Meneladani Gus Solah dan Mas Tommy Berarti Melanjutkan Perjuangannya

gus-dur-syiir-tanpo-waton-the-untold-story
Tradisi berdialektika ditanamkan dalam keluarga KH.Wahid Hasyim. Perbedaan pandangan tak menyebabkan renggangnya persaudaraan. (Foto : Kompas.com).

Reporter : Wahyu Eka Setyawan* 

Terakota.id–Ada empat sosok yang membuatku patah hati di rentang 2019-2020 ini. Mulai Kiai Haji Miming pimpinan Biro Pengabdian Masyarakat Ponpes Annuqayah, begitu muda saat meninggalkan kami. Sosok yang penuh dedikasi bagi perjuangan umat, banyak memberi sumbangsih bagi perjuangan kemaslahatan ekologis. Tentu, sosok yang gemar membuat puisi indah, kritis dan membumi, kepergiannya benar-benar terasa berat.

Lalu, aku merasa kehilangan lagi, tangisku pecah dan meledak. Kala mendengar Mbah Moen berpulang ke rahmatullah. Sosok guru yang bersahaja, punya pendirian dan pilih tanding, telah meninggalkan kami semua. Aku bukan santri pondoknya, tapi beberapa kali sowan dan ‘ngangsu ilmu’ ke beliau. Kedekatan begitu terasa, kala wejangannya benar-benar menggelitik sanubari. Kepergiannya, membuatku bersemangat untuk menabung dan pergi ke baitullah di Mekah, berziarah ke makam Nabiyullah Muhammad dan beliau.

Sebagai seseorang yang bergiat di dunia sosial, Februari 2020 benar-benar menambah pecah kepedihan. Kala sahabat kami, kawan kami, Tommy Apriando pulang ke rahmatullah. Ia sosok wartawan yang punya dedikasi, tidak ‘nakal,’ tulus dalam memperjuangkan demokrasi. Banyak liputannya membuka mata kami, bagaimana ketimpangan dan ketidakadilan benar-benar nyata.

Membuat zona nyaman terusik, sehingga kita benar-benar sadar, bahwa Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Perlu tangan kita untuk memperbaikinya dan merubahnya agar sesuai cita-cita yang tercatat di Pancasila.

Terakhir, sosok yang membuat patah hati adalah kepergian Kiai Haji Salahudin Wahid atau Pak Solah, atau Gus Solah. Sosok pengasuh Pondon Pesantren Tebuireng, cucu Hadratus Syaikh Kiai Haji Hasyim Asy’ari, adik guru kami KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sosok panutan, lurus dalam sikap dan pemikiran. Walau saya beberapa kali skeptis dengan beliau, tetapi saya tetap murid beliau, penganggumnya.

Sosok yang selalu kritis dengan situasi NU terkini, silahkan baca refleksi hari lahir NU di harian Kompas. Maka kamu akan menemukan siapa sebenarnya Pak Solah. Gus Solah bukan Gus Dur, tetapi sumbangsihnya untuk dunia pendidikan dan bangsa tak usah diragukan lagi.

Kepergian mereka menyisakan tangis, jarang saya menangis selepas kepergian keluarga saya. Tapi kepulangan mereka ke rahmatullah membuatku tak bisa membendung air mata ini. Perasaan ketakutan sejenak menyeruak.

Lantas setelah mereka pergi, apakah akan ada penggantinya? Lalu bagaimana dengan perjuangan ini, apakah akan terus berjalan? Apakah aku mampu melanjutkan perjuangan mereka? Karena saya sadar ilmu masih minim, masih butuh mereka untuk diserap ilmunya. Agar perjuangan-perjuangan transformasi sosial ini tetap berlanjut.

Tetapi bukan itu, dan bukan harus menyerah. Patah hati atas kepergian orang-orang hebat tersebut bukan berarti selesai. Justru kehidupan harus berlanjut, perjuanan harus tetap ada. Bagaimana perasaan mereka kala mendengar murid-muridnya menyerah.

Tentu kemandekan gerakan sosial transformatif akan membuat mereka bersedih. Seharusnya sebagai generasi muda, kita harus melanjutkan perjuangan mereka. Meneladani adalah melanjutkan perjuangan untuk kebaikan.

Selamat jalan guru kami, Gus Solah dan Mas Tommy. Sampai jumpa di tempat terindah-Nya. Semoga generasi muda ini tidak ‘masuk angin.’ Tetap hidup dan menghidupi gerakan sosial, Nahdlatul Ulama dan perjuangan-perjuangan keadilan sosial dan kebangsaan. Rinduku pada kalian.

Wahyu Eka Setyawan (Sumber: Dok. Pribadi)

*Pegiat Sosial di Walhi Jatim dan FNKSDA

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini