Mencintai Buku, Menyemai  Peradaban Baru

“Enak ya jadi dosen saat wabah Covid-19 begini?”

“Enak gimana?”

“Kuliah daring. Tinggal ngasih tugas mahasiswa. Selesai.”

“Enggak juga ah. Tetap enak kuliah manual.”

Terakota.idDialog singkat seorang teman bukan dosen pada teman saya yang berprofesi dosen. Pertanyaannya, memang enak mengajar model daring seperti ini? Banyak mahasiswa mengeluh tugasnya banyak. Memang dosen juga tugasnya sedikit? Mungkin ada dosen yang hanya tinggal di rumah. Ongkang-ongkang. Mendapat gaji bulanan. Mungkin ada. Tetapi pernahkan dibayangkan dosen yang benar-benar sibuk saat wabah Covid-19 ini? Memangnya yang boros data internet cuma mahasiswa? Enggak juga.

Memang dosen enak-enakan? Tidak juga. Mereka harus mantengin laptop atau android setiap saat berkaitan dengan tugas daring. Tidak mudah lho. Kalau mahasiswa mungkin sudah terbiasa mantengin laptop atau android. Dosen kebanyakan tidak biasa. Ini tentu repot.

Buku Keroyokan

Sekarang saya akan cerita pengalaman saya saja. Tahun lalu (2020), kebetulan saja, saya harus mengoreksi tugas mahasiswa sebanyak 242 artikel dalam waktu satu minggu. Mengapa satu minggu? Karena tugas itu harus saya kembalikan segera. Jarang lho dosen mengembalikan tugas mahasiswa.

Awalnya, saya menerima file mereka. Harus mengecek plagiasi satu per satu (ada yang tingkat plagiasinya 89%). Lalu saya koreksi satu persatu di setiap lembarnya. Saya beri komentar. Memang mudah dan menyenangkan? Susah. Mending rebahan.

Itu belum termasuk mahasiswa yang bandel. Misalnya diminta mengumpulkan tugas dengan nama file tertentu ternyata tidak mematuhi. Jadilah dosen bingung sendiri. Harus mencari dan memasukkan dari mana dia ikut kuliah.

Belum yang terlambat dan tak jadi satu dengan satu kelas. Harus membuka artikel tersebut. Beruntung ada banyak mahasiswa yang mematuhi. Tetapi model mahasiswa yang tidak patuh begini juga tak sedikit. Repot bukan? Tidak apa-apa. Namanya juga mahasiswa. Kadang harus dimaklumi sedikit.

Tahun 2020 memang saya memberikan dua pilihan pembelajaran pada mahasiswa. Saat mengajar pertama kali saya memberikan pilihan model perkuliahan. Mau kuliah biasa sebagaimana pertemuan di kelas atau kuliah dengan membuat buku. Ada 3 kelas memilih kuliah biasa, sementara ada 4 kelas memilih membuat buku. Saya berikan kebebasan mereka memilih model perkuliahan, saya tinggal menurutinya.

Di antara 3 kelas yang kuliah itu ada beberapa mahasiswa yang memilih membuat buku. Mereka yang berminat dan berpotensi itu saya kumpulkan jadi satu kelas. Jadilah saya menambah jam mengajar. Pertemuan disepakati dengan mahasiswa yang berasal dari 3 kelas tersebut. Tidak mudah lho menyesuaikan waktu dengan mahasiswa itu? Saya tidak memaksa. Kita sepakati bersama-sama. Bahkan kuliah malam pun saya turuti jika disepakati.

Ilustrasi buku : Freepik

Mengapa saya memberikan peluang 3 kelas yang membuat buku itu untuk mengumpul jadi satu? Karena mereka berminat dan berpotensi. Kalau kuliah “manual” sih biasa. Semua dosen bisa melakukan dan yang didapatkan mungkin yang sebagaimana biasanya. Menulis buku? Belum tentu. Oh ya, buku itu buku kumpulan tulisan mahasiswa. Jadi setiap mahasiswa menyumbangkan satu tulisan dengan tema mata kuliah.

Ada juga lho dosen yang sinis dengan model perkuliahan membuat buku. Tidak banyak sih. Katanya, kuliah membuat buku itu tidak sesuai dengan kurikulum yang sudah ada, tahapan penyampaian materi, model pembelajaran, evaluasi, dan output yang diharapkan. Model perkuliahan seperti itu kaku banget. Saya mengakui itu. Tetapi apakah model perkuliahan sesuai kurikulum itu bisa menghasilkan lulusan yang sesuai dengan kurikulum itu sendiri? Belum tentu. Buktinya, mahasiswa komunikasi malah banyak yang menjadi pegawai bank.

Nah, penulisan buku itu salah satu bentuk terobosan model perkuliahan. Materi dalam kurikulum tetap dipakai acuan untuk menulis. Acuannya tetap ke sana. Keuntungan bagi mahasiswa; 1) mereka bisa mendapatkan model perkuliahan yang baru, 2) menjadi bangga karena selama kuliah belum tentu punya buku kelas, 3) bisa mendukung poin Surat Keterangan Pendamping Ijazah/SKPI, 4) bisa menjadi promosi kampus karena buku itu bisa dilaunching dan dipublikasikan.

Tahun lalu (2019), saya beserta mahasiswa membuat 10 judul buku. Di antaranya; (1) Literasi Media dan Peradaban Masyarakat, (2) Kebebasan Media Mengancam Literasi Politik, (3) Independensi Media itu Omong Kosong, (4) Media dan Pekembangan Budaya, (5) Relasi Kuat Antara Generasi Milenial dan Media, (6) Peradaban Media Sosial di Era Industri, (7) Media Kiblat Baru Politik Indonesia, (8) Media Sosial, Identitas, Transformasi, dan Tantangannya, (9) Teori Komunikasi Massa dan Perubahan Masyarakat, dan (10) Terpenjara Komodifikasi Media.

Capek Juga, Tauk

Saya akan lanjutnya cerita saya. Dalam proses pembuatan buku mahasiswa itu, saya harus menyiapkan Term Of Reference (TOR). Saya jelaskan ke mahasiswa di kelas. Kemudian saya membagi kelompok. Per kelompok biasanya minimal 25 orang. Cukup untuk sebuah buku kumpulan tulisan. Minggu depannya saya menjelaskan materi-materi mata kuliah dan memberikan tema pilihan untuk masing-masing kelompok.

Setelah jelas, mereka membuat tulisan seadanya terlebih dahulu. Oh ya mereka harus mengumpulkan judul dulu biar punya rencana apa yang akan ditulis. Kalau tidak dipaksa begitu, sampai deadline mahasiswa susah merencanakan naskahnya.

Tak lupa saya membuat grup per masing-masing kelompok. Untuk memudahkan komunikasi. Saya harus layani mereka siang dan malam. Kadang malam ada yang mengirim pesan, saat saya sudah tidur. Saat saya bangun pagi, kebanyakan mereka masih tidur. Tidak apa-apa.

Setelah itu mereka mengumpulkan tugas file dan print out. File saya pakai untuk cek plagiasi. Saya kerjakan sendiri di rumah. Print out memudahkan saya memberikan catatan dan corat-coret dalam naskah sebelum saya kembalikan.

Setelah naskah dikembalikan ke mereka, mereka harus merevisi dan mengumpulkannya pada kesepakatan waktu. Revisi ini menjadi nilai Ujian Tengah Semester (UTS). Kerja keras editing memang setelah pelaksanaan UTS. Banyak pekerjaan setelah UTS saya handle dengan tim editor buku. Sekitar 4-5 orang editor.

Saya harus mendampingi editor terus-menerus. Bahkan di luar kampus. Kadang saya harus melayani editor untuk mengedit di warung kopi. Jadi siapa bilang membuat buku itu lebih mudah dari kuliah biasa? Dosen harus super sibuk, bukan?

Nah, setelah diedit saya harus melihat keseluruhan naskah sebelum dikirim ke penerbit. Capek juga. Tapi buku itu harus terbit karena kalau tidak terbit mahasiswa tidak mendapatkan nilai UAS. Bagi yang bukunya terbit saya berikan nilai A pada Ujian Akhir Semester (UAS) untuk masing-masing mahasiswa. Kenapa tidak? Susah dan tidak sembarangan mahasiswa bisa menerbitkan buku, lho.

Ke mana menerbitkan buku? Saya serahkan ke mahasiswa, sebagaimana saya jelaskan saat awal kuliah. Tapi karena mereka tidak punya jaringan, maka saya yang mencarikan. Pernah saya harus naik bis PATAS EKA Surabaya-Yogyakarta untuk mencari penerbit. Ini pengalaman saat menerbitkan buku angkatan 2007 Ilmu Komunikasi UMM.

Oh ya buku-buku ini bersifat indie. Mahasiswa menulis sendiri, membiayai sendiri, mencari penerbit sendiri, mendistribusikan sendiri, mempromosikan sendiri. Tentu tetap saya kawal. Saya hanya ingin mereka punya keahlian manajerial disamping menulis. Ada yang bisa mencari sponsor sampai tidak iuran untuk menerbitkan buku tersebut.

Setelah buku terbit buku bisa dilaunching, mengundang orang untuk membedahnya. Kita pernah mengundang dosen dari Yogya, redaktur media, dan dosen dalam sendiri. Tentu tetap ada mahasiswa yang ikut mendampingi, biasanya saya pilih dari editor.

Setelah acara saya biasanya buatkan release berita. Jadilah launching buku dipublikasikan banyak media. Lumayan untuk promosi kampus. Proses belajar mengajar selesai, mahasiswa punya pengalaman membuat buku, dan publikasi jalan.

Itu saja cerita saya ya, lain kali disambung lagi. Jadi saat wabah Covid-19 tahun ini dosen jangan dianggap enak-enakan. Dosen juga sibuk. Ya memang ada yang tak sibuk. Hanya di rumah saja, rebahan. Mahasiswa sibuk, dosen harus lebih sibuk dong tentunya.

Pengalaman menulis artikel sudah. Buku sudah. Saatnya saya memberikan dorongan menulis di lingkungan sekitar profesi saya. Saya hanya mengembangkan dan memaksimalkan potensi yang ada saja. Tak lebih. Karena masing-masing dosen punya kelebihan sendiri-sendiri.

Hanya dengan buku kita bisa menyongsong masa depan dengan lebih baik. Buku itu jendela dunia, membaca adalah kunci membukanya. Menuliskannya adalah bagian dari rasa cintanya pada kemajuan peradaban dunia. Selamat hari buku sedunia.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini