Mencari Metode Latihan Teater, Setiap Tubuh Memiliki Sejarah

Para pemain saat melakukan latihan persiatasan teater berjudul Tatenggun di Desa Nyapar, Dasuk, Sumenep. (Foto : DOkumen Erwin Agus Priyanto).

Terakota.id—Mengawali 2018 Kamateatra Art Project bersama Padepokan Seni Madura menyelenggarakan program residensi aktor. Diikuti dua aktor yakni Soul Esto dan Jufriyanto, dari Sumenep. Residensi mulai 2 Januari 2018, merupakan metode uji coba metode latihan oleh pendiri Kamateatra Art Project, Anwari.

Anwari mengaku resah, pegiat teater memiliki metode berlatih sendiri, tanpa mengikuti metode berlatih yang sudah ada. Bahkan diciptakan secara sadar. Lantaran setiap aktor memiliki sejarahnya sendiri. “Tubuh-tubuh ini memiliki kekuatan dan pola-pola yang berbeda antara satu sama lain. Kemudian dibentuk menjadi pila dan sistem latihan tertentu,” kata Anwari dalam siaran pers yang diterima Terakota.id.

Kita tahu, katanya, Stanislavski akhirnya menemukan metode latihan sendiri. Dengan melakukan sejumlah pengembangan yang panjang dan menemukan pola yang tepat seputar pemanfaatan “memori afektif.”Agar dapat secara wajar menggambarkan emosi seorang watak.

Sebuah sistem yang memusatkan pada pengembangan emosi dan watak di dunia panggung yang realistis. Pengalaman itu akhirnya digunakan Stanislavski sebagai sistem latihan yang berbeda dengan Grotowski, Brecht, Suzuki, dan Rendra.

Keresahannya Anwari berlangsung selama masa perkuliahan di jurusan Sendratasik Universitas Negeri Surabaya. Mengikuti sejumlah pentas produksi, dan awal mengikuti program latihan aktor dan proses produksi salah satu naskah Yunani bersama Mr. Tadashi Suzuki di Toga, Jepang, pada 2016. Tadashi Suzuki memiliki metode berlatih sendiri yang harus matang dikuasai para aktor sebelum masuk ke naskah pertunjukan.

Tadashi menerapkan latihan sangat keras. Saat ada aktor yang melakukan kesalahan gerakan, akan diulang hingga benar. Proses yang temukan banyak dipengaruhi kultur Jepang. Bahkan istilah penyebutan nomor-nomor gerakan juga berbahasa Jepang. Namun terbukti, metodenya ini bisa dipakai para aktor dari seluruh dunia.

Anwari selama ini memiliki pola latihan yang diambil dari berbagai pengalaman. Dirumuskan sebagai sebuah metode latihan dengan pola yang ditata. Melalui beberapa pertemuan, pembicaraan, dan kesepakatan, direncanakan sebuah residensi dengan Soul Esto dan Jufriyanto. Tujuannya untuk mencari dan merumuskan pola latihan metode aktor.

Anwari menerapkan pola latihan metode aktor diambil dari historis tubuh masing-masing aktor. Meliputi pola gerak tari tradisi Madura hingga gerakan pencak silat khas Pasongsongan diterapkan untuk gerak Jufriyanto. Namun dasar semua gerak adalah kekuatan pernapasan dan kaki. Mengapa kaki? Sebab kaki adalah dasar, penyangga tubuh saat berdiri, dan yang bersentuhan langsung dengan bumi.

Bumi adalah rumah, adalah tempat pertemuan-pertemuan segala entitas. Sedang untuk napas sendiri secara otomatis membaur dengan pola di setiap gerakan. Untuk menunjang peleburan diri di segala tempat, berbagai macam situasi juga dicobakan. Seperti saat cerah di panggung terbuka Kamateatra Art Space, dilakukan malam hari saat hujan deras dan di panggung terbuka.

Pada 14 -23 Januari 2018, Soul Esto dan Jufriyanto melakukan perjalanan dan residensi bersama komunitas Fieldtrip Performing Art di Kulon Progo, Yogyakarta. Komunitas ini memiliki pola keluarga teater yang sangat menarik untuk dipelajari.

Residensi dilanjutkan merumuskan metode latihan aktor dalam bentuk presentasi dan bincang metode latihan aktor di joglo Museum Singhasari (Singosari, Malang). Dimulai pukul 18.30 WIB, Kamis 25 Januari 2018. Rangkaian acara terdiri dari presentasi metode dan bincang proses bersama Anwari, para undangan atau penonton, dan aktor residensi

“Agar saling berbagi proses dan keterbukaan ide tentang metode latihan aktor. Selain itu juga sebagai persiapan menuju agenda di bulan berikutnya,” kata Direktur Kamateatra Art Project, Elyda K. Rara. Pada Februari 2018 Kamateatra merencanakan sebuah roadshow workshop metode latihan aktor dan pertunjukan teater antropologi yang disutradarai Anwari.

Roadshow dilakukan Kamateatra bersama sejumlah komunitas teater. Sejumlah kota yang singgahi antara lain Malang, Bantul, Kulon Progo, Surabaya, Jember, dan Denpasar, Bali. Roadshow menjadi ajang berbagi metode latihan aktor Anwari bersama kedua aktor residensi. Kamateatra masih membuka kesempatan komunitas lain untuk bekerja sama menyelenggarakan workshop dan pertunjukan.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini