Menelusuri Kuliner, dan Bangunan Bersejarah di Bosnia-Herzegovina

Oleh : Maharani*

Terakota.id–Melawat ke Bosnia-Herzegovina (BiH), apa yang ada dipikiran Anda? Kunjungan pertama ke Negara Bosnia merupakan pengalaman yang fantastis, mendebarkan dan hampir tak terbayangkan bisa terwujud. Mengingat Bosnia saja saya sudah dibuat merinding akan fakta sejarah kelam yang masih bisa kita saksikan diinternet dan buku sejarah. Bosnia-Herzegovina adalah negara di semenanjung Balkan, selatan Eropa. Di Negara ini terdapat tiga etnis yaitu Bosnia, Serbia dan Kroasia dengan ibukota Sarajevo.

Setelah pasca perang 1992-1995 para investor dan wisatawan mulai berdatangan mengunjungi Negara yang kaya akan air dan lembah serta bukit-bukit cadas ini. Hati saya terusik membaca artikel tentang Masjid megah hadiah dari rakyat Indonesia untuk Bosnia. Itu menjadi motivasi utama yang menggerakan kekuatan saya untuk melangkah.

Apa kabar masjid megah yang diprakarsai Presiden Soeharto pada 1995. Masjid dibangun sebagai arsitek masjid Fauzan Nouman, diresmikan Presiden Megawati Soekarno Putri pada 22 September 2001.

Masjid bernama Dzamija Ístiklal atau Indonezanska Dzamija atau biasa dikenal dengan sebutan Masjid Soeharto. Terletak di jantung kota Bosnia, Sarajevo dengan bangunan seluas 2.800 meter persegi, ukuran bangunan lebar 28 dan panjang 30 meter persegi.

Pertama saya berkunjung yakni mengelilingi seluruh masdjid Dzamija Istiklal Indonesia. Melihat kondisi masjid mulai lantai pertama, lantai kedua sampai lantai ketiga semua sudut tak terlewatkan. Beberapa bagian pelapis dindingnya lepas, fasilitas cukup baik, tempat wudhu pria dan wanita terpisah. Ada beberapa ruang kosong dan ruang pertemuan lengkap kursi berderet dan televisi untuk presentasi.

Mengamati desain interior, ukiran jati dari Jawa Tengah dan rancang bangun arsitektur terlihat sederhana, simpel, dan modern. Dengan ciri khas dua menara mirip masjid di Bosnia, perlambang persahabatan dua negara yang sama-sama mayoritas muslim. Pengamatan arsitektur dan aktivitas di masjid berakhir sampai suara adzan memanggil.  

Usai adzan berkumandang, beberapa orang saja memasuki masjid. Mengagumi ukiran kayu berwarna coklat tua pada pintu masuk setiap lantai. Ukiran ditempel melingkari jendela, dinding, tiang dan mimbar di dalam masjid sehingga terasa memang ini ukiran dari Indonesia. Khas ukiran Jawa.

Ukiran jati tampak mencolok, kontras dengan warna dinding putih. Seandainya ada biaya pemeliharaan gedung, saya mengusulkan membuat perpaduan warna yang manis. Guna menunjang keindahan ukiran asli Indonesia. Bisa juga ditambahi ornamen relief ukiran Nusantara sehingga lebih Indonesia.

Kuliner di Kota Tua Konjic

Berikutnya adalah keliling old town di malam hari pertama. Melihat keindahan kota tua yang tenang, bersih, rapi, walaupun banyak turis dan pembeli. Makan malam dengan menu daging cincang padat yang dipanggang (cevapi). Beserta roti dan sup semakin lengkap dengan sajian kopi ala Turki.

Keesokan harinya jalan pagi sambil ngopi dan makan cake tiga lapis susu yang lembut di slasticarna cream shop, the best kudapan pagi di old town bersama sang guru, teman kami yang baik hati. Senat yang jauh datang dari kota Konjic dengan suka cita membantu menemani menelusuri sejarah old town di kota Sarajevo.

Kami mengitari peninggalan Raja Gazi Husrev-Begov Vakuf The Gazi Husrev-beg waqf. Yakni tanah luas dalam old town yang terdiri bangunan lama di antaranya yang sekarang masih difungsikan. Tanah diwaqafkan (diberikan cuma-cuma untuk rakyat). Tampak megah sebuah masjid dengan shadirwan-fountain yang terus menerus mengucurkan air suci untuk umat Islam yang akan menjalankan ibadah sholat. Lalu kami berhenti untuk minum kopi khas Bosnia.

Rumah cafe tradisional khas Turki yang sekarang menjadi restoran ”Morica Han” (Foto : gazi husrev-begov vakuf).

Tampak muda mudi millenial masa kini Bosnia berbaur, juga segerombol turis sedang memperhatikan instruksi pemandu. Ada beberapa yang melihat produk khas Bosnia seperti suvenir, karpet, baju, aksesories dan lainnya yang menyatu dengan restauran. Di lantai dua restoran Morica Han rumah khas Turki sedang berlangsung pameran siswa sekolah. Berupa karya tulis yang ditempel di dinding. Tampak  foto tokoh masyarakat setempat yang berjasa bagi masyarakat. Pameran ini gratis. (foto lantai atas)

Kembali ke masjid  Dzamija Istiklal. Salah  seorang sahabat terbaik dari Jakarta menitipkan dua buah mukena cantik untuk disumbangkan bagi masyarakat yang hendak menjalankan ibadah salat di sini. Mukena diterima langsung Imam Besar Masjid, Ahmed Skopljak. Pada kesempatan itu pula saya memberikan tanda ucapan terima kasih dengan menyerahkan satu buah lukisan kaligrafi untuk Masjid Dzamila Istiklal. Lantaran telah merawat dan menjaga amanah cinta rakyat Indonesia dengan sepenuh hati. Sehingga masih bisa kita menjalankan ibadah di sana. Tuhan Maha Besar.

Kita tahu bahwa masyarakat di Indonesia, setiap masjid dan musala disediakan mukena untuk kaum hawa yang sedang melakukan perjalanan (musyafir).  Ini tidak pernah ada di Bosnia, juga di masjid Eropa lainnya. Mereka terbiasa mempersiapkan diri jika akan beribadah. maka sudah menutup badan (aurat) juga menutup rambut.

Konjic

Kota Konjic terletak di antara perjalanan menuju kota Mostar dari kota Sarajevo dengan jarak tempuh 50 kilometer. Kota cantik yang dikelilingi bukit dan gunung, dari kejauhan tampak gunung es bertahan di musim semi. Sekeliling Neretva River, sungguh indah dan bersih airnya. Air dari sungai ini bisa diminum dan tidak berbahaya.

Konjic juga termasuk kota tua yang juga pusat produksi ukiran kayu di Bosnia. Konjic Bridge atau Konjicka Stara Cuprija juga tak kalah menarik, sebuah jembatan yang megah dibangun Ali-aga Hacecic. Terbuat dari batu pada saat pemerintahan Raja Sulajman Ottoman tahun 1682-1683.

Old town atau kota tua Konjic memiliki Museum Zavicajn. Makam tokoh agama dan masyarakat muslim korban peperangan antar etnis, cafe, sekolah dan toko pribadi berderet sepanjang sungai menambah eksotis kota. Tampak dari kejauhan masjid, rumah  tradisional Bonia dan ternak penduduk setempat.

Jablanica

Setelah Konjic kita memasuki kawasan Jablanica,  kawasan yang penuh terowongan (tunnel) menembus batu cadas dan bukit sepanjang jalan. Berdampingan dengan lembah dan sungai Neretva yang hijau airnya, bukit dan gunung berlapis-lapis sangat cantik. Tidak kalah dengan panorama di Swiss.

Ujung gunung es abadi masih nampak di musim semi. Udara dingin nan segar membuat perut kelaparan, mampirlah kami ke Svarna Voda barbeque grill restaurant, Jablanica. Tampak daging kambing atau domba utuh berguling-guling diatas bara. Cobalah, dan carilah yang ramai pengunjung. Pastilah itu restoran yang menyajikan makanan terbaik.

Blagaj

Satu kota berikutnya sekitar 32 kilometer sesudah Mostar, sebelum kita bermalam di kota Mostar.  Di kota Blagaj Anda akan menemukan sebuah wisata alam yang menarik. Sebuah gua berair yang disampingnya berdiri rumah penduduk lama yang digunakan untuk ibadah yang disebut Dervish House. Arsitektur dan interior bernuansa Bosnia. Di dalam rumah berlantai dua tersebut terdapat musala, ruang tamu dan ruang keluarga.

Lebih menarik lagi, sebelum memasuki rumah tersebut bisa makan siang atau ngopi di restoran yang menyatu dengan aliran sungai Neretva menuju gua. Sajian khas di sini ada daging panggang (cevapi) dan masakan aneka ikan goreng segar. Ikan hasil budidaya masyarakat sepanjang sungai yang dilalui. Harus dicoba.

Mostar

Dari Blagaj kami kembali ke Mostar, kota tua Mostar. Old town yang sangat cantik, mungil, indah dengan ikon jembatan tua Mostar. Memiliki sejarah dan terkenal, kondisinya sangat bersih. Ukuran saya jika tempat wisata dengan lingkungan bersih dan nyaman pasti cantik luar biasa. Termasuk penduduknya yang ramah.

Berawal dari ujung gang menuju jembatan atau stari most (mostar bridge) sangat terasa nuansa zaman Ottoman yang menguasai Bonia lebih dari 400 tahun. Jalan terbuat dari batu tersusun rapi dan mengkilat. Kanan kiri para pedagang menjual aksesoris, cindera mata, oleh-oleh khas seperti manisan buah, cafe dan restoran.

Tampak  masjid menjulang tinggi di beberapa sudut kota, museum. Jangan lewatkan toko barang antik, Anda bisa menemukan hal yang tak terduga. Paling tidak bisa mengingatkan barang lama di kampung halaman kita Indonesia.

Sarajevo

Di hari terakhir kami kembali menuju Sarajevo, menyempatkan singgah di  Museum National  (archeology, kerajinan dan lainnya). Serta menemui teman yang sedang mempromosikan produk dan wisata Indonesia di salah satu hotel ternama.

Jalan-jalan di seputaran kota dan old town, kami melewati jembatan latin atau Latin Bridge peninggalan kerajaan Ottoman yang melintasi sungai  Miljacka Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina. Di jembatan ini putra mahkota Archduke Franz Ferdinand dari Austria Gavrilo Princip dibunuh pada 1914, sehingga memicu Perang Dunia ke1.

Kami menyempatkan mengunjungi  Sarajevski Ratni Tunel atau the Sarajevo war tunnel  yang terletak beberapa kilometer dari pusat kota, melewati batas Republik Srpska. Sedikit mengenang peperangan antar etnis yang kelam. Kami menuju rumah penduduk yang ikhlas dipakai untuk membuat terowongan bawah tanah. Rumah itu sekarang menjadi museum dan berbayar.

Tampak peralatan perang, dokumentasi surat dan foto, pemutaran film tragedi peperangan. Kami menuju terowongan bawah tanah yang mendebarkan. Tanah di Bosnia kering dan berbatu, jadi bisa dibayangkan perjuangan mereka membuat lorong bawah tanah untuk bersembunyi dan lorong pengiriman logistik bagi rakyat Bosnia yang kekurangan.

Mengingat pasukan Serbia pasti berdiam dibukit-bukit. Mengintai dengan mudah kearah lembah dan segala bantuan logistik, obat-obatan serta senjata dengan mudah mereka dapatkan. Rakyat Bosnia yang mayoritas muslim, miskin dan kelaparan berada di lembah.

Pembantain dan permusuhan antar etnis dan agama yang berbeda merenggut ribuan nyawa. Dampaknya sampai sekarang masih terasa dan tidak mudah lenyap.

Piramida Bosnia

Sebelum masuk kota Sarajevo, kami mampir di kota Visoko (Visocica) sekitar 32 kilometer dari Sarajevo. Keunikan kota yang terletak di bukit Brdo Grad/Visocica memiliki gunung berbentuk piramida yang diklaim Semir Osmanagic sebagai peninggalan nenek moyang buatan manusia terbesar di dunia. 

Para ilmuwan yang menyatakan gunung tersebut merupakan bentukan alam (flatirons). satu-satunya di Eropa. Piramid tersebut menarik wisatawan mancanegara, ditambah archeology park menjadikan sumber devisa bagi kota kecil berpenduduk muslim yang hancur karena perang saudara.

Perkembangan terakhir BiH April 2019 

Satu hal dalam melakukan perjalanan antar negara kita tidak boleh melewatkan berita penting setempat. Maupun ulasan internasional tentang kondisi negara yang akan kita tuju.

Berdasar The Economist pada 27 April 2019 Bosnia-Hercegovina mungkin akan segera memiliki pemerintahan baru. Mungkin bisa juga tidak, sepertinya tidak akan ada yang tahu.

Bosnia mengadakan pemilu Oktober 2018 tetapi partai pemenang masih belum sepakat bagaimana bentuk pemerintahannya. Kekuasaan Pemerintah pusat Bosnia lemah. Negara ini memiliki tiga Presiden bergilir, tetapi Ketua Presedensi mereka saat ini berharap rotasi jabatan tidak ada.

Puluhan ribu warganegara Bosnia berimigrasi setiap tahun keluar negara, mereka kehilangan harapan untuk masa depan. Mulai 1992-1995 Bosnia seperti Suriah pada zamannya. Sekitar 100.000 orang tewas dalam perang tiga arah antara komunitas negara itu: Serbia Ortodoks, Kroasia Katolik dan Muslimnya (sering disebut sebagai Bosniaks).

Namun, berbeda dengan Suriah, kekuatan Barat turun tangan dan akhirnya mengakhiri genosida. Mengakhiri pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa dengan maksud memusnahkan bangsa tersebut. Sebuah perjanjian perdamaian ditandatangani di sebuah pangkalan udara Amerika di Dayton, Ohio dan 60.000 penjaga perdamaian dikirim ke Bosnia.

Tetapi sampai kini orang-orang percaya bahwa kesepakatan rumit yang dibuat untuk mengakhiri perang tersebut memberi dampak pada pemerintahan yang baik. Situasi tidak menampakkan kemauan politik untuk mereformasi negara dengan cara yang dapat menguntungkan semua warganegara Bosnia.

Tulisan ini tidak bermaksud menakut nakuti wisatawan untuk berkunjung ke negri nan cantik ini. Tetapi kita tetap harus waspada. Indonesia juga bisa tidak aman seperti saat ini, konflik politik. Wisata tetap jalan terus karena berwisata adalah salah satu tindakan mensyukuri karunia Tuhan terhadap ciptaannya (alam semesta beserta isinya). Jadi, tetaplah berwisata dengan aman.

*Seniman dan penikmat perjalanan

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini