirkan puisi-puisi protes terhadap ketimpangan sosial dan berbagai persoalan politik serta pemerintahan, saya sebelum menonton film ini berharap akan mendapatkan gambaran sosok Wiji Thukul yang membacakan puisi protes dengan ekspresi lepas dan berani, seperti sosok Rendra dalam film garapan Sjuman Djaya Yang Muda, Yang bercinta (1977).

Selain itu saya juga berharap bisa menyaksikan perjalanan perjuangan Wiji Thukul mulai bujangan hingga menikah dan termasuk ketika dia pernah membaca puisi di berbagai kota di Indonesia. Namun, film lebih terfokus pada waktu Wiji Thukul menjadi buronan dan dari berbagai shots yang bisa kita lihat dan nikmati dalam film, sosok Wiji Thukul dalam film terkesan kalem dan memiliki ekspresi tertekan.

Sosok Wiji Thukul yang ditampilkan demikian bisa dipahami karena Istirahatlah Kata-Kata yang dirilis 19 Januari 2017 menvisualkan rangkaian peristiwa pelarian Wiji Thukul di Pontianak, bukan pada sepak terjangnya ketika berdemonstrasi dan membacakan puisi untuk membela buruh serta mengkritisi pemerintah dan pemilik modal. Situasi menekan, menunggu dalam ketidakpastian, berharap situasi aman dan terbebas dari perburuan aparat menjadi bagian penting dalam film.

Situasi ini sedikit mirip dengan suasana ketidakpastian yang bisa dirasakan ketika melihat pementasan drama-drama absurd yang ditulis Samuel Beckett. Ketika tiba di Pontianak Wiji thukul tinggal di suatu rumah di pinggiran, dengan kondisi jauh dari kemewahan, seakan serupa dengan lanskap tempat Thukul dan istrinya tinggal di Solo.

Wiji Thukul bertutur dengan suara bernada rendah,”Ternyata menjadi buron itu jauh lebih menakutkan daripada menghadapi sekompi kacang ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demonstrasi”. Ucapan ini seakan menegaskan fokus dari film ini, yang lebih memberikan gambaran tentang kondisi psikologis Wiji Thukul. Menjadi buron, Wiji Thukul harus hidup dalam ketegangan dan perasan teralienasi. Jauh dari keluarga tanpa komunikasi yang intensif dengan keluarga.

Berhadapan dengan aparat ketika berdemonstrasi bisa jadi justru membuat Wiji Thukul makin berani dan memiliki semangat untuk berekspresi, sementara menghadapi kesepian seperti menghadapi ‘lawan’ yang justru bersemayam dalam diri sendiri, sehingga sulit ditaklukkan. Suasana terkurung hampa dan ketidakpastian mendominasi dalam film, dan sebagai penonton saya seperti bisa merasakan suasana batin seorang Wiji Thukul yang tak bisa leluasa bergerak seperti ketika dia masih bisa aktif dalam gerakan perlawanan.

Diskusi film Istirahatlah Kata – kata, sebuah upaya merawat ingatan (Terakota.id)

Beberapa angle dengan latar waktu malam yang hening memperkuat atmosfer pelarian, seakan membangun jarak dengan dunia luar yang terang dan hingar bingar. Narasi kesunyian inilah yang membuat film ini tak menghadirkan ilustrasi musik yang menghentak-hentak dan cocok untuk berbagai peristiwa heroik. Kata-kata lantang Wiji Thukul benar-benar ‘beristirahat’, menyepi, meski kata-kata itu tak benar-benar mati. Seiring sinar yang dihidupkan di rumah tempatnya bersembunyi, Wiji Thukul tetap diam-diam menyusun kata-kata.

Narasi seorang buron digarap oleh Yosep Anggi Noen dengan menghadirkan gambaran dua lokasi secara bergantian, yaitu Solo dan Pontianak. Strategi membangun relasi dua kota, yang satu kota tempat keluarga Wiji Thukul (Sipon dan dua anaknya berada) dan satunya adalah kota tempat Wiji Thukul melarikan diri, menegaskan tidak saja jarak secara geografis namun juga jarak secara batin.

Dalam jarak ini baik Wiji Thukul dan Sipon sama-sama memendam kerinduan dan kekhawatiran. Close-up shots yang digunakan untuk menunjukkan diri Wiji Thukul dan Sipon (yang diperankan Marissa Anisa) ketika didera ketegangan memberikan kesan bahwa Istirahatlah Kata-Kata ingin mengeskplorasi kondisi psikologis keduanya.

Kita sebagai penonton seakan bisa melihat dan menyelami alam pikiran mereka berdua dari dekat, meskipun belum pernah bertemu secara langsung. Sementara beberapa long shot pada sosok Thukul dalam pelarian, seperti ketika menunjukkan tubuh Thukul dari belakang dan ketika dia berjalan gontai seperti kurang bertenaga, memberikan kesan Wiji Thukul yang terpinggirkan, luput dari perhatian dan pembelaan, menyimpan kegundahan, serta menjauh dari keramaian.

Pelarian Wiji Thukul menjadi bagian-bagian akhir dari kiprahnya sebagai aktivis sebelum kemudian diberitakan hilang, tak diketahui di mana sebenarnya dia berada. Meskipun Wiji Thukul telah hilang, semangat dan perlawanannya seperti tak lekang oleh waktu dan tetap menginspirasi. Yosep Anggi Noen dalam wawancara dengan beritagar.id pada selasa (24/1/2017) menegaskan bahwa film Istirahatlah Kata-Kata merupakan “Sebuah hyperlink bagi kita untuk masuk ke gagasan dan pintu-pintu lain dan membicarakan hal yang lebih besar.”

Memang film ini seperti terfokus pada kehidupan Wiji Thukul selama menjadi buron. Namun di balik itu, film ini bisa menjadi pemantik dan mengantarkan kita untuk lebih jauh membincangkan persoalan isu kesenjangan sosial, konstalasi politik, penegakan hukum, Hak Asasi Manusia dan tindakan-tindakan yang mengancam kehidupan para aktivis yang kritis, dan berbagai isu lainnya.

Sentuhan menarik dalam film ini adalah pada penyampaian kritik secara sastrawi, tidak berteriak secara emosional dan mengumpat. Harus diakui bahwa salah satu kekuatan dari film Istirahatlah Kata-Kata adalah pada penggunaan puisi-puisi Wiji Thukul sebagai bagian dari narasi. Film ini dihiasi puisi- puisi Wiji Thukul, sehingga film ini sedikit banyak mempunyai kesan sebagai ‘film bernuansa sastra’. Puisi dan Wiji Thukul tak bisa dipisahkan. Relasi karya sastra dan sosok pejuang ini digambarkan dengan baik dalam Istirahatlah Kata-Kata.

Penonton bisa menjumpai tidak hanya Wiji Thukul secara fisikal namun juga dunia batin Wiji Thukul melalui puisi-puisinya yang dibacakan dalam film ini. Meskipun yang perlu dicatat, citra Wiji Thukul yang banyak menuliskan puisi-puisi protes secara tajam pada pemerintah dengan diksi-diksi lugas memang kurang tereksplorasi secara maksimal. Melalui puisi Wiji Thukul seperti “Bunga dan Tembok” dalam film ini, kita hanya bisa mendapatkan kesan bagaimana seorang Wiji Thukul masih memiliki kepekaan batin atas kondisi sosial politik dengan menggunakan kata-kata metaforis dalam puisi, tidak selalu menyerang tirani secara tajam dan langsung.

Namun demikian, harus diakui Yosep Anggi Noen cukup memiliki keberanian untuk mengangkat sosok Wiji Thukul, salah satu aktivis yang hilang karena konstalasi politik sebelum Orde Baru tumbang. Penyair asal Solo ini dikenal sebagai simbol perlawanan, dan sepertinya dulu ada yang tidak suka dengan tindak-tanduknya sehingga dia harus dihilangkan.

Dengan demikian, secara subtansial film Istirahatlah Kata-Kata bisa dilihat sebagai karya yang mengkritisi penguasa yang represif dan tak mampu memberi penjelasan secara terang benderang terkait lenyapnya Wiji Thukul. Ketika saya mendengar ada film tentang Wiji Thukul, saya sempat khawatir dan berpikir jangan-jangan film ini akan dicekal pemutarannya di bioskop karena dianggap ‘subversif’ seperti stereotip yang dulu sering diberikan penguasa pada para aktivis kritis. Jika dicekal, orang-orang akan gagal menemui Wiji Thukul melalui film ini. Syukurlah, film dirilis dan bisa ditonton.

Film-film lain  tentang mereka yang dihilangkan menarik untuk ditunggu. Masih ada aktivis-aktivis lain yang hilang dan menarik jika bagian dari hidupnya juga difilmkan. Mungkinkah Yosep Anggi Noen sedang berpikir untuk mengangkat para aktivis lainnya yang hilang ke layar lebar serta menunjukkan sisi heroik dan perlawanan mereka secara gamblang sehingga penonton akan juga ‘bertemu’ mereka setelah berjumpa Wiji Thukul melalui Istirahatlah Kata-Kata?

*Penulis dan Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini