Menelusuri Jejak Permukiman Keagamaan melalui Prasasti Wonosegoro

Prasasti Wonosegoro, sebagian aksara Jawa kuno telah aus. (Foto : koleksi pribadi).

Oleh : Riri Rahajeng

Terakota.id–Sebuah batu monolit bertulis aksara jawa kuno ditemukan tergolek
di Dukuh Wonosegoro, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Hamparan tanaman tebu dan rumput gajah menutupi sebuah prasasti dipahat di atas batu monolit. Lokasinya cukup jauh dari permukiman, ditempuh dengan berjalan kaki. Berada di tengah perkebunan dengan kontur jalan tanah berbukit dan licin.

Prasasti ditemukan warga, dan dilaporkan kepada Dinas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Usai mendapat laporan petugas BPCB mendata awal hasil temuan tersebut. Mencatat dan mendokumentasikan sebagai temuan benda cagar budaya yang harus diteliti. Jalan menuju tempat ditemukan prasasti sangat curam dan licin melewati perkebunan sayur penduduk

Prasasti batu monolit ini kemungkinan insitu, keberadaannya belum pernah berpindah atau sengaja dipindahkan. Sebagian badan batu bersisi prasasti ini masih tertimbun tanah perkebunan. Lokasi temuan, berada di aliran sungai yang banyak batu andesit dari erupsi Gunung Merapi.

Batu monolit berukuran panjang 100 centimeter dan lebar 20 centimeter. Prasasti dipahat dengan aksara Jawa kuno dengan ukuran aksara setinggi 3 centimeter dan panjang 5 centimeter. Arkeolog Goenawan A Sambodo membaca inskripsi batu monolit Wonosegoro menyebut prasasti tertulis tahun 823 Saka bulan Jyesta tanggal 5 paro terang atau tanggal 25 Mei 901 Masehi.

Epigraf lulusan Univesitas Gadjah Mada yang juga mengajar aksara jawa kuno ini, belum bisa menerjemahkan isi prasasti dengan jelas. Lantara hanya membaca inskripsi dari foto yang dikirimkan. Selain itu, kondisi batu prasasti berada di alam terbuka selama ribuan tahun, turut membuat sebagian aksara yang terpahat di batu tersebut menjadi samar dan aus.

Epigraf yang biasa disapa Mbah Goen ini menjelaskan hasil bacaan sementara memperkirakan adanya Karesian. Prasasti diperkirakan dikeluarkan pada masa pemerintahan Rakai Watukura Dyah Balitung yaitu Raja Mataram Kuna yang berkuasa pada 898-908 Masehi, menurut Prasasti Wanua Tenah III.

Karesian berkaitan dengan isi prasasti Wonosegoro, dimungkinkan berada di sekitar wilayah temuan. Karesian bisa diartikan sebagai pemukiman resi. Sehingga diperkirakan wilayah ini merupakan kompleks permukiman, tempat tinggal atau tempat belajar keagamaan. Jadi Karesian adalah pemukiman keagamaan.

Dalam kitab lontar yang mengisahkan perjalanan Bujangga Manik, seorang pangeran dari tanah Sunda yang menghabiskan hidupnya berpetualang menjelajahi Pulau Jawa hingga Bali pernah menyinggung permukiman keagamaan di sekitar Gunung Damalung. Saat ini kita kenal dengan Gunung Merbabu.

Dalam kisahnya, Bujangga Manik menetap dalam jangka waktu cukup lama di lereng Gunung Damalung untuk belajar agama. Bahkan saking lama tinggal di sini, Bujangga Manik mengisahkan bisa berbahasa Jawa sebaik dirinya berbahasa Sunda.

Padahal Ibunya menyuruh Bujangga Manik untuk belajar keagamaan di Palah. Kemungkinan Palah merupakan komplek Candi Penataran yang berada di daerah Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Namun ternyata Bujangga Manik lebih memilih belajar agama di lereng Gunung Damalung.

Jalur menuju lokasi temuan Prasasti Wonosegoro, licin dan menanjak. (Foto : dokumen pribadi),

Kisah perjalanan Bujangga Manik diperkirakan terjadi pada kurun abad XIV-XV Masehi, jadi terpaut sekitar 500 tahun dengan Prasasti Wonosegoro. Rentang waktu yang cukup lama bisa merubah keadaan daerah Wonosegoro tempat ditemukan prasasti era Dyah Balitung.

Selama 500 tahun di daerah ini bisa saja terjadi bencana alam seperti banjir, gempa bumi hingga erupsi Gunung Merapi atau Gunung Merbabu. Atau terjadi bencana akibat ulah manusia seperti perang, wabah penyakit maupun kelaparan.

Namun setidaknya berdasarkan penemuan Prasasti Wonosegoro bisa diperkirakan kemungkinan ada permukiman keagamaan. Permukiman keagamaan itu masih ada saat Bujangga Manik datang untuk belajar agama. Terlebih lagi, permukiman keagamaan ini disebut berada di lereng Gunung Damalung sekitar kurang lebih selama 500 tahun yaitu antara tahun X-XV Masehi.

Gunung Damalung atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Gunung Merbabu menjadi salah satu gunung terfavorit para pendaki gunung. Lantaran jalur bersahabat bagi pendaki pemula. Gunung dengan ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut (m.dpl), memiliki jalur terbanyak di Indonesia dengan lima kawah yang sudah tak aktif.

Dua Prasasti Penting di Boyolali
Masyarakat sekitar menganggap Gunung keramat dan dipercaya penunggunya bernama Eyang Kerto dan Rsi Markandeya. Nama Rsi Markandeya banyak disebut di Pulau Bali dan sebagian daerah di ujung timur Pulau Jawa. Namun cerita Rsi Markandeya yang dipercaya sebagai penunggu Gunung Merbabu tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Mengingat di kawasan lereng Gunung Merbabu pernah berdiri permukiman keagamaan.

Sampai saat ini Boyolali ditemukan dua buah prasasti. Pertama Prasasti Pengging ditemukan di Boyolali memuat data penting. Yakni sebagai satu-satunya prasasti yang dikeluarkan Rakryan Garung. Prasasti Rakryan Garung berupa lempengan tembaga ditemukan di daerah Pengging Boyolali. Sering disebut dengan Prasasti Pengging.

L. Ch. Damais menyebut prasasti Pengging dikeluarkan Rakryan I Garung pada 741 Saka atau pada tanggal 21 Maret 819 Masehi. Sayangnya isi prasasti tidak lengkap atau mungkin sebagian hilang. Lantaran tidak menyebutkan nama tempat atau daerah yang dijadikan sima. Sehingga angka tahun prasasti tidak bisa digunakan untuk menetapkan hari jadi Kabupaten Boyolali.

Sedangkan Prasasti Wonosegoro memberikan informasi masyarakat Boyolali mengetahui keberadaan permukiman keagamaan besar dan terkenal di Pulau Jawa. Berdiri selama kurang lebih 500 tahun. Jadi sebelum Boyolali terkenal dengan kota penghasil susu sapi, ratusan tahun lalu Boyolali terkenal dengan sekolah keagamaan di tanah Jawa ini.

Riri Rahajeng

Artikel ini merupakan salah satu karya Terasiana bertema desa dan kampung bersejarah yang diselenggarakan Terakota.id. Masih ada kesempatan mengirim karya. Silahkan mengirimkan karya melalui surat elektronik ke : redaksi@terakota.id, dengan subjek Terasiana_judul tulisan.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini