Meneladani Tirto Adhi Soerjo, Sang Perintis Pers Indonesia

Oleh : Faizal Ad Daraquthny*

Terakota.id—Pasti banyak yang telah membaca atau mendengar Minke tokoh rekaan dalam buku Bumi Manusia. Pramoedya Ananta Toer dalam novel Tetralogi Buru menciptakan Minke terinspirasi dari seorang tokoh pers zaman Hindia Belanda bernama Tirto Adhi Soerjo (TAS). Pemerintah Indonesia mengukuhkan TAS sebagai Bapak Pers Nasional sekaligus Pahlwan Nasional.

TAS ditetapkan sebagai Bapak Pers Nasional pada 1973 lebih dari setengah abad sejak ia meninggal. Sementara gelar Pahlawan Nasional diberikan setelah reformasi melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 85/TK/2006. Tirto tercatat sebagai seorang perintis pers pribumi karena pertama kali menerbitkan koran yang dimiliki, dikelola, dan diperuntukkan bagi pribumi, lewat Soenda Berita (SB).

Kemudian disusul tiga media yang lain seperti Medan Prijaji (MP), Soeloeh Keadilan (SK), dan Poetri Hindia (PH). Pram sebagai seorang sastrawan tampak mengagumi tokoh TAS yang hidup pada peralihan abad 19 ke abad 20 ini. Selain Tetralogi Buru, Pram juga pernah menulis sebuah otobiografi TAS.

Berikut beberapa hal menarik dari Tirto yang patut diteladani jurnalis masa kini:

  1. Tirto Penulis yang Tekun

Jauh sebelum Tirto bergabung sebagai redaktur di Pembrita Betawi maupun mendirikan medianya sendiri, ia kesengsem dengan dunia tulis-menulis. Sejak tercatat sebagai anak didik di Sekolah Dokter Jawa (STOVIA) ia menulis di Chabar Hindia Olanda dan Pewarta Priangan. Dua suratkabar ini memuat tulisan Tirto sebelum akhirnya berlabuh di Pembrita Betawi (PB) sebagai redaktur dan Pemimpin Redaksi (Pimred).

Padahal, pada saat itu terdapat sebuah aturan salama masih menjadi anak didik STOVIA dilarang mengirim tulisan kepada suratkabar. Namun karena panggilan hati mantap ke dunia jurnalistik, Tirto pun tidak mundur. Malah ketika ia akhirnya dikeluarkan dari STOVIA[1], karena beberapa pelanggaran salah satunya menulis di suratkabar. Selain itu juga karena memberikan resep obat untuk sahabat dari etnis Thiongjoa yang tengah sakit.

Padahal sebagai seorang siswa STOVIA yang belum lulus, itu termasuk pelanggaran berat. Tirto dikeluarkan pada 1900 ketika ia tengah menempuh pendidikan sekitar enam. Kejadian ini menjadi titik balik kehidupannya. Ia semakin tekun menulis.

Tidak hanya menulis sebuah artikel, Tirto pun memiliki hobi dalam menulis kronik tentang kejadian di seluruh dunia berdasarkan kronologi waktu kejadian. Sejak ia menjadi redaktur di PB hingga berlanjut pada suratkabar yang didirikannya sendiri Soenda Berita (SB). Dengan membuat kronik itu, Tirto dapat melihat pertumbuhan masyarakat dan politik di Hindia dan Internasional.

  1. Tirto si Multitasker Sejati

Dalam era revolusi industri 4.0 seorang jurnalis dituntut bekerja berlipat ganda. Mulai menulis berita, mengambil foto atau gambar, merekam video dan lain sebagainya. Kemajuan teknologi memungkinkan jurnalis melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dengan gadget atau gawai. Meski tetap ada spesialisasi individu sesuai dengan profesi masing-masing.

Ilustrasi karya Faizal Ad Daraquthny

Misal, seorang jurnalis tak mungkin mengurusi bagian keuangan, distribusi atau sikulasi dan iklan. Semua pekerjaan mustakhil dikerjakan seorang diri. Namun Tirto, saat mendirikan SB 1903 mengelola sebuah perusahaan media seorang diri. Mulai mencari berita, mengurus administrasi persuratan, mencetak koran, sampai menagih uang langganan yang macet.

Itu semua dilakukan seorang diri. Padahal pada zaman itu, tentu belum ada sistem pembayaran daring, surat elektronik, atau internet banking. Semua dilakukan secara manual yang tentu saja menghabiskan waktu, biaya, dan tenaga yang lebih dibandingkan saat ini.

  1. Jurnalis yang Fleksibel

Tirto bisa dibilang sebagai perintis pers ala Indonesia. Sebagai seorang perintis tidak memiliki contoh untuk ditiru. Tirto harus menemukan sendiri bagaimana medianya berjalan. Namun ada sebuah semboyan atau nilai yang ia pegang selama menjadi jurnalis. Bahwa media adalah pengawal pikiran umum.

Pers dengan tulisannya, apalagi pada masa pemerintahan Belanda di Hindia, memiliki kekuatan sendiri untuk membentuk pikiran publik. Sehingga tergantung jurnalis yang bekerja, apakah menggunakan kakuatan itu untuk kepentingannya sendiri, atau untuk kepentingan masyarakat.

Dengan kesadaran itu, Tirto membawa medianya berada di jalan tengah. Ketika pemerintahan Hindia Belanda menjalankan program dengan baik, Tirto mengapresiasnya. Tetapi jika pemerintah keliru tidak segan untuk mengkritisinya. Sikap ini membuat tulisan Tirto terkadang menyanjung pemerintahan Belanda, tetapi pada waktu yang lain dengan tajam mengkritisinya.

Sikap Tirto pantas ditiru jurnalis masa kini. Menulis sesuatu berita yang positif karena memang baik, dan mengkoreksi jika salah. Dengan kefleksibelan Tirto itu yang mengantarnya dekat dengan pemerintah Hindia Belanda sekaligus tidak melupakan misi mengawal pikiran publik.

  1. Tidak Berhenti Belajar

Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat merupakan peribahasa populer yang digunakan untuk membangun semangat belajar yang tinggi. Tirto sebagai seorang jurnalis mempraktikkan ini. Sebagai seorang jurnalis ia sadar untuk tidak sekedar memberikan informasi semata, melainkan membuat pembacanya juga mengerti apa yang disampaikan.

Untuk membuat pembacanya paham, tentu saja seorang jurnalis harus terlebih dahulu paham. Sehingga ia pun bertambah giat mempelajari berbagai macam hal. Sehingga berdampak pada ragam isu yang ditulis di korannya. Mulai isu kesehatan karena, sains, politik, pendidikan, ekonomi, hingga hukum.

Padahal untuk sebuah koran, tema kesehatan dan hukum termasuk jarang ditemukan pada masa itu. Tirto membuka peluang bagi para pembacanya untuk menanyakan berbagai hal yang tidak ia ketahui, termasuk masalah penyakit dan pasal-pasal di Staatsblad lembar Negara atau perundang-undangan. Pada masa kolonialisme Hindia Belanda, Undang Undang biasa ditulis dengan bahasa Belanda, padahal hukum-hukum itu juga berlaku bagi kaum pribumi dan bangsa lain yang dipersamakan statusnya.

Sehingga Tirto dengan medianya mengartikan pasal-pasal itu agar dapat dipahami pribumi dari kalangan bawah. Tirto dapat berperan sebagai dokter sekaligus advokat dengan medianya. Tentu saja ini bisa dia lakukan karena tidak berhenti mempelajari hal-hal baru.

  1. Maju Bersama Rakyat

Mungkin kalimat di atas sering digunakan oleh caleg di masa-masa mendekati pemilu seperti saat ini. Tapi kalimat ini saya rasa tidak berlebihan untuk sosok Tirto Adhi Soerjo. Tirto tidak hanya sebagai seorang jurnalis semata, ia juga mempelopori beberapa perhimpunan pergerakan di Hindia Belanda.

Yang pertama ada Sarekat Prijaji (SP), organisasi perhimpunan ningrat-ningrat di tanah Hindia pada tahun 1906, dua tahun sebelum Boedi Oetomo (BO) lahir. Walau sama-sama membawa semangat untuk memajukan pendidikan di tanah Hindia, anggota SP tidak terbatas oleh kesukuan seperti BO yang anggotanya khusus kalangan Jawa.

SP lahir dengan semangat pemerataan akses pendidikan bagi Pribumi. Karena itu program-programnya dibuat selalu mengarah ke pendidikan mulai dari asrama siswa, sekolah TK, pinjaman biaya pendidikan hingga beasiswa. Selama berdirinya SP dikatakan memiliki setidaknya 700 anggota. Sayangnya SP tidak berumur panjang dan harus berhenti.

Gagal menjaga kelangsungan SP membuat Tirto berhenti memajukan bangsanya lewat organisasi. Pada 1909 Tirto kembali mendirikan organisasi perhimpunan yang lebih global, yakni Sarikat Dagang Islamiah (SDI). SDI dibangun untuk memajukan para pedagang Islam di Hindia tanpa ada batasan suku, golongan, ras, maupun status.

Tirto mungkin membaca bahwa jalan terbaik untuk memajukan bangsanya adalah dengan tidak bergantung pada pemerintah ataupun kaum ningrat, tapi dengan usaha kolektif dari kaum ‘Mardika’ atau partikelir yakni orang yang mencari penghidupan tidak dari pemerintahan, seperti petani dan lain-lain.

Dibandingkan dengan SP, SDI terbilang sukses besar. Banyak cabangnya didirikan di kota-kota besar di Hindia, mulai dari Solo, Surabaya Madiun, Batavia, hingga Bandung. Anggotanya ditaksir tak kurang dari 30 ribu orang. Simpati masyarakat Hindia terhadap SDI begitu besar, hingga memiliki posisi tawae dan ditakuti Residen Surakarta.

Namun sayang setelah mendirikan SDI, Tirto terbelit kasus delik pers dan Medan Prijaji diputuskan pailit oleh Pengadilan Hindia Belanda. Lantas SDI diambil alih Samanhoedi dan Tjokroaminoto dan ditranformasikan menjadi Sarekat Islam. Kelak menjadi cikal bakal berdirinya Partai Komunis Indonesia.

  1. Tidak Putus Asa

Sepanjang karir jurnalistik Tirto, ia beberapa kali diancam dan keluar masuk pengadilan karena terkena kasus delik pers. Memang sebagai seorang jurnalis yang melahirkan karya jurnalistik yang kritis, tentu ada pihak yang tidak senang. Begitu pun kalangan pemerintahan, baik Hindia Belanda maupun priyayi lokal yang tidak senang dengan tulisan Tirto.

Tercatat ia sudah dua kali dihukum buang oleh Pemerintahan Hindia Belanda. Pertama adalah kasusnya dengan A. Simon terkait penghinaan lewat tulisan. Tirto dibuang selama tiga bulan di Lampung pada 1909. Kedua, ketika MP terlilit utang dan laporan delik pers sehingga dibuang ke Ambon, Maluku pada 1912.

Walau tahu tentang risiko besar dari pekerjaannya sebagai jurnalis, Tirto tetap melakukannya sebagai jalan hidupnya. Karena kebenaran memang tidak akan bisa menyenangkan semua orang, tapi sebagai jurnalis, kita wajib mengabarkannya.

*Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini