Mendokumentasikan yang Viral dan Tawaran Solusi untuk Konsumerisme Informasi

Dengan begini, kita bisa memanfaatkan budaya pop dengan jalan yang lebih dari sekadar menerima dan merangkulnya. Tapi juga memandangnya dari jarak kritis dan turut menyumbang ke dalam upaya penghindaran hoaks dan kebencian,

mendokumentasikan-yang-viral-dan-tawaran-solusi-untuk-konsumerisme-informasi
Ilustrasi (Sumber: techno.okezone.com)

Oleh: Wawan Eko Yulianto*

Terakota.idPolitik Sirkulasi Budaya Pop (selanjutnya Politik Sirkulasi) karya Wahyudi Akmaliah adalah buku yang perlu kita baca kalau kita agak-agak absen mengikuti lini masa media sosial dan koran-koran selama empat tahun terakhir. Dalam buku ini, isu-isu penting yang bersliweran di internet (terutama di koran-koran berbahasa Indonesia dan viral di media sosial) ditelusuri seluk beluknya dan dikomentari.

Atau, kalau kita mengikuti isu-isu penting itu, kita masih perlu baca buku ini karena dia membantu kita melihat fenomena-fenomena tersebut dari perspektif yang lebih luas. Yang tidak hanya membantu menyoroti fenomena itu sendiri, tapi juga memberi kita contoh cara menyiasati konsumerisme informasi yang siap memangsa kita semua.

mendokumentasikan-yang-viral-dan-tawaran-solusi-untuk-konsumerisme-informasi

Sebelum melanjutkan ke wilayah yang lebih jauh, perlu kiranya kita tegaskan dulu apa yang dimaksud dengan budaya pop oleh Wahyudi di sini. John Storey, berangkat dari teori Raymond Williams, merangkum setidaknya ada enam definisi budaya pop dalam buku Cultural Theory and Popular Culture, mulai budaya yang disukai banyak orang hingga budaya dalam sudut pandang pascamodernis, yang tidak lagi membedakan antara budaya yang tinggi dan yang rendah.

Wahyudi Akmaliah tampaknya tidak lagi ingin berkutat dengan definisi budaya pop dan langsung menggunakannya untuk merujuk kepada berbagai jenis kebudayaan kontemporer–selain apa yang disebut budaya tinggi–yang digeluti banyak orang dalam kehidupan keseharian mereka. Budaya pop dalam buku ini adalah praktik keseharian yang lebih banyak diterima masyarakat dibandingkan dengan budaya yang dianggap adiluhung dan serius).

Budaya pop dalam buku Wahyudi ini mencakup film, musik, Facebook, dangdut koplo, dakwah Youtube, dan lain-lain. Yang menjadi penekanan, sebagaimana disampaikan Wahyudi sejak pengantar, adalah bahwa budaya pop yang lazimnya menempatkan kita sebagai konsumen yang menikmati karena terbawa oleh tekanan eksternal. Tekanan ini termasuk iklan dan tekanan sebaya kini dipraktikkan dengan cara lain.

Kini, penikmatnya tidak hanya menjadi korban dan menjalankannya secara pasif. Para pelaku budaya pop adalah juga pembuat makna, yang menjadikan budaya populer ini sebagai satu hal yang penting. Yang lebih penting dibahas selain itu adalah bahwa budaya pop tidak lagi bisa dilepaskan dari kehidupan kita secara umum, dan terutama yang bersinggungan dengan agama dan politik.

Dengan pandangan terhadap budaya pop seperti itu, Wahyudi menulis tentang sirkulasi budaya pop dan bagaimana kita terlibat di dalamnya. Ada setidaknya dua pola yang tampak dari tulisan-tulisan Wahyudi yang dikompilasikan dari tulisan-tulisan yang terbit di berbagai media daring ini: penelusuran dan analisis kritis.

Penelusuran tampaknya merupakan pendekatan yang paling mendasar bagi Wahyudi. Kita bisa menemukan penelusuran sejarah maupun penelusuran unsur-unsur pembentuk. Di antara tulisan-tulisan yang semacam ini, kita bisa temukan tulisannya tentang kekuatan Via Vallen-Nella Kharisma dalam PILKADA Jatim, Ahmad Dhani, Ratna Sarumpaet, Jonru, dan lain-lain. Dalam artikel-artikel ini, kita melihat upaya-upaya Wahyudi untuk mengetahui lebih jauh tentang hal-hal yang tengah menjadi perbincangan pada masa-masa ketika tulisan tersebut dimuat pertama kalinya di media daring.

Sebagai contoh, alih-alih ikut mengutuk Jonru Ginting yang ditangkap karena ujaran kebencian, Wahyudi menelusuri latar belakang Jonru sebagai seorang penulis, keakrabannya dengan dunia digital berkat pekerjaannya di sebuah penyedia jasa internet, dan kemudian keterlibatannya di sejumlah perusahaan filantropi. Yang kesemuanya mendukung karirnya hingga dia dinyatakan sebagai seorang tersangka. Hal yang sama bisa ditemukan pada artikel-artikel lain di sini.

Pendekatan lain dari Wahyudi yang bisa kita amati adalah analisis kritis. Pada tulisan-tulisan yang berpola analisis kritis, Wahyudi membahas fenomena-fenomena sosial tertentu sambil melihat elemen-elemennya, hubungan antara masing-masing elemen, dan biasanya pada akhirnya dia memberikan komentar kritisnya. Di antara tulisan-tulisan yang berpola ini, kita bisa temukan analisis dan komentar Wahyudi terkait ILC, fenomena kitab suci sebagai fiksi oleh Rocky Gerung, munculnya Nurhadi-Aldo dan lain-lain.

Dalam tulisan-tulisan tersebut, Wahyudi mendudukkan fenomena-fenomena budaya pop tertentu dalam kaitannya dengan kehidupan keberagamaan dan politik di Indonesia sebagai bagian integral. Bahkan, dari esai-esai ini, kita bisa melihat bagaimana kehidupan politik Indonesia memiliki kehidupan barunya. Yaitu di wilayah budaya pop, terutama di media baru dan sub-subnya.

Terlepas dari kedua kecenderungan pendekatan tersebut, ada satu aspek menarik dari tulisan-tulisan Wahyudi di sini: penggunaan data-data statistik yang kebanyakan diperoleh dari berbagai lembaga riset. Hal ini menjadikan argumen-argumen yang ditawarkan oleh Wahyudi memiliki dasar kuantitatif. Ia menjadi pembanding untuk penelusuran-penelusuran yang lebih banyak bersifat kualitatif.

Pendekatan kuantitatif dari lembaga-lembaga survei ini memberikan aspek empiris dalam esai-esai Wahyudi yang sebenarnya tetap bisa ditulis secara rasionalis. Mungkin tidak semua orang suka membaca statistik, dan sering kita juga tidak mengetahui bagaimana menyikapi angka-angka tersebut. Seperti misalnya dalam artikel tentang meningkatnya radikalisme, yang bagi Wahyudi selangkah lagi menuju terorisme. Kesabaran menafsirkan data-data statistik ini menunjukkan kepercayaan penulis kepada sesuatu yang tidak langsung berasal dari hal-hal yang sejak awal dia percayai.

Apa-apa yang tersingkap oleh data statistik sering tidak tampak dari sudut pandang individual, terutama bila data statistik itu mencakup sebuah wilayah yang jauh lebih luas dari ruang jelajah kita sehari-hari. Belum lagi mengingat kecenderungan kita sekarang yang suka  memilih sendiri orang-orang yang kita mau dengarkan suaranya atau kita bisukan suaranya dari lingkaran (media sosial) kita. Bagusnya, Wahyudi konsisten melakukan ini bilamana statistika itu memang sudah tersedia.

Yang juga menarik dari buku Politik Sirkulasi ini selain mendokumentasikan yang viral adalah potensinya sebagai model bagi kita dalam menyiasati apa yang bisa kita sebut sebagai konsumerisme informasi. Yang saya maksud konsumerisme informasi di sini adalah kecenderungan untuk mengonsumsi informasi. Bahkan yang tidak benar-benar kita butuh, hanya demi memuaskan hasrat kita akan informasi itu sendiri. Saat terjebak konsumerisme informasi, kita biasanya tidak bisa membebaskan diri dari membaca informasi dan mungkin juga tergiring untuk ikut adu komentar atau bahkan berbondong-bondong merisak secara verbal dan virtual.

Hal ini baru akan berhenti ketika ada isu baru muncul ke permukaan dan kita akan mengikuti siklus yang sama. Saya yakin kecenderungan ini juga memberikan kontribusi besar dalam apa yang dituliskan Nurudin dalam “Dipertemukan Facebook, Dipererat WA, Lalu Dipisah Pilpres” ini. Daripada terlibat dalam derasnya arus sirkulasi budaya populer yang cenderung membikin ketagihan tersebut, Wahyudi melakukan penelusuran komprehensif (lengkap dengan 5W+1H-nya) atas fenomena-fenomena tersebut.

Memang, ini juga satu bentuk konsumsi atas informasi, tapi mudah dilihat bahwa konsumsi informasi dengan cara seperti ini lebih memperkaya dari, misalnya, ikut-ikutan terlibat adu komentar tentang apa itu fiksi dan apa itu non-fiksi karena banyak orang membicarakan Rocky Gerung yang berkomentar tentang ayat suci sebagai fiksi seperti yang terjadi pada 2018 lalu.

Pemberitaan yang serba cepat dan media yang seperti black hole yang siap menyerap fenomena apa saja mulai dari yang paling penting sampai yang remeh temeh itu membuat kita bisa dengan mudah menjadi konsumen. Kita yang hidup di era ini dan lebih banyak menggunakan internet boleh berbangga menyebut diri sebagai konsumen aktif. Atau setidaknya relatif lebih aktif dari konsumen media televisi yang cenderung menjadi konsumen pasif iklan.

Namun, fenomena mengeroyok dan merisak secara virtual melalui Twitter dan Instagram atau adu tautan (termasuk yang hoaks) mengenai calon presiden pilihan kita adalah bukti yang tak terbantahkan bahwa sebenarnya kita tidak aktif-aktif amat. Kita lebih banyak menerima informasi daripada mengolah informasi yang kita dapatkan untuk kemudian mensintesisnya dan menghasilkan keputusan hasil olahan kita sendiri atas informasi-informasi yang bersliweran itu.

Kalau saja ada yang namanya perjalanan waktu, mungkin para penikmat TV dari puluhan tahun lalu, yang kita sebut sebagai konsumen pasif itu, akan mengkritik balik kita: setidaknya konsumen pasif tidak akan menjerumuskan orang lain ke dalam kesalahan.

Yang jadi pertanyaan, bagaimana kita bisa meninggalkan jebakan Batman kemajuan yang seperti ini? Yang dilakukan Wahyudi dalam Politik Sirkulasi ini adalah salah satu alternatif untuk menarik diri dari pusaran konsumerisme informasi tersebut. Melalui penelusuran dan komentar kritis, seperti yang dilaku Wahyudi, kita akan menemukan satu cara untuk meninggalkan keterjebakan konsumerisme informasi dan menjadi subjek yang memegang nasib kita sendiri di internet.

Di sini, kita bisa melakukan penelusuran sejarah, perbandingan dengan fenomena sejenis, pengamatan secara kuantitatif melalui survei dan jejak pendapat, atau bahkan dengan cara menguraikan cara kerja sebuah fenomena untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana. Dengan begini, kita bisa memanfaatkan budaya pop dengan jalan yang lebih dari sekadar menerima dan merangkulnya. Tapi juga memandangnya dari jarak kritis dan turut menyumbang ke dalam upaya penghindaran hoaks dan kebencian, yang seperti kita tahu, merupakan salah satu hasil dari konsumerisme informasi yang tak terkendali.

Penulis (Sumber: Dok. Pribadi)

*Dosen Sastra Inggris Universitas Machung Malang

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini