Mencintai Sejarah Bareng Reenactor Ngalam

Reporter : Jossi Andriani, Akbar Ardian, Fausi Wibowo*

Terakota.idTiga orang mengenakan pakaian pejuang. Khas dengan atribut dan perlengkapan militer zaman perang kemerdekaan. Berdiri tegap, sebagian menenteng senjata laras panjang. Mereka yang mengenakan pakaian dan senjata lawas ini merupakan anggota Reenactor Ngalam sebuah komunitas pecinta sejarah.

“Berdiri sejak 2007,” kata penggagas komunitas Reenactor Ngalam Eko Wiriawan, Ahad 3 Agustus 2018. Mereka tengah mengikuti pameran dan unjuk diri dalam pesta komunitas terbesar di Indonesia Community Day (ICD) di Taman Krida Budaya Jawa Timur di Kota Malang.

Berawal dari hobi, kata Eko, mereka berkumpul dan membentuk komunitas. Komunitas berusaha membangkitkan atau merekonstruksi sejarah di Negeri ini. Eko menjelaskan Reenactor berasal dari bahasa Belanda “ree anactment”, artinya reka ulang sejarah.

Nama tersebut selaras dengan tujuan komunitas dibentuk, untuk membangkitkan sejarah perjuangan Indonesia. Reenactor menampilkan sejarah era perang kemerdekaan. Mulai melakukan reka adengan atas peristiwa penting saat kemerdekaan. Mereka merujuk dari foto dan dokumen sejarah.

Mulai menyiapkan pakaian, senjata dan peralatan perang yang digunakan pada masa itu. Ia mengajak masyarakat untuk mencintai sejarah negeri dan melek sejarah. Sekaligus ikut merasakan apa yang terjadi pada masa lalu. Masa perang kemerdekaan.

“Kami berusaha menunjukkan replika sejarah Indonesia melalui reenactor. Tidak main- main pakaian dan atribut didesain seasli mungkin,” ujarnya.

mencintai-sejarah-bareng-reenactor-ngalam
Anggota Reenactor Ngalam beraksi dalam Indonesia Community Day 2018 di Taman Krida Budaya Jawa Timur. Komunitas ini mereka ulang peristiwa sejarah perang kemerdekaan. (Terakota/Jossi Andriani).

Mereka mengenakan pakaian dan atribut sama persis sesuai kondisi masa lalu. Eko mengaku selama ini banyak menghadapi tantangan yang harus dilalui. Agar reenactor, tetap bertahan.

“Ada yang mencibir, tujuannya tak jelas. Ada yang mengira gila pakai pakaian begini (pejuang),” katanya. Sejauh ini, ia merogoh kocek sendiri untuk membeli dan mendesain pakaian maupun perlengkapan. Namun atas kegigihan dan semangatnya reenactor Ngalam tetap bertahan sampai sekarang.

“Hanya bermodal kenekatan, hobi dan khawatir sejarah lenyap ditelan zaman.” Ia bersama teman-teman komunitas reenactor selama sembilan tahun telah mengantongi dua penghargaan. Yakni menjuarai penampilan terbaik reenactor Indonesia di Surabaya dan finalis lomba kampung tematik Kota Malang.

Mereka mendesain Kelurahan Sumbersari menjadi kampung sejarah. Kampung didesain sesuai dengan sejarah pada perebutan Kota Malang, utamanya kampung Tawangsari. Pemerintah menghibahkan sebuah gedung yang kini dijadikan museum perjuangan.

Pegiat reenactor membawa spirit perjuangan Hamid Rusdi merebut kembali Kota Malang dari penjajah Belanda. Sehingga menginspirasinya untuk mendesai museum perjuangan untuk mengingatkan perjuangan kemerdekaan pada era agresi militer Belanda.

Reenactor Ngalam memiliki koleksi senapan mesin, senapan serbu, mortir hingga peluncur roket. Replikas senjata ini mereka buat sendiri dengan kreatifitas komunitas reenactor dengan memanfaatkan barang bekas. “Replika senjata ini terbuat dari barang bekas. Besi dan pipa paralon bekas,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, Reenactor Ngalam semakin berkembang. Anggota terus bertambah semakin banyak. Anggota komunitas mulai pelajar Sekolah Dasar, tentara,dan  dosen. “Tak ada yang memaksa. Anak SD ini atas kemauannya sendiri belajar sejarah.”

Museum menjadi media pembelajaran sejarah untuk pelajar dan pemuda. Kedepan, katanya, reenactor bakal bekerjasama dengan sekolah agar pelajaran sejarah lebih menarik. “Sehingga sejarah bisa lebih berkembang dan dihargai,” kata Eko.

Di antara lalu lalang pengunjung, Fatih, salah seorang pengunjung mengeluarkan gawai. Ia menjepret momen yang terbaik, seperti atribut, pakaian dan persenjataan. Tak lupa ia bergaya sembari berswafoto.

“Komunitas ini wujud membangkitkan sejarah kemerdekaan. Sangat bagus dan menarik,” tuturnya.

Komunitas ini akan menjadi media pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah. Serta tak tunduk dengan perkembangan teknologi informasi. “Sedikit-sedikit memainkan gawai.”

ICD kedua di Malang diikuti 20 komunitas. Menyajikan diskusi, pameran, atraksi dan kegiatan unik, beragam dan menarik. “Komunitas di Indonesia beragam. Berkembang pesat,” kata asisten manajer bisnis kompasiana penyelenggara ICD, Deri Fadilah.

Komunitas, katanya, memiliki visi dan misi yang berbeda-beda. Namun tetap satu memiliki satu tujuan, yakni untuk kemajuan Indonesia. Sehingga komunitas menjadi stakeholder pemerintah dan lembaga turut memajukan Indonesia.

* Laporan peserta Kelas Jurnalis Muda angkatan pertama Terakota.id

 

 

Tinggalkan Balasan