Mendobrak Humanisme dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Cara mengubahnya adalah dengan menggabungkan dua wawasan berikutnya, yaitu kemampuan berpikir kritis dan wawasan sosial budaya. Sehingga materi yang disampaikan oleh guru lebih menarik serta aplikatif dalam kehidupan siswa sehari-hari.

Oleh: Ardi Wina Saputra*

Terakota.id–Masih melekat di benak kita, data yang diberikan oleh UNESCO yang mengatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia adalah 0,01 persen. Hal tersebut berarti bahwa setiap 1 orang pembaca, mewakili 100 orang. Jumlah tersebut tergolong miris dan sangat perlu dibenahi. Sebagai seorang pembelajar Bahasa Indonesia, langkah utama yang dilakukan adalah mengintrospeksi diri.

Pelajaran Bahasa Indonesia sudah diberikan sejak SD hingga SMA, bahkan beberapa jurusan di perguruan tinggi mewajibkan mata kuliah Bahasa Indonesia Keilmuan (BIK). Melihat fakta yang diungkapakan UNESCO tadi, para pembelajar Bahasa Indonesia wajib introspeksi diri. Sudah efektifkah pelajaran Bahasa Indonesia selama ini?

Ketika kita menengok ke sekolah, tidak jarang pelajaran Bahasa Indonesia sering dipandang sebelah mata. Bahkan sering diremehkan, meskipun keberadaanya tidak pernah absen dari Ujian Nasional, di semua jenjang pendidikan. Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata metode dalam pembelajaran Bahasa Indonesia seringkali menemui kendala. Mulai dari tingkat kurikulum, kebijakan, hingga praktik di lapangan. Seringkali guru dijadikan sebagai kambing hitam kegagalan pembelajaran Bahasa Indonesia. Padahal guru sudah berusaha semaksimal mungkin.

Oleh sebab itu, tidak ada salahnya apabila guru diajak bangkit bersama, untuk membelajarkan Bahasa Indonesia pada siswa agar menjadi lebih efektif dan menarik. Sudahkah pembelajaran bahasa Indonesia di dalam kelas dikemas semenarik mungkin? Pertanyaan ini memang terkesan klise, tapi apabila terus menerus diremehkan, maka mau jadi apa generasi muda kita apabila tak cukup cakap berbahasa Indonesia?

Menurut salah satu pakar pendidikan dari National University of Singapore, Dr. Azhar Ibrahim Alwee PhD.,  perlu tiga wawasan yang dimiliki oleh guru dalam melakukan pengajaran bahasa yaitu kemampuan lingustik, kemampuan berpikir kritis, dan sosial budaya. Tiga aspek tersebut harusnya saling berjalin-berkelindan dalam pembelajaran bahasa guna membentuk suasana pembelajaran menjadi lebih menarik.

Pendapat tersebut nyatanya dapat diadaptasi dan dimodifikasi untuk pembelajaran Bahasa Indonesia. Beberapa guru bahasa masih terjebak pada kemampuan linguisitik saja, sehingga terkesan lebih mekanis. Sekali lagi guru tidak bisa disalahkan atas hal itu. Tuntutan kurikulum dan tuntutan keberhasilan dalam ujian merupakan salah satu penyebabnya. Meskipun demikian, pola pikir ini harus diubah.

Cara mengubahnya adalah dengan menggabungkan dua wawasan berikutnya, yaitu kemampuan berpikir kritis dan wawasan sosial budaya. Sehingga materi yang disampaikan oleh guru lebih menarik serta aplikatif dalam kehidupan siswa sehari-hari.

Untuk merealisasikan konsep tersebut, perlu tiga langkah yang harus dilakukan oleh guru bahasa agar pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi lebih menyenangkan dan aplikatif. Pertama, buat siswa jatuh cinta terhadap Bahasa Indonesia. Belajar bahasa harusnya dimulai dari hati, hasrat, kehendak, dan cinta. Cara yang dilakukan agar siswa jatuh cinta pada pelajaran Bahasa Indonesia adalah dengan mengajak siswa untuk memilih bacaan, paragraf, atau bahkan kalimat yang disuka dalam teks.

Siswa diajak untuk suka terhadap kalimat, suka terhadap dialog, hingga suka dengan wacana yang dibacanya. Rasa suka tersebut membuat siswa semakin lama semakin haus membaca. Mereka akan menggunakan kemampuan daya jelajah mereka untuk menemukan wacana lain yang ada sangkut pautnya dengan wacana yang disuka. Dengan demikian, mereka akan suka terhadap wacana yang baru saja ditemuinya. Begitu seterusnya hingga siswa semakin ingin dan ingin lagi membaca.

Langkah berikutnya yaitu tingkatkan intensitas diskusi dari bahan bacaan yang sudah dipilih oleh siswa. Untuk itu, alangkah baiknya apabila siswa diberi kebebasan membawa bahan bacaan ke kelas kemudian didiskusikan bersama. Ketika  mencari dan memilah bacaan yang hendak dibawa ke sekolah, maka ada rasa senang dalam diri siswa.

Mereka antusias untuk membawa atau menunjukkan dunia mereka pada teman-temannya melalui berbagai sumber bacaan yang dicarinya. Setelah ditemukan, mereka akan mendalami wacana itu. Karena mereka ingin tampil sebaik-baiknya saat diskusi dan yang didalami adalah teks-teks yang disukai. Jadi, tahap ini secara tidak langsung masih ada sangkut pautnya dengan tahap sebelumnya. Minat baca dapat terbentuk secara otomatis ketika siswa melakukan tahap ini.

Langkah terakhir, adalah mengajak siswa untuk tanggap dan produktif terhadap keadaan sekitar. Seringkali model ini dilupakan saat pembelajaran, teks yang ada dalam buku paket juga kurang sesuai dengan keadaan siswa. Buku paket memang diperbolehkan jadi acuan. Namun, bukan berarti guru hanya bisa mengajar dengan bertumpu pada apa yang tertera di dalam buku. Membuka halaman satu, dua, dan seterusnya.

Topik topik yang digunakan harusnya sesuai dengan kondisi lingkungan siswa. Apabila siswa berada di desa, maka berikan teks atau materi terkait cara bercocok tanam. Apabila siswa berada di lingkungan perkotaan, maka teks yang diproduksi adalah dampak pembangunan gedung bertingkat terhadap lingkungan sekitar, atau solusi menghindari kemacetan saat berangkat sekolah.

Agar lebih menarik, guru juga dapat menyisipkan topik-topik yang relevan dengan perkembangan psikologis peserta didik. Materi konvensional yang membosankan seperti teks laporan hasil observasi, deskripsi, negosiasi, atau prosedur kompleks, akan menjadi menyenangkan jika topiknya disesuaikan dengan perkembangan psikologis siswa.

Contohnya adalah membuat teks laporan hasil observasi mengenai dampak pacaran terhadap prestasi belajar, membuat teks deskripsi mengenai Game Mobile Legends, merancang teks negosiasi untuk mendekati lawan jenis yang disuka, dan membuat teks prosedur kompleks langkah-langkah berpaling  (move on) setelah putus hingga kembali fokus belajar. Tema-tema demikian dijamin dapat membuat siswa semakin tergerak hatinya untuk menulis dan mencari sumber bacaan untuk mendukung tulisannya. Dengan demikian pelajaran Bahasa Indonesia menjadi pelajaran yang penuh gairah bukan lagi momok yang membosankan!

 

*Penulis cerpen “Aloer-Aloer Merah” dan Guru Bahasa Indonesia di SMA Katolik St. Albertus Malang

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini