Menelusuri Kampung Wisata Payung

menelusuri-kampung-wisata-payung
Kampung wisata payung menghadirkan aneka kreasi payung kertas klasik. (Foto : Yuyun Sulastri)

Terakota.id–Aneka warna payung kertas memenuhi perkampungan padat di Jalan Laksamana Adi Sucito Gang Taruna III,  Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Payung kertas dengan beragam warna dan ornamen ini menjadi salah destinasi wisata. Sejak dua tahun lalu diresmikan menjadi Kampung Wisata Payung.

Tak hanya aneka payung warna-warni yang memanjakan mata, Namun, juga tersedia payung kertas untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Bagi pengunjung yang tertarik belajar membuat payung klasik berbahan kayu dan kertas, juga bisa mengikuti workshop bareng maestro payung kertas Rasimun, 95 tahun. Akrab disapa Mbah Mun.

menelusuri-kampung-wisata-payung
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendy meresmikan kampung payung 12 November 2017. (Foto : Yuyun Sulastri)

“Mbah Mun menjadi perajin sejak remaja, usia belasan tahun,” kata Yuyun Sulastri. Dia merupakan salah satu sosok yang mendorong Mbah Mun terus berkreasi melestarikan kerajinan payung kertas. Serta menciptakan kreasi payung, selain digunakan untuk seni tari, juga berfungsi dekoratif dan ritual budaya.

Dulu, katanya, payung kertas berfungsi sebagai pelindung saat hujan. Bahkan pada masa kolonial, banyak pejuang yang menyamar menjadi perajin payung. Mereka menyamar agar bisa masuk ke rumah pejabat militer Belanda. “Pejuang menyamar, kemudian mencuri bom dan granat,” katanya.

Namun, karena perkembangan teknologi, payung kertas tergeser hadirnya payung berbahan kain. Sehingga pendapatan menurun, dan Mbah Mun beralih pekerjaan mengayuh becak. Sejak 30 tahun lalu ia kembali membuat paying kertas hingga sekarang. Mbah Mun memiliki motif khas berupa “Kembang Mekar” di atas kertas payung berwarna merah dan hijau.

Tak menggunakan kuas, untuk mendekorasi payung  menggunakan batang bambu yang dicacah menyerupai kuas. Lantas cat dioleskan dengan motif bunga warna-warni menarik hati. Metode pembuatan payung kertas dilakukan secara tradisional tanpa mesin.

Dimulai dengan membuat kerangka, dan gagang payung. Semua berbahan bambu dan kayu. Kemudian payung dilapisi kertas dengan lapisan cat warna-warni dengan dekorasi bunga. Payung berdiameter 40 centimeter dijual Rp 35 ribu, sedangkan diameter 70 centimeter dijual Rp 50 ribu.

“Mbah Mun tak mau dibayar dulu, sehingga modal selalu menjadi kendala,” katanya. Untuk membuat payung setidaknya dibutuhkan dana khusus untuk modal usaha. Mbah Mun, katanya, menolak dibayar dulu.

Karena kesulitan modal, Mbah Rasimun menolak pesanan 2.500 payung. Selain itu, saat ini ada pesanan 150 payung. Sejauh ini, katanya, tak ada manajemen khusus yang menangani payung kertas. Termasuk memberi hak royalti bagi Mbah Kartimun sebagai sesepuh seniman payung kertas.

Mbah Rasimun Sakit

Mbah Rasimun setiap pekan mampu memproduksi sekitar 40 payung. Kini, kondisi kesehatan menurun. Mbah Rasium sakit-sakitan sehingga tak maksimal membuat payung. Paling banter, kata Yuyun, sepekan mampu memproduksi satu payung. Untuk itu, Yuyun menggagas lelang payung karya Mbah Mun untuk persiapan pensiun.

Lelang diselenggarakan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang 4-6 Maret 2020. Puluhan payung dipajang di lobi utama gedung DPRD Kota Malang. Namun, selama tiga hari pameran dan lelang, tak banyak dana yang terkumpul. Yuyun tak menyerah bersama Koalisi Seni Indonesia tengah digagas pameran dan lelang di Jakarta di Bentara Budaya Jakarta pada April mendatang.

Ada sentuhan seniman peduli dan difabel atau anak berkebutuhan khusus di payung karya Mbah Rasimun. Mereka memberi tambahan dekorasi lukisan bunga aneka jenis di atas kertas payung. Sebagian payung juga dilapisi kain sehingga lebih menarik. “Uang yang terkumpul diserahkan untuk Mbah Rasimun,” ujarnya.

Pemerintah, katanya, sudah  banyak membantu Mbah Mun. Antara lain diundang menjadi pemateri workshop membuat payung juga membeli payung yang diproduksi. Namun, Mbah Rasium tak bisa berkarya sepanjang hidup. “Mbah Mun sudah tua, harus dipikirkan,” katanya.

Apalagi, Mbah Mun kerap mengharumkan nama Kota Malang di pentas seni nasional. Sehingga di usia senja, Mbah Mun bakal pensiun dan tak mungkin bisa berkarya. Untuk itu perlu uluran tangan pemerintah. Salah satunya dengan bantuan iuran BPJS Kesehatan.  “BPJS untuk seniman, bukan karena miskin,” ujarnya.

menelusuri-kampung-wisata-payung
Yuyun Sulastri menunjukkan sejumlah payung karya Mbah Rasimun di gedung DPRD Kota Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Selama ini, seniman yang mendapat bantuan BPJS Kesehatan dikategorikan keluarga miskin. Sehingga sejumlah seniman menolak bantuan tersebut. Ia juga berharap asuransi kesehatan bagi seniman sepuh bisa diterapkan secara nasional. Pemerintah bisa mendata seniman yang berhak mendapat pensiun atau iuran BPJS Kesehatan.

Sampai sekarang, katanya, tak ada bantuan asuransi kesehatan bagi seniman. Misal, kata Yutun, bantuan diberikan bagi seniman yang berusia 50 tahun ke atas. Kondisi ini, katanya, menjadi pelajaran bagi seniman lain agar bisa menyiapkan masa tua, sejak dini. “Agar seniman muda tetap semangat berkarya,” ujarnya.

Payung kertas diguakan ritual, dekotatif dan menari. Saat pameran di Jawa Tengah payung karya Mbah Mun dibeli keraton Surakarta yang akan digunakan untuk ritual mencuci keris dan kendi. Sejak tiga tahun lalu, Mbah Mun turut hadir dalam Festival Payung Indonesia di Prambanan.

Yuyun berharap payung kertas asal Kota Malang seperti di Thaliand tetap dipertahankan sebagai payung untuk keseharian. Saat musim hujan, mereka tetap menggunakan payung klasik. Khususnya bagi anak muda, tampil gaya dan tetap menarik. Seluruh bagian payung terbuat dari kayu.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini