Merekatkan Perupa dan Mengembalikan Batu-Malang Sebagai Barometer Seni Rupa

mendongkrak-perupa-indonesia-di-pentas-dunia
Para penikmat seni mengunjungi pembukan September Art Project di studio Jaring, Bulukerto, Bumiaji, Kota Batu. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Dingin mendekap tubuh, rintik hujan mengiringi malam di Studio Jaring Jalan Arjuno Nomor 8 Kelurahan Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Sabtu malam 1 September 2018. Di depan studio, temaram lampu menambah suasana malam menjadi terasa lebih akrab. Ratusan orang duduk santai tersebar di gazebo, duduk bersimpuh di kursi panjang atau duduk meriung bersama teman. Suasana malam ini bak pesta taman di malam hari.

Sebuah bangunan joglo berbentuk pendapa, didesain bak panggung malam ini. Aneka minuman hangat mengusir hawa dingin, sembari berbincang dan mencicipi aneka kudapan yang disediakan secara cuma-cuma. Aneka ornamen terbuat dari kayu dan logam lawas, seolah kita melintasi masa lalu.

Perupa Putu Sutawijaya di depan ratusan pengunjung menyampaikan September Art Mont (SAM)  menjadi penanda kebersamaan antar seniman. Serta memproklamasikan kekuatan berkesenian di Jawa Timur. Selama ini, katanya, banyak seniman besar di Jawa Timur. Namun, belum terbuka secara komunal.

Kehadiran seniman secara komunal akan terbaca semakin jelas kekuatan perupa di Jawa Timur merupakan yang terbesar di Indonesia. “Saya juru kunci seni di Yogyakarta. Saya undang beraktivitas di Yogyakarta,” katanya.

Kekuatan seniman di Jawa Timur terletak pada individu, namun belum ada even spesifik. Sehingga SAM sesungguhnya menjadi pusat pergerakan kesenian. “Apa kabar seni rupa di Jawa Timur? Even ini menjadi tempat berbagi secara kolektif,” katanya.

Pameran kali ini juga menghadirkan kurator galeri nasional dan penulis Sujud Dartanto dan kurator dan penulis Sarifudin. Pameran kali ini harus disambut dengan gembira. Persembahan untuk dunia, dengan menghadirkan perupa dari berbagai daerah.

Sarifudin menuturkan jika dalam teks sejarah di Malang sejak 1800-an banyak seniman yang aktif berkarya. Malang, katanya, tak bisa dipisahkan dengan batas administrasi. Batu merupakan bagian dari Malang yang tak terpisah. Lukisan seniman Malang pada 1952 menghiasi Balai Kota Surabaya dan istana Merdeka Jakarta.

Pasca kolonial, Sarifudin, lahir Angkatan Pelukis Malang (APM). Selain menjadi organisasi seniman, APM juga melahirkan Sekolah Seni Rupa Indonesia di Malang pada 1956. Sayang, sekolah tutup 1964 dan banyak seniman berpindah ke Yogyakarta.

“Pameran kali ini merupakan wujud kebersamaan dan kerjasama kebudayaan,” kata Sarifudin.

Menjadi Koneksi Lintas Kota

Seniman Iwan Yusuf pemilik studio Jaring menjelaskan jika gagasan SAM dimulai sejak open studio 2017.  Saat itu menggelar pameran, dokumentasi, dan diskusi. Lantas konsep dikembangkan dikelola secara serius.

Membuat even serius untuk menjadikan Batu dan Malang sebagai barometer seni rupa. Gagasan menggelar SAM menggelinding, dengan mengundang seniman luar kota. Tujuannya agar Batu dan Malang cepat terkoneksi dengan berbagai kota di Indonesia.

SAP dilahirkan 12 seniman Batu dengan modal pas-pasan.  Pada 2018 perupa Bambang BP membuka ruang alternatif. Lantas Slamet Hendri Kusumo menghadirkan Omah Budaya Slamet. Konsepnya mendukung aktivitas seni rupa di Indonesia.

Iwan berharap semua daerah memaksimalkan potensi yang ada. Tujuannya untuk mendongkrak seniman Indonesia di pentas Internasional. Sehingga memiliki posisi tawar yang kuat, tak ada perebutan popularitas dan pasar.

“Waktunya merebut perhatian dunia. Tak ada kecemburuan antar kota dan seniman.  Tak ada seniman Yogya, Batu, Malang, dan Bandung. Tapi seniman Indonesia,” kata Iwan

Iwan menjelaskan konsep besar sebuah gagasan yang diharapkan memicu kompetisi, sehinggga dunia seni rupa cepat maju. SAM terkoneksi antar kota mulai Yogyakarta, Bali, Bandung, dan Surabaya. Tujuannya untuk memahami dan saling bekerjasama antar kota. “Tak ada batas Kota, tak ada Yogya, Malang, Bandung. Dimanapun kita sama,” ujarnya.

SAM diselenggarakan di sebuah desa pinggiran Kota Batu untuk menunjukkan jika dunia seni rupa di Indonesia sampai di akar. Tak ada lagi perbedaan sudut pandang antar kota. Seniman kumpul bersama dan direspon. “Para seniman senior hadir dan  mengirimkan karya serius. Merespon dengan baik,” kata Iwan.

SAM merupakan gagasan menuju kerjasama seniman antar kota untuk memperkuat seni rupa Indonesia di dunia. Tak mudah, katanya, masuk ke pentas dunia. Iwan ingin membuktikan jika seni di Indonesia masuk sampai ke pelosok daerah. Secara konsep, katanya, sekecil apapun proyeknya yang penting tujuan bersama untuk mendukung perkembangan seni rupa Indonesia.

“Itu nadi. Seni rupa kita diperhitungkan.“

Memberi Warna Indonesia

Sementara seniman Koeboe Sarawan mengapresiasi Iwan Yusuf, seniman muda asal Gorontalo yang peduli dengan kesenian di Batu. Perjumpaan Koeboe dengan Iwan yang kini menetap di Batu, terjadi secara tak sengaja saat pameran di Fastival Bang Wetan.

“Ada lukisan yang menggoda, dilukis secara detail. Seperti kerja digital,” katanya.  Secara teknis, katanya, sangat mininalis. Iwan saat itu masih berproses, namun istiqomah. Tak banyak “orang gila” di Indonesia.

“Mudah mudahan memberi warna Indonesia.” Koeboe juga kagum saat Iwan menyajikan lukisan seluas 500 meter persegi untuk merespon sebuah danau di Gorontalo. Untuk melihat lukisan menggunakan pesawat. Lukisan eksperimen itu mengangkat isu lingkungan di Gorontalo.

mendongkrak-perupa-indonesia-di-pentas-dunia
Lukisan berjudul Rakyat karya Iwan Yusuf menarik perhatian setiap pengunjung. (Terakota/Eko Widianto).

Pemotongan tumpeng malam ini, menjadi penanda dibukanya September Art Month (SAM). SAM diselenggarakan selama sebulan sampai 30 September 2015. Ada 15 even diselenggarakan di Batu dan Malang,  salah satunya September Art Project (SAP).

Semua pelukis pendukung hadir di depan pendapa. Keroncong Ukir, berdendang menambah malam semakin sahdu. Mengiringi pembukaan pameran SAP di studio Jaring Batu.

Ratusan pengunjung dan penikmat seni baris berjajar masuk ke dalam studio. Saat masuk Anda akan disambut karya instalasi menarik, dan unik. Beragam lukisan dipajang berjajar di dalam studio

Salah seorang penunjung, Dyah Tri Puspa Palupi mengaku kagum dengan konsep pameran SAP. Pegiat sanggar minat Universitas Negeri Malang ini menilai pameran di studio jaring bagus dan unik. “Ada art space baru, menarik. Di Malang sedikit,” kata Dyah.

Selama ini, ia bersama teman-temannya mencari referensi art space yang menarik namun tak banyak di Kota Malang. Sebagian seniman berlari hijrah ke Yogyakarta, ia tak harus jauh. “Ketemu seniman top. Seni di Malang luas dan berpotensi berkembang,” ujar Dyah.

Keroncong Ukir berdendang menghibur pengjunjung pameran. (Terakota/Eko Widianto).

Studo Jaring menempati lahan nyaman asri, meski lokasinya lumayan jauh dari pusat kota. Ia mengaku menikmati sepanjang perjalan menuju lokasi. “Tempat tenang. Menikmati. Desainnya juga menarik.”

Ia berharap makin sering pameran apalagi lokasinya nyaman, dengan pemandangan bagus. “Sekaligus bisa tamasya visual,” ujar Dyah.

 

 

 

 

 

 

 

2 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini