Mendidik di Era Kecerdasan Buatan

Ilustrasi: geeksforgeeks.org

Terakota.id–Akhir-akhir ini, saya lebih suka untuk memperkenalkan diri sebagai seorang pendidik di luar identitas saya sebagai penerjemah dan penulis (yang disebut terakhir ini saya baru pada tahap belajar). Jika tidak di lingkungan birokrasi kampus atau dalam situasi yang formal, saya tidak terlalu suka menyebut diri sebagai akademisi atau dosen, meskipun istilah ‘pendidik’ kalah populer.

Kenapa saya lebih suka menyebut diri pendidik tentu memiliki alasan. Alasan itu tidak ada hubungannya dengan pernyataan Menteri Tenaga Kerja tentang tidak perlunya ijazah perguruan tinggi yang ramai beberapa waktu lalu. Saya rasa saya punya alasan tersendiri. Alasan saya ini walaupun agak bersifat personal dan mengandung bias-bias tertentu, juga dapat, sampai kadar tertentu, digeneralisasi.

Saya ingin mendidik murid-murid saya. Sebagai pendidik, saya berharap untuk tidak sekadar mengajarkan pengetahuan dan keterampilan praktis (walaupun keduanya penting sebagai bekal kehidupan di masa depan), tetapi juga memperkenalkan kepada anak didik saya cara pandang, cara hidup, dan juga cara berpikir dan berperilaku. Pendeknya, saya berusaha untuk mendidik mereka menjadi lebih manusia dan manusia lebih.

Tentu saja, dalam hal ini pun, saya sekali lagi menyadari adanya bias tertentu dalam cara saya mendidik karena definisi dari apa itu menjadi lebih manusia dan manusia lebih pasti tidak lepas dari cara saya pribadi memahaminya. Dan cara saya memahami dipengaruhi oleh kesejarahan dan ideologi saya.

Namun demikian, rupanya kebutuhan dan kemendesakan akan pendidikan yang mengedepankan sikap dan cara hidup (termasuk di dalamnya cara berpikir dan berperilaku) tidak pernah menjadi sesuatu yang ketinggalan zaman. Beberapa kalangan mungkin melihat bahwa pendidikan semacam itu sudah tidak lagi penting, karena di zaman serba digital ini, keterampilan praktis yang berkaitan dengan teknologi informasi dan keuangan, misalnya, lebih penting dan lebih relevan daripada yang lain-lain.

Kelemahan dari cara memandang pendidikan yang amat praktis dan pragramatis semacam ini adalah bahwa teknologi dan keterampilan praktis akan terus berkembang dengan kemajuan yang amat pesat, melampaui kemampuan dunia pendidikan, dengan para pengajarnya yang tidak selalu update dengan perkembangan terkini, mengajarkannya kepada para siswa.

Mungkin, bahkan hal itu juga melampaui kemampuan kita untuk terus memperbarui informasi di bidang tersebut. Maka, kalau kita sekadar mengejar penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang bersifat praktis dan pragmatis, sudah jelas bahwa kita akan semakin ketinggalan. Kita seperti kelinci yang mengejar ujung pelangi. We will always be on the back heel. Kita perlu menemukan posisi yang paling menguntungkan bagi kemanusiaan kita.

Dunia yang Mengalami Otomatisasi dan Kita 

Abad ke-21 ini boleh dibilang sebagai abad yang revolusioner bertubi-tubi. Ini bukan sekadar jargon seperti sering kita dengar dalam berbagai webinar, tetapi kemungkinan besar akan benar-benar terjadi dalam realitas dan memengaruhi kehidupan kita. Kenapa bertubi-tubi itu dikarenakan jika di masa sebelumnya, antara satu revolusi dengan revolusi berikutnya terjadi dalam rentang abad atau bahkan milenium, di masa sekarang dan yang akan datang, revolusi akan terjadi setiap satu atau beberapa dasawarsa saja.

Dalam masa hidup seseorang, bisa jadi dia akan mengalami beberapa kali revolusi. Karena revolusi selalu mengandaikan perubahan yang besar dan mendasar, orang tidak akan memiliki cukup waktu untuk menyesuaikan diri dan membuat dirinya sendiri tetap relevan dalam kehidupan baru yang tercipta.

Sebagai gambaran, kita sekarang sedang berada di tahap awal dari revolusi yang hasil akhirnya akan mampu mengotomatisasi dan memvirtualisasi hampir semua aspek kehidupan dan pengalaman manusia. Walaupun mungkin sekilas terdengar klise atau bahkan tidak masuk akal karena sifatnya yang utopis, namun prosesnya dewasa ini sudah jelas mengarah ke sana.

Banyak proses produksi dan distribusi barang telah dijalankan dengan mesin dan robot, membuat tenaga manusia tidak terlalu banyak lagi dibutuhkan. Banyak proses berpikir yang sifatnya kritis dan analitis telah mulai mampu dijalankan dengan baik dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence. Industri, jasa, dan bahkan pendidikan telah mengakomodasi kecerdasan buatan tersebut sebagai bagian yang semakin penting dalam proses di sana.

Pekerjaan-pekerjaan lama akan hilang karena bisa digantikan oleh mesin cerdas, yang bekerja berdasarkan algoritma yang disusun oleh komputasi data dalam jumlah besar (big data). Analisis dan operasi mesin-mesin cerdas tersebut nyaris sempurna dan semakin hari, karena memakai basis data yang semakin lengkap, hasilnya juga semakin baik. Analisis dan kemampuan kita tetap atau meningkat sedikit sehingga jelas akan tersalip.

Sebagai penerjemah, sebagai contoh, saya sedikit-banyak perlu secara realistis membangun kekhawatiran bahwa dalam beberapa dasawarsa yang akan datang kecerdasan buatan akan mampu menghasilkan terjemahan yang semakin akurat, semakin luwes dan bisa jadi lebih baik dan lebih cepat (dan terutama lebih ekonomis atau murah) daripada saya. Belum genap lima tahun lalu kami, beberapa penerjemah, menertawakan keras-keras hasil terjemahan mesin penerjemah gratis seperti Google Translate atau Microsoft Translate yang kami baca.

Kami geli dengan hasil terjemahan yang menurut kami terlalu harfiah dan kaku. Sekarang, kalau kami memasukkan teks yang sama dengan lima tahun lalu itu ke dalam situs web Google Translate, hasil yang akan kami dapatkan dalam waktu beberapa detik saja jauh lebih baik dan lebih terbaca. Kami tidak akan tertawa geli lagi. Saking lebih terbacanya, kini dikenal bidang baru dalam penerjemahan, yaitu post-machine translation editing (penyuntingan setelah teks diterjemahkan dengan mesin penerjemahan). Otak dan kepintaran manusia masih dibutuhkan, tetapi sampai kapan sebelum digantikan sepenuhnya atau sebagian besarnya oleh mesin?

Dalam hal pengetahuan dan keterampilan praktis dan pragmatis, kita kemungkinan besar tidak akan sanggup untuk mengejar kecepatan atau akselerasi perkembangan kecerdasan buatan. Sebagian kecil dari kita akan memiliki kemampuan dan waktu untuk mempelajari hal-hal yang sangat teknis serta menuntut tingkat presisi yang menakjubkan. Mereka inilah yang akan menjadi semacam ‘pilot’ dari kecerdasan buatan. Namun, mesti disadari bahwa mayoritas dari kita tampaknya akan harus puas dengan menjadi ‘penumpang’ saja. Kita duduk manis dan terangkut.

Mungkin juga, akan ada lapangan-lapangan kerja baru, tetapi selain lebih sedikit, bila dibandingkan, jumlahnya tidak akan dapat menggantikan pekerjaan yang hilang. Selain itu, lapangan pekerjaan baru itu lebih labor-effective dan sangat menuntut dalam hal keahlian yang spesifik dan tingkat tinggi. Pada akhirnya, sebagian terbesar dari umat manusia akan menjadi tidak relevan dalam perkembangan revolusi tersebut. Dalam istilah Yuval Noah Harari, mereka ini adalah redundant-useless mass.

Sampai pada titik ini, saya merasa bahwa sebagian besar umat manusia perlu belajar lagi untuk menggunakan waktu mereka guna berpikir dan berefleksi tentang hal-hal yang lebih mendalam, lebih general, dan lebih berkaitan dengan kehidupan manusia. Di sinilah letak perlunya saya sebagai pendidik mengajarkan kepada anak-anak didik saya tidak hanya pengetahuan dan keterampilan praktis terkait dengan bidang keilmuan saya.

Sikap hidup, cara pandang, kemampuan bersosialisasi dan bernegosiasi, filsafat hidup, spiritualitas, pendeknya apa yang membuat manusia lebih manusia dan manusia lebih itulah yang perlu saya bantu tanamkan dan bangkitkan dalam diri anak-anak didik saya. Kalau soal pengetahuan dan keterampilan, mereka akan mampu (beberapa mungkin malah lebih mampu daripada saya) mencari sendiri, tetapi tentang hal-hal yang lebih serius dan mendalam itu, saya memiliki pengalaman sebagai manusia yang dapat saya tularkan kepada mereka.

Contoh sangat sederhana adalah tentang bagaimana mereka perlu belajar untuk menyikapi kegagalan dan kesalahan dengan tepat. Bagaimana mereka perlu melihat dan menyadari posisi mereka. Bagaimana mereka tidak boleh hanya mementingkan hasil, tetapi juga menghargai proses, dan seterusnya. Bagaimana perlu memperlakukan sesama manusia. Itulah manusia. Dan pendidikan mestinya memanusiakan manusia, bukan?

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini