Mendidik Para Hektokorn

Terakota.id–Kegiatan belajar mengajar semakin lama semakin bertransformasi. Jaringan internet, kecerdasan buatan, dan teknologi virtual merambah dunia pendidikan. Lantas sebagai pendidik, perlu untuk melakukan adaptasi dengan kemajuan ini. Hal yang menjadi kendala utama adalah kondisi peserta didik zaman sekarang jauh berbeda dengan kondisi masa kecil pendidiknya.

Pendidik muda yang sekarang menjadi guru atau dosen diperkirakan lahir di tahun 1990 an. Dalam klasifikasi generasi, maka pendidik tersebut masih tergolong generasi Y. Padahal, siswa yang dihadapi adalah generasi Z,A, hingga baby boomers.

Peserta didik zaman sekarang sejak lahir sudah akrab dengan gawai dan teknologi. Mereka dilahirkan dalam gelombang tsunami informasi. Cara berpikir hingga cita-citanya pun berbeda. tentu kita masih ingat saat Presiden RI Joko Widodo mengunjungi beberapa daerah di Indonesia dan bertemu dengan bocah bernama Ravi. Saat itu, Presiden bertanya tentang cita-cita Ravi, bocah kelas VI SD.

mendidik-para-hektokorn
Koleksigambars.com

Jawaban Ravi sangat mengejutkan dan sempat menjadi viral karena saat itu dia mengatakan ingin jadi youtubers. Presiden semakin terkejut ketika Ravi mengatakan bahwa keinginanya menjadi youtubers untuk mendapat uang banyak. Jawaban seperti ini memang tidak terduga bahkan tidak terlintas di benak generaasi sebelumnya. Cita-cita menjadi dokter, polisi, tentara, hingga pegawai adalah cita-cita yang umum diucapkan oleh anak-anak yang lahir sebelum tahun 2000 an.

Sekolah dan universitas merupakan lembaga pendidikan yang membantu generasi muda untuk mewujudkan cita-citanya. Apabila hasrat dan minat untuk mewujudkan cita-cita ini tidak terpenuhi, maka secara psikologis anak akan semakin anti dengan sekolah atau lembaga pendidikan.

Perilaku menolak seperti tidak mau memperhatikan, tidur di kelas, malas belajar, hingga bolos sekolah merupakan wujud dari tindakan yang dilakukan oleh anak ketika mereka merasa bosan dengan tempatnya menimba ilmu. Itulah sebabnya lembaga pendidikan serta guru perlu bertansformasi dalam proses belajar mengajar. Mendidik anak untuk berani membuat start up, unikorn, dedakorn hingga hektokorn merupakan terobosan baru yang dapat dilakukan. Lantas bagaimana caranya?

sang-influencer
Atta Halilintar & Ricis dalam YouTube FanFest Indonesia 2017. (Foto : Youtube).

Manuel Satagars melalui bukunya berjudul University Start Ups and Spin Off  (2015) mengatakan bahwa pada dasarnya ada tujuh tahap utama yang dapat dilakukan oleh peserta didik untuk membuat start up yang baru. Ketujuh tahap itu yaitu (1) memunculkan penelitian atau ide start up, (2) melakukan test variabel minimum produk, (3) menambah nilai produk, (4) bergabung dengan pengembang serupa, (5) melakukan pendanaan, (6) menerbitkan produk, (7) memeriksa sekaligus meningkatkan dampaknya pada pengguna secara terstruktur.

Ketujuh tahap ini dapat dilakukan apabila lembaga pendidikan mendukung penuh terhadap pengembangan start up mahasiswanya. Lembaga pendidikan tradisional hanya mewadahi peserta didiknya pada tahap pertama saja. Tahap kedua hingga ketujuh memang dibutuhkan pola pikir terbuka dari lembaga pendidikan untuk mewujudkannya.

Lembaga pendidikan baik universitas maupun sekolah, perlu melakukan strategi agar peserta didik yang bercita-cita untuk menjadi unikorn hingga hektokorn dapat terpenuhi. Satagars dalam penelitianya menyebutkan bahwa lembaga pendidikan perlu melakukan kerjasama dengan enam elemen utama yaitu (1) pemerintah, (2) perusahaan multi nasional, (3) pelaku usaha kecil dan menengah, (4) sumber aplikasi daring yang terbuka, (5) organisasi non pemerintah, dan (6) sektor finansial. Keenam elemen ini sesungguhnya juga memperoleh keuntungan apabila bekerjasama dengan lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan mencetak akademisi hingga praktisi, sedangkan keenam elemen tersebut membutuhkan inovasi baru setiap tahunnya.

Perlu diselenggarakan beragam kegiatan akademis dari lembaga pendidikan agar sinergi terhadap keenam elemen tersebut tetap terjaga dengan baik. Kegiatan tersebut dapat dimulai dari penelitian, proyek, kerja sama, transfer ilmu, saling memberi masukkan, pengelolaan bersama, hingga pendanaan. Kegiatan-kegiatan yang dipilih ini menghasilkan manfaat bagi kedua belah pihak, baik lembaga pendidikan maupun elemen yang berinteraksi dengannya.

Oleh sebab itu, apabila kegiatan-kegiatan akademis tersebut dioptimalkan dalam proses pembelajaran pada lembaga pendidikan, maka peserta didik akan semakin optimis ketika belajar. Mereka merasa bahwa cita-citanya realisstis tercapai dan lembaga pendidikan yang mereka masuki benar-benar membantu mereka untuk merealisasikan cita-citanya, entah jadi yutubers, atau unikorn, bahkan semoga menjadi hektokorn.

*Penulis dan Pendidik

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini