Menelisik Reruntuhan Candi Gasek

Terakota.id–Sebuah batu andesit pipih teronggok di halaman belakang rumah Muryadi, warga Jalan Candi, RT 5 RW 6, Dusun Gasek, Karang Besuki, Sukun, Kota Malang. Salah satu sudut batu berbentuk lancip, relief bercorak bunga tampak jelas di sisi depan.

Batu setinggi 50 sentimeter dengan lebar 40 sentimeter itu adalah antefiks, sebuah potongan atap bangunan candi. Di tepi selokan pelataran rumah Muryadi, juga ada sebongkah batu andesit lainnya. Jauh lebih tebal, dengan relief yang sudah tertutup dengan lumut.

“Sudah ada di sekitar rumah sejak puluhan tahun silam,” kata Muryadi.

Rumah Muryadi hanya berjarak beberapa meter dari pemakaman umum Gasek. Di dalam area pekuburan itu, terdapat situs Candi Karang Besuki atau Candi Gasek yang sudah tidak berbentuk. Hanya menyisakan batur atau pondasi kaki candi. Dua bongkah batu andesit di rumah Muryadi diyakini adalah sisa reruntuhan candi itu.

Lokasi Candi Karang Besuki diketahui berdasarkan hasil laporan peneliti kepurbakalaan Hindia Belanda pada tahun 1900an. Saat ditemukan, kondisinya hanya berupa reruntuhan dengan batur berada 1,5 meter di dalam permukaan tanah. Namun, terus tergerus dan semakin rusak parah pada medio 1965-1967.

“Diduga bebatuan candi banyak diambil orang, dipakai untuk membangun rumah. Sehingga hancur,” kata arkeolog Universitas Negeri Malang, M. Dwi Cahyono.

Sehingga, penamaan lain Candi Karang Besuki dengan sebutan candi wurung atau candi yang gagal diselesaikan pembangunannya dinilai tidak tepat. Sebab struktur bangunan candi ini sebenarnya sudah ada, tapi hancur akibat dirusak atau dijarah manusia. Bukti lainnya, ada beberapa arca yang bisa diselamatkan.

Reruntuhan batur atau pondasi Candi Karang Besuki atau Candi Gasek Kota Malang. (Terakota/Zainul Arifin).

Lokasi candi ada di lembah Kali Metro. Tinggi bangunannya diperkirakan 8 meter dengan posisi menghadap ke barat. Arca Resi Agastya ada di relung selatan dinding luar candi. Beruntung arca ini bisa diselamatkan dan kini disimpan di Museum Mpu Purwa. Sedangkan di relung timur ada arca Ganesha, sudah dipindah ke situs Watu Gong.

Sedangkan arca Durga sudah hilang. Di bagian tengah masih ada sebuah yoni, sedangkan bagian lingga juga telah hilang. “Sebenarnya juga ada arca Mahakala dan Nandiswara, sayangnya keduanya juga sudah hilang,” ucap Dwi Cahyono.

Di sekitar candi utama, diperkirakan ada tiga buah candi kecil berbahan batu bata kuno. Namun sudah tak ada sedikitpun puing – puingnya. Tapi, sisa – sisa bahan bangunannya berupa batu bata kuno masih bisa ditemukan. “Kalau mau ditelusuri lagi, kemungkinan besar masih bisa ditemukan sisanya,” ujar Dwi.

Peradaban Kali Metro

Candi Karang Besuki diperkirakan mulai dibangun pada abad 8 Masehi di masa Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan. Jika melihat relief pada antefiks dan sisa reruntuhan struktur banguannya, candi ini cenderung berlanggam Jawa Tengah. Ukurannya sedikit lebih kecil dari Candi Badut. Kedua candi ini lokasinya cukup dekat.

Maka, diperkirakan pembangunan kedua candi itu masih satu zaman, terpaut tak terlalu jauh. Lokasi Candi Karang Besuki atau Candi Gasek sendiri ada di perbukitan, dipagari oleh sungai suci Kali Metro. Kata Gasek mencerminkan kondisi topografi yang ada di dataran tinggi, tak tergenang karena di atas Kali Metro.

Arkeolog Universitas Negeri Malang M. Dwi Cahyono menunjukkan reruntuhan berupa batur atau pondasi Candi Karang Besuki atau Candi Gasek. (Terakota/Zainul Airifin).

Nama Gasek disebut beberapa kali dalam Prasasti Ukir Negara atau Prasasti Pamotoh berangkat tahun 1120 Saka atau 1198 Masehi. Di prasasti itu disebutkan tokoh Rakai Pamotoh di desa perdikan Gasek, tempat berdirinya sebuah bangunan suci. “Rakryan atau rakai itu pejabat di bawah raja. Candi ini di bawah kendali Kerajaan Kanjuruhan,” kata Dwi Cahyono.

Lokasi berdirinya Candi Karang Besuki atau Candi Gasek yang berdekatan dengan Candi Badut menunjukkan peradaban tinggi di lembah Kali Metro. Telah ada sejak 760 Masehi masa Kerajaan Kanjuruhan. Cukup banyak temuan prasejarah di sepanjang wilayah ini. Satu candi lagi sebenarnya juga ada di wilayah ini, Candi Watu Kosek. Sayangnya, candi ini sudah hancur total.

“Ini menunjukkan di sepanjang lembah Kali Metro sudah ada peradaban tinggi karena jadi pusat kedatuan,” ujar Dwi Cahyono.

Karena itu pula, di kawasan ini diyakini masih banyak berserakan peninggalan arkeologis. Butuh pemahaman masyarakat agar mau melestarikan dan melaporkan tiap temuan benda purbakala. Karena itu berkaitan dengan sejarah desa mereka.

 

 

 

Tinggalkan Pesan