Menelusuri Jalur Leluhur Suku Tengger Gunung  Bromo

bulan-bebas-kendaraan-bermotor-di-kaldera-tengger-demi-pulihkan-alam-dan-kearifan-lokal
Wisatawan berkuda di kawasan lautan pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur 21 Juli 2018. Mereka menyewakan jasa menunggang kuda kepada wisatawan yang ingin menuju puncak gunung Bromo dengan tarif berkisar antara 100-150 ribu. Terakota.id/Aris Hidayat

Terakota.id–Pagi menyapa, hawa dingin membekap tubuh. Menghirup udara segar pegunungan, serta merasakan tinggal bersama masyarakat adat Tengger Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang  bakal menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ada kekhasan, yang tak akan dijumpai di permukiman di tempat lain.

Waktunya berkeliling kampung Ngadas melihat kesibukan warga Tengger mulai pagi buta. Sejumlah warga berselimut sarung bergegas ke kebun untuk mengolah tanah dan merawat tanaman. Seorang lelaki menunggang kuda menapaki jalan desa menuju Gunung Bromo. Pemilik kuda merupakan penyedia jasa kuda di area wisata gunung api Gunung Bromo.

Berwisata di permukiman suku Tengger, Ngadas menjadi alternatif wisata setelah kawasan kaldera Tengger di sabana dan lautan pasir dilarang untuk aktivitas kendaraan bermotor. Kawasan hanya diperuntukkan berjalan kaki dan menunggang kuda. Bulan bebas kendaraan bermotor alias Car Free Day mulai 24 Januari sampai 24 Februari 2020.

Kawasan yang dilarang dimulai dari pintu masuk coban Trisula Kabupaten Malang dan pintu masuk Senduro, Kabupaten Lumajang di Jemplang. Juga di pintu Tengger laut pasir Kabupaten Probolinggo di Cemorolawang dan pintu masuk Resort Gunung Penanjakan Wonokitri Kabupaten Pasuruan di Pakis Bincil

“Tokoh adat dan dukun Tengger meminta bulan bebas kendaraan bermotor,” kata Kepala BBTNBTS, Jhon Kenedie dalam siaran pers yang diterima Terakota.id. Saat ini wulan kapitu atau bulan ketujuh dalam kalender Tengger. Menurut sesepuh dan tokoh masyarakat adat Tengger wulan kapitu merupakan bulan yang disucikan (megengan wulan kepitu).

bulan-bebas-kendaraan-bermotor-di-kaldera-tengger-demi-pulihkan-alam-dan-kearifan-lokal
Wisatawan berkuda di kawasan lautan pasir Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur 21 Juli 2018. Mereka menyewakan jasa menunggang kuda kepada wisatawan yang ingin menuju puncak gunung Bromo dengan tarif berkisar antara 100-150 ribu. Terakota.id/Aris Hidayat

Selama sebulan penuh, sesepuh dan tokoh adat Tengger mengikuti ritual “laku puasa mutih” atau puasa putihMereka menahan perilaku atau sifat keduniawian dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Sehingga untuk menghormati megengan wulan kepitu, seluruh aktivitas di kawasan Kaldera Tengger  mulai laut pasir, Bromo, sabana dan sekitarnya tidak diperkenankan menggunakan kendaraan bermotor.

Aktivitas petani merawat tanaman kentang juga menjadi sesuatu yang unik di Ngadas. Jika beruntung, Anda bisa ikut mengolah lahan, merawat tanaman kentang atau panen kentang. Masa musim tanam pada Februari sampai Juli.

Kentang merupakan salah satu hasil bumi di Ngadas. Beraktivitas kebun bareng petani mengasyikkan, apalagi sifat masyarakat Tengger Ngadas yang terbuka. Mudah berinteraksi dengan siapa saja sembari makan bersama di kebun. Nikmat.

Masyarakat Ngadas menjaga kepemilikan kebun sebagai sumber utama kehidupan. Lantaran sebagaian besar bekerja sebagai petani. Untuk menjaga kedaulatan atas tanah, mereka bersepakat tak mengizinkan orang luar Ngadas memiliki lahan. Pemerintah Desa Ngadas menetapkan tanah dilarang dijual ke warga luar Ngadas dalam Peraturan Desa.

Ranupani Gunung Semeru
Tanaman sayuran terhampar luas di kebun warga di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Terakota/id/Eko Widianto)

Leluhur suku Tengger di Ngadas memiliki jalur setapak menuju Gunung Bromo. Jalur leluhur ini kerap digunakan secara turun temurun untuk melakukan ritual Yadnya Kasada di kawah Gunung Bromo. Sedangkan jalur mobil dibangun sejak 1995 untuk memudahkan wisatawan menempuh perjalanan menuju Gunung Bromo.

Kini, jalur leluhur ini menjadi paket wisatawan bagi  turis mancanegara. Sebagian besar merupakan turis dari Negara Eropa, terutama anak muda yang tertarik berpetualang. Didampingi seorang tour guide yang akan menceritakan jalur leluhur itu sepanjang jalan.

“Diminati wisatawan mancanegara sejak dua tahun terakhir,” kata Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Adas Mistar Harjo.

Ada petilasan, tempat leluhur beristirahat dan makan. Bahkan tempat ritual di Widodaren yang dilakukan ritual saban jumat legi. Gua widodaren merupakan tempat memuja yang disakralkan. Sedangkan setiap pertigaan suku Tengger membuat tetamping atau sesaji. Berupa makanan, jajanan dan lauk yang dibungkus daun.

Perjalanan sejauh tujuh kilometer berjalan kaki ditempuh selama tiga jam. Biasanya dimulai pukul 07.00 WIB. Sedangkan turis mancanegara manula menyukai paket sunrise. Yakni menyaksikan matahari terbit di Penanjakan. Cocok sebagai alternatif wisata untuk menyambut bulan tanpa kendaraan di Gunung Bromo.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini