Mendaras Perjalanan Teater Komunitas

Oleh: Faris Naufal Ramadhan*

Terakota.id–Jum’at sore, 27 Oktober 2017, menjadi hari yang sangat melelahkan bagi saya sebagai seorang pembaca puisi. Sore itu saya tampil pada launching buku “Eliminasi” dari Teater Komunitas (Teko). Saya merasa cukup berdosa, karena biasanya ketika diundang untuk tampil, saya sudah datang di lokasi minimal tiga jam sebelum waktu tampil. Guna memastikan semuanya sudah siap untuk dipertunjukkan, termasuk kesiapan diri sendiri.

Namun kali ini, saya datang lima belas menit sebelum acara dimulai. Karena sore itu kebetulan Ibu saya, tinggal di Banten, berkunjung ke Kota Malang dan minta ditemani berburu kuliner Bakso Malang. Setibanya di Omahku Kopi, yang menjadi tempat acara, saya dibuat kaget ketika kali pertama melihat konsep tata panggung yang disuguhkan dengan matang. Kesalahan saya memang, tidak mensurvey panggung dahulu sebelum tampil. Alhasil, karena kebagian tampil pertama, sesampainya di sana saya berusaha menenangkan diri dengan memejamkan mata selama lima menit.

Setelah mengumpulkan cukup tenaga, saya membacakan dua puisi, “Sajak yang Pincang” dan “Di Lahan Persengketaan,” secara medley dengan nada yang berbeda. Saya berusaha merespon panggung yang dikhususkan untuk pembacaan puisi, panggung yang sangat menarik disusun dari tumpukan meja berbahan kayu dengan kain berwarna merah putih menutupi setiap bagiannya. Ada mesin tik di salah satu sudut meja yang mengesankan aura klasik.

Namun yang membuat saya geleng kepala adalah tangga dari kayu yang menyandar pada dinding di bagian tengah. Memang nampak bedanya jika orang teater mengonsep panggung. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya yang terbiasa membaca puisi dengan banyak melakukan langkah pada lebar panggung, saya harus memanfaatkan semaksimal mungkin panggung yang ajaib ini.

Seperti yang saya bayangkan sebelumnya, saya benar-benar mengeluarkan banyak tenaga. Terutama ketika saya membaca puisi “Di Lahan Persengketaan” yang nadanya agak tinggi. Sampai-sampai Dandy, salah seorang kawan yang juga penyair, yang kala itu duduk di sebelah saya setelah penampilan, tak saya tanggapi obrolannya. Saya mendengar apa yang ia katakan, namun jiwa saya masih entah di mana. Setelah saya, ada penampilan akustik dari Dina di panggung yang berbeda.

Baca juga :  Tradisi Unan-unan dan Kisah Toleransi 3 Agama di Tengger Bagian 1

Sore itu, disediakan tiga panggung, satu untuk pembacaan puisi, satu lagi untuk akustik yang solo atau berduet, dan satu lagi untuk band. Panggung untuk Dina dikonsep seperti sebuah warung kecil di pinggir jalan, dengan jendela kayu yang terbuka pada bagian depan. Cahaya remang kemerahan dengan hiasan menyerupai lampion menjadikan suasana penampilan akustik Dina, yang menyanyikan empat lagu terasa syahdu. Awalnya ia menyanyikan lagu barat, namun saya benar-benar menikmati ketika di lagu terakhir ia menyanyikan lagu berbahasa jawa.

Setelah penampilan Dina, kali ini giliran Han Farhani yang menyebut nama panggung barunya, Han 30 September, untuk tampil. Han yang kabarnya akan segera mengeluarkan album baru berisi karya-karya musikalisasi dari puisi Saut Situmorang membawakan lima lagu. Hari sudah lewat magrib kala itu. Karena sudah beberapa kali menonton penampilannya, saya hampir-hampir menghafal setiap lirik yang ia lantunkan. Yang paling saya nikmati adalah lagu berjudul “Fantastis” yang menurut saya dibawakannya dengan gaya Han banget.

Lagu yang manis sekaligus asyik untuk mengiringi penampilan teater seperti yang beberapa kali ia mainkan berkolaborasi dengan Teater Komunitas pada beberapa kesempatan sebelumnya. Saat Han selesai menyanyikan tiga lagu, Siti Nurvian, punggawa Teater Komunitas yang hari itu menjadi MC, tiba-tiba datang kepada saya dan membujuk saya untuk membawakan satu puisi lagi setelah penampilan Han. Karena energi saya terpompa lagi setelah menikmati penampilan akustik, saya keceplosan mengiyakan tanpa menimbang apakah tenaga saya benar-benar masih cukup untuk membacakan puisi secara total.

Lagu penutup dari Han disambut tepuk tangan dari penonton yang mulai kehabisan tempat duduk. Ternyata ada cukup banyak pegiat teater Malang yang turut menyaksikan acara yang mengambil tema “Jejak, Karya dan Wacana” itu. Saya mengambil posisi jongkok untuk memberikan shock therapy kepada penonton. Sesaat setelah nama saya dipanggil kembali, saya langsung melantangkan judul puisi yang membuat ruangan seketika hening. Kali ini saya mulai menguasai panggung lebih nyaman.

Baca juga :  Merawat Pohon Kopi, Berawal dari Rasa Cinta

Saya dapat merasakan atmosfer dari penonton yang hadir ketika tatapan mata mereka seolah hendak ikut mendendangkan puisi. Selama kurang lebih lima menit, saya merasa berada di dunia yang lain, dunia panggung. Dan benar saja, pembacaan puisi yang ketiga kali ini benar-benar menguras segala yang saya punya. Saya baru menyadarinya setelah turun dari panggung dan kembali bisa mendengar suara-suara lain dari orang yang sedang bercakap. Saya meneguk secangkir air putih dan memejamkan mata selama dua menit untuk menyadarkan diri sendiri.

Selanjutnya adalah diskusi mengenai buku yang diluncurkan oleh Teater Komunitas. Doni Kus Indarto selaku pegiat teater dan Abdul Malik sebagai penulis kesenian hadir sebagai pembicara sekaligus pembedah buku. Pak Doni mencoba menangkap warna yang terpancar dari proses kreatif pentas Eliminasi produksi ke-3 yang tahun ini diselenggarakan pada bulan Maret. Beliau mengapresiasi Teater Komunitas yang menawarkan warna yang berbeda bagi jagat teater di Malang. Setelah sebelumnya sudah ada 3 buku lain yang diluncurkan oleh komunitas teater di Malang. Namun beliau mempertanyakan mengapa peluncuran buku “Eliminasi” diberi judul Logbook oleh Teater Komunitas, bukannya buku saja.

Setelah itu adalah bagian Pak Malik yang mencoba menelaah perkembangan kreativitas Teater Komunitas lewat Eliminasi dan menerawang apa saja dampak yang dihasilkan. Pendokumentasian karya bagi kelompok teater memang diperlukan hari ini agar karya-karya yang mereka hasilkan dapat menjadi bahan perbincangan untuk menjadi patokan bagi karya-karya selanjutnya, baik oleh kelompok teater itu sendiri maupun kelompok teater lainnya.

Setelah sesi diskusi berakhir, penonton dibuat terhentak karena lampu seketika padam pada seisi ruang. Tinggal menyisakan lilin dan nyala kemerahan yang menyorot panggung berbentuk warung yang dipakai untuk penampilan akustik tadi. Tiba-tiba muncul seseorang dengan topeng dalam pegangan. Ia memeragakan seorang yang hendak bunuh diri dengan tali gantungan pada lehernya. Kali ini ternyata adalah pementasan performance art oleh para punggawa Teater Komunitas. Mereka bercelana kain putih dengan dada telanjang.

Baca juga :  Menikmati Konser Super Akustik di Gua Taman Nasional Aggtelek Hungaria

Penampilan yang menghanyutkan membuat para penonton tidak merasakan bahwa lima belas menit telah berlalu. Bagi saya yang memang senang menyaksikan teater, pentas teater komunitas menawarkan sesuatu yang berbeda. Sebuah suguhan karya yang berdaya dan memberi makna yang tidak sekadar. Penampilan Teater Komunitas selain dipersiapkan dengan matang, juga selalu mempunyai nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai penutup, Band Pagi Tadi tampil pada panggung khusus yang terbuat dari tumpukan kerat-kerat kayu. Pagi Tadi yang lagunya baru saja diapresiasi sebagai soundtrack salah satu film bioskop, membawakan lima lagu andalannya. Seperti biasa, penampilan Pagi Tadi selalu menyuguhkan suasana alam yang dapat kita rasakan keindahannya melalui lirik-lirik syahdunya. Saya selalu menikmati pertunjukkan band yang digawangi empat personel ini dengan memejamkan mata dan membayang sedang berada di tengah hutan. Kala itu, saya dapat merasakan kehadiran binatang liar di antara pohon-pohon rindang.

Begitulah kesan yang saya dapatkan ketika ikut berpartisipasi dalam peluncuran Logbook “Eliminasi”. Teater komunitas adalah salah satu penanda pada perjalanan kepenyairan saya. Dari mereka saya belajar tentang ketekunan dan keteguhan dalam berkarya. Salut!

Faris Naufal Ramadhan, (Sumber: Dok. Pribadi)

*Pemuda kelahiran Serang, 5 Februari 1997. Mengenal dunia sastra sejak Sekolah Dasar. Semasa SMA, aktif menekuni jurnalistik lewat rubrik pelajar GENEREKONS di Majalah Kebudayaan Ruang Rekonstruksi, Banten. Ia juga sempat aktif dalam kegiatan sastra di Teras Budaya yang diasuh oleh Komunitas Rahim, Cilegon dan Lentera Sastra Indonesia. Ia lebih sering melahirkan karya berupa puisi dan cerpen. Puisi dan cerpennya beberapa kali terbit di media cetak maupun elektronik. Ikut terlibat dalam beberapa antologi puisi dan cerpen nasional. Kini kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Di kota yang sama, di tengah rutinitas perkuliahannya, ia bergiat di Komunitas Kalimetro Malang, yang bergerak di bidang literasi, seni, kemanusiaan, dan kebudayaan.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini