Menegakkan Disiplin tanpa Kekerasan

menegakkan-disiplin-tanpa-kekerasan
Ilustrasi : fordhaminstitute.org/

Terakota.id–Ida berlari kencang menuju gerbang sekolah, sesekali Ia melirik jam tangan. Terlambat lagi gumamnya dalam hati. Bapak Kepala sekolah sudah berdiri tegak di pintu gerbang untuk menyambut siswa yang spesial is datang terlambat. Sambil terengah-engah, Ida mengucapkan,“assalamu’alaikum, mohon ma’af saya terlambat, antri mandi di asrama, Pak,” sambil bersalaman dan mencium tangan lelaki paruh baya tersebut.

“Besok antri mandinya jam 3 pagi, biar tidak telat” ujar Bapak Kepala Sekolah sambil memeriksa kelengkapan atribut sekolah. “Kaos kakinya mana?”. “Maaf Pak, kaus kaki masih dicuci belum kering, Pak,” jawab Ida sambil merunduk. “hmmm, nanti istirahat ke ruang saya, saya beri kaus kaki, sekarang segera masuk kelas”. “Inggih, Pak..terima kasih”. Jawab Ida sambil tersenyum simpul.

Saat membaca berita kekerasan yang terjadi di SMAN 12 Bekasi Jawa Barat, pikiran Ida melayang pada masa di bangku SMA 25 tahun yang lalu. Masih melekat dibenaknya sosok Pak Mahsun, Kepala Sekolah yang disiplin, tegas, berwibawa, baik hati dan akrab dengan murid-muridnya. Idapun mengucapkan do’a untuk Pak Mahsun semoga dia mendapat tempat terbaik di sisi Allah.

Peristiswa pemukulan oleh wakasek Kesiswaan di SMAN 12 Bekasi terhadap siswa yang datang terlambat dan tidak memakai atribut sekolah lengkap menambah panjang daftar kekerasan fisik terjadi di dunia pendidikan. KPAI melansir di tahun 2019 terdapat 21 kasus kekerasan di tingkat SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/MA. Siswa korban kekerasan mencapai 65 anak dan guru korban kekerasan berjumlah 4 orang. Pelaku kekerasan melibatkan guru, kepala sekolah, siswa dan orangtua.

Berdasar data tersebut potensi kekerasan dapat dipetakan: (1) kekerasan dilakukan kepala sekolah atau guru kepada siswa; (2) kekerasan dilakukan siswa ke siswa lainnya; (3) kekerasan dilakukan siswa kepada guru; (4) kekerasan dilakukan siswa ke pegawai sekolah; dan (4) kekerasan dilakukan orangtua kepada guru.

Poin pertama kekerasan kepala sekolah atau guru kepada siswa saat ini yang paling sering terjadi (8 kasus dari 21 kasus di tahun 2019). Argumentasi yang sering disampaikan guru untuk membenarkan tindak kekerasan adalah dalam rangka mendidik siswa dan menerapakan kedisiplinan. Kekerasan tersebut dapat terjadi dalam proses pembelajaran di kelas ataupun di luar kegiatan pembelajaran.

Kekerasan yang terjadi di kelas sering berupa verbal bullying seperti: pemberian nama atau julukan tertentu yang negatif, menghina, mengejek, mengintimidasi dan lainnya. Penggunaan verbal bullying ini sebagai teknik mendominasi untuk memperlihatkan kuasa seseorang.

Dampaknya tidak tampak luka atau lebam secara fisik, tetapi menusuk ke relung jiwa, mempengaruhi psikis dan emosi anak, merasa hidupnya tidak berharga, menurunkan kepercayaan diri, menurunnya relasi interpersonal, mudah cemas, pasif di kelas karena takut salah, dan rendahnya keberanian mengekspresikan diri. Pada kasus yang akut bisa berdampak pada depresi dan bunuh diri.

Kekerasan fisik yang dilakukan guru ke siswa sering karena penerapan hukuman. Kekerasan fisik memberikan dampak luka fisik, luka psikis dan dampak buruk pada tumbuh kembang anak. Hal menarik yang perlu didiskusikan adalah apakah hukuman fisik efektif untuk mendisiplinkan anak?. Apakah hukuman fisik mampu memperbaiki karakter anak?. Hasil temuan Donald (pakar pediatric Universitas Michigan) dinyatakan bahwa anak yang mendapat hukuman fisik tidak menjadi lebih baik karakternya, tidak lebih hormat dan bertambah respeknya kepada guru, mendorong anak lebih agresif, pemberontak, dan keinginan membalas dendam tinggi.  Hukuman fisik juga tidak akan membuat anak menghentikan perilakunya.

Jika demikian, adakah hukuman/sanksi yang tepat untuk mendisiplinkan anak?. Disiplin positif menjadi alternatif perlu dikembangkan, yaitu pemberian sanksi atau hukuman tidak dengan kekerasan, tetapi sanksi yang memberikan dampak positif, seperti menulis cerita, membuat lagu, memberikan hiburan kepada teman lainnya dan tentunya stimulasi kesadaran diri yang kuat untuk berubah bukan dari tumpukan ketakutan yang dibentuk oleh lingkungan.

Menarik direnungkan kisah Nabi Muhammad dan pipis bayi, suatu saat Nabi pernah dikencingi seorang bayi sampai baju beliau basah. Ibu sang anak merenggot anaknya dari gendongan Nabi dengan keras. Melihat hal itu, Nabi bersabda: “Air kencing ini bisa dibersihkan, tetapi hati seorang anak yang dipukul akan tetap terluka”.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini