Mencicipi Aneka Buah, Bunga dan Sayuran di Kaki Semeru

mencicipi-aneka-buah-bunga-dan-sayuran-di-kaki-semeru
Hamparan kebun apel seluas 150 hektare di Poncokusumo tesedia beragam jenis buah apel. (Terakota/Abdul Malik).

Terakota.idHamparan tanaman apel, jeruk, aneka sayuran dan bunga porong memanjakan mata saat menginjakkan kaki di Desa Poncokusumo, Kabupaten Malang. Desa di timur Kabupaten Malang ini berada di kaki Gunung Bromo-Semeru. Pohon Pekarangan rumah warga berhias aneka tanaman, sayur dan buah. Sebuah desa yang menawarkan beragam pesona yang menyegarkan mata dan jiwa.

Para pendaki Semeru yang hendak menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dari Kota Malang pasti melewati Desa Poncokusumo. Desa ini menjadi salah satu pintu masuk bagi pelancong yang hendak pelesir ke Gunung Bromo atau menaklukkan puncak Mahameru. Sebelum menuntaskan misi utama itu, sepatutnya singgah dulu di desa ini.

Banyak yang bisa dieksplorasi di desa dengan ketinggian antara 700 – 1.100 meter di atas permukaan laut (m.dpl). Kekayaan dan keindahan alamnya luar biasa. Sanggup memanjakan mata dan menyejukkan jiwa. Tentu saja kehidupan sosial dan budaya masyarakat pedesaan yang tidak bisa ditemukan di kota.

Desa Poncokusumo termasuk salah satu desa yang ada sejak masa kolonial Hindia Belanda. Tak heran jika pemukiman desa tertata rapi. Penataan wilayah permukiman, ada sejak masa penjajahan. Pohon apel, jeruk mudah dijumpai di halaman rumah penduduk maupun di kiri dan kanan jalan.

Buah apel dari kebun – kebun warga desa ini menembus pasar di berbagai penjuru kota besar seperti Surabaya, Yogyakarta, Semarang sampai Jakarta. Di puncak kejayaannya, luas lahan perkebunan buah sub tropis di desa ini pernah mencapai 500 hektar. Namun sekarang hanya tersisa kurang lebih 150 hektar dampak perubahan iklim dan kualitas tanah yang mulai buruk.

mencicipi-aneka-buah-bunga-dan-sayuran-di-kaki-semeru
Jeruk siam Pontianak menjadi buah andalan baru di Poncokusumo. Memiliki cita rasa manis, dan segar. (Terakota/Abdul Malik).

Meski demikian, produktivitas apel di Desa Poncokusumo tetap lumayan tinggi. Setiap tahun ada dua kali masa panen. Setidaknya mampu menghasilkan 12 ton per tahun per hektar. Jika datang ke desa ini saat masuk masa panen apel, bisa menikmati buah ini langsung memetik dari pohonnya. Jenis apel yang dibudidayakan mulai dari apel manalagi, room beauty, ana, green smith, caroline dan lain sebagainya.

Selain apel, jeruk jadi salah satu tanaman buah yang mulai gencar dibudidayakan di desa ini sejak lima tahun terakhir ini. Umumnya jenis jeruk yang dibudidayakan di sini adalah jenis siyem Pontianak. Luas kebun jeruk di desa ini mencapai lebih dari 200 hektar dengan 150 hektar di antaranya sudah produktif atau sudah bisa dipanen. Produktivitasnya, 1 pohon jeruk mampu menghasilkan 50 kilogram.

Soal rasa, jeruk Siam Pontianak cenderung berasa manis sedikit asam. Namun bila matang pohon, kadar rasa manis dan segar jauh lebih kuat. Siam Pontianak tidak kalah bila dibandingkan dengan jeruk keprok 55 Punten dari Kota Batu. Jeruk – jeruk hasil budidaya petani Poncokusumo dikirim sampai ke Jakarta.

Jejak Tuan Penanam Apel

Dalam sejarahnya, budidaya buah apel di Poncokusumo dan daerah lainnya di Nusantara dimulai oleh orang Belanda. Tanaman sub-tropis itu juga cocok dibudidayakan di daerah dataran tinggi seperti di lereng Gunung Semeru-Bromo. Sejarah awal mula apel di Desa Poncokusumo juga ada peran orang Belanda yang bermukim di desa ini. Warga masih bisa menceritakan kisah itu dengan baik.

Sosok Julius Wilhelm Charles Kribben, orang Belanda yang tinggal di Surabaya yang mulai menanam apel di Desa Poncokusumo. Awalnya hanya menanam sekitar 15 pohon di Poncokusumo hingga terus berkembang dan mulai ditanam secara masal pada era 1960-an oleh penduduk setempat.

mencicipi-aneka-buah-bunga-dan-sayuran-di-kaki-semeru
Buah apel ranum menarik minat wisatawan untuk mencicipi atau petik apel langsung dari kebun. (Terakota/Abdul Malik).

Penduduk setempat meyakini Tuan Kribben adalah pegawai Algemeen Nederlands Indische Electriciteits Maatschappij (ANIEM) atau PLN-nya Belanda yang berkantor di Surabaya. Kribben bercerai dengan istri pertamanya, seorang perempuan Belanda. Kemudian menikah dengan warga Nongkojajar, Pasuruan, sekaligus menetap di sana sampai akhir hayatnya.

Sayangnya, bekas rumahnya di Poncokusumo sudah dipugar total dan kini jadi rumah warga biasa. Namun warga masih bisa menunjukkan di mana lokasi rumahnya dulu di desa ini. Tuan Kribben sendiri diperkirakan adalah bekas prajurit Tentara Kerajaan Hindia Belanda atau KNIL berpangkat sersan.

Ia pernah jadi dan tinggal di kamp tawanan Jepang selama periode 1942 – 1945 di masa pendudukan Jepang. Itu merujuk selembar dokumen Stichting Administratie Indonesische Pensioenen (SAIP) atau Yayasan Administrasi Pensiunan  Indonesia tentang interniran Jepang. Kribben dikenal ramah dan baik terhadap penduduk.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini