Mencicipi Kue Rangin yang Gurih dan Nikmat

mencicipi-kue-rangin-yang-gurih-dan-nikmat
Pedagang kue rangin di Arjowinangun, Kedungkandang, Malang menyajikan kue tradisional sejak sore hingga malam. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.idKue rangin, kudapan berbahan baku tepung beras, tepung ketan, parutan kelapa dan santan bercitarasa gurih. Kue ini dikenal hampir dari seluruh Jawa dan Bali dengan memiliki beragam sebutan. Masyarakat Betawi menyebut kue pancong, di Bandung dikenal dengan sebutan kue bandros atau kue gandos, di Jawa Tengah dan Yogyakarta disebut kue serabi rangin.

Sedangkan di Bali  disebut kue haluman atau daluman, sedangkan di Jawa Timur disebut rangin. Sementara di Makassar disebut kue baroncong atau buroncong. Asal usulnya ada yang menyebut berasal dari daerah Betawi. Penganan ini akulturasi budaya, kue rangin bersaudara dekat dengan kue pukis. Mengingat bentuk dan cetakan serupa. Namun rasanya berbeda, rangin terasa gurih sedangkan pukis manis.

Intan Nasution dari STAINU Temanggung 2018 menulis jika kue rangin dikenal sejak 1950-an di Kecamatan Wonosalam, Demak. Desa Lempuyang, Ploso, dan Karangsambung menjadi sentra produksi rangin. Setiap menjelang lebaran masyarakat setempat mehidangkan rangin bagi tamu yang datang.

“Kue rangin juga menjadi tradisi buah tangan setiap bertamu,” tulis Intan. Terutama saat berkunjung ke rumah saudara, lamaran, pernikahan, dan tunangan. Masyarakat Wonosalam memberikan nama rangin (angin – angin, ilir – ilir) karena bentuknya seperti kipas.

mencicipi-kue-rangin-yang-gurih-dan-nikmat
Pedagang kue rangin di Arjowinangun, Kedungkandang, Malang menyajikan kue tradisional sejak sore hingga malam. (Terakota/Eko Widianto).

Membuat rangin mudah, dengan menyiapkan bahan baku tepung beras, santan serta parutan kelapa. Sejumlah pedagang memodifikasi dengan memberi topping berupa susu, coklat dan keju.

Andayani melakukan riset 2019 mengenai kecenderungan masyarakat membeli kue rangin di Jakarta mempublikasikannya di Jurnal Sains Terapan Pariwisata Politeknik Sahid Jakarta. Hasil survei menunjukkan sebanyak 50 persen persen responden membeli rangin sebulan satu kali. Lantaran sulit menemukan jajanan kuno ini.

Sementara di Malang sejumlah pedagang menjajakan rangin tradisional ini, salah satunya di Jalan Raya Wonokoyo, Arjowinangun, Kedungkandang, Kota Malang. Saban sore, Kue Tempoe Doelu menjajakan kudapan gurih ini menyambut pelanggan. Setiap lembar rangin dijual seharga Rp 2.500.

Kudapan ini langka, tak banyak yang menjajakan meski sebagian telah dimodifikasi secara kekinian. Silakan coba mencicipi kue tradisional ini. Dijamin ketagihan, ingin lagi…lagi…dan lagi.

 

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini