Mencegah Alih Fungsi Lahan Pertanian, Pemkot Malang memberi Fasilitas dan Insentif

Urban farming dikembangkan di lahan terbatas di Glintung Water Street. (Terakota/ Eko Widianto).

Terakota.id–Pemerintah Kota Malang memberikan berbagai fasilitas, insentif dan bantuan untuk mempertahankan lahan pertanian. Mencegah alih fungsi lahan pertanian untuk permukiman, dan ruang terbangun lain. Bantuan diberikan melalui lintas sektoral, adalah Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) memberikan bantuan alat dan mesin pertanian, ketersediaan jaringan irigasi teknis dan kontinuitas air, dan bibit padi berkualitas.

Sedangkan Badan Pendapatan Daerah Kota Malang memberikan potongan pajak bumi dan bangunan (PBB) khusus untuk lahan pertanian. Sektor pangan dan pertanian menjadi salah satu faktor dalam pembangunan di Kota Malang.

“Tertuang dalam visi dan misi Kota Malang, untuk tercapainya Kota Malang bermartabat,” kata Kepala Dispangtan Kota Malang Sri Winarni dalam siaran pers yang diterima Terakota.id, Selasa 22 Juni 2021. Data Badan Pusat Statistik menyebut luas lahan pertanian yang menggunakan jenis pengairan teknis di Kota Malang seluas 1.014 hektare. Menyusut dibandingkan periode 2015 seluas 1.707 hektare.

Gunung Semeru terlihat dari areal persawahan di Kota Malang. (Terakota/Eko Widianto).

Dispangtan, katanya, akan menuangkannya dalam meningkatkan daya beli terhadap komoditas pangan dan non-pangan.  Dalam rencana strategis Dispangtan 2018-2023 yakni peningkatan ketahanan pangan, perikanan, pertanian, peternakan dan kesehatan hewan.

Dalam sektor pertanian perkotaan, keterbatasan lahan dan tenaga kerja menjadi salah satu kendala dalam mewujudkan Restra tersebut. Untuk itu, Dispangtan menyelenggarakan pelatihan, sosialisasi, dan bimbingan kepada petani dan kelompok tani agar lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusai dan produkfititas.

“Para petani diharap mampu meningkatkan poduktivitas produk pertanian dan pengolahan pascapanen,” kata Sri Winarni. Sehingga kesejahteraan petani dan keluarga meningkat. Sehingga meminimalisir alih fungsi lahan pertanian di Kota Malang.

Vigur Organik salah satu kelompok petani organik di Buring, Kota Malang memanfaatkan atap rumah untuk pertanian organik. (Terakota/ Eko Widianto).

Selain itu, secara bertahap Dispangtan juga melakukan peningkatan sarana dan prasarana pertanian dalam upaya peningkatan hasil produksi hingga pemasaran. Yaki dengan memberikan fasilitas pinjaman lunak dan bantuan alat mesin pertanian agar geliat pertanian di Kota Malang bergerak. Serta pemberian benih padi unggulan yang bisa diproduksi dalam waktu cepat dengan hasil yang optimal.

“Pelatihan dan bimtek diberikan kepada para petani agar semakin berdaya,” ujarnya.

Jaga Harga Komoditas

Sedangkan untuk menjaga komoditas pertanian, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) dan Pemkot Malang melalui Tim Pengendalikan Inflasi Daerah (TPID).  Sejumlah strategi untuk mengendalikan inflasi melalui menjaga ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.

Komoditas pertanian merupakan salah satu komoditas yang rentan mengalami inflasi. Tren inflasi komponen bergejolak atau volatile food di Kota Malang kembali menunjukan tren peningkatan sampai dengan periode Mei 2021. Inflasi volatile food di Kota Malang tercatat 4,55 persen dalam year over year (yoy). Sehingga kebijakan struktural perlu ditingkatkan untuk menekan gejolak inflasi volatile food melalui penguatan produktivitas pertanian dan peningkatan efisiensi melalui infrastruktur distribusi.

“Kenaikan harga disebabkan antara pasokan dan kebutuhan yang tidak seimbang,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Malang, Azka Subhan Aminurridho. Mengenai komoditas pertanian di Kota Malang tak bisa mengandalkan produksi sendiri untuk mencukupi kebutuhan. Sehingga harus dipasok kebutuhan pertanian dari daerah lain, seperti Kabupaten Malang dan Kota Batu.

Sehingga BI Malang mendorong kerja sama antar daerah. Saling membantu untuk mencukupi kebutuhan hasil pertanian. Namun, bidang pertanian bisa dikembangkan di Kota Malang, seperti sayur-mayur.  Di kawasan perkotaan dengan lahan sempit namun bisa dioptimalkan untuk urban farming. Kantor Perwakilan BI Malang bekerjasama dengan Tim Penggerak PKK mendorong urban farming memanfaatkan lahan yang terbatas.

Sejak 2016, Bank Indonesia Malang turut andil pengembangan urban farming melalui Program Sosial Bank Indonesia (PSBI). Yakni memberi bantuan sarana prasarana urban farming senilai Rp10 juta. Pada 2017, memberikan bantuan paket kolam ikan dan bibit tanaman untuk program urban farming senilai Rp 150 juta. Pada 2019, bantuan paket sarana prasaraan kegiatan pengembangan mesin pengolah, mesin penepung dan mesin pengering senilai Rp 197 juta.

Program tersebut, kata Azka, memberi dampak positif bagi masyarakat. Yakni mengurangi pengeluaran untuk konsumsi pangan juga mengurangi dampak inflasi pangan bagi masyarakat. Selain untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga sendiri, hasil urban farming memiliki daya jual yang cukup tinggi.

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini