Menanti Kabar Bima Petrus, Wiji Thukul dan Mereka yang Hilang

Puluhan aktivis pro demokrasi hilang satu per satu pada 1998 silam. Sebagian dari mereka telah kembali, tapi 13 orang di antaranya tidak ditemukan alias hilang sampai saat ini. Keluarga korban penculikan terus menuntut pemerintah mengungkap kejahatan kemanusian di masa lalu.

Terakota.id- Dionysius Utomo Rahardjo, 71 tahun mengeluarkan selembar surat penghargaan dari Comando Da Brigada Negra, kelompok tentara klandestin bagian dari Falintil, cikal bakal militer Timor Leste untuk Petrus Bima Anugerah. Penghargaan ditandatangani bekas Perdana Menteri dan bekas Presiden Timor Leste Xanana Gusmao. Penghargaan ini diterima langsung Utomo Rahardjo Maret tahun lalu.

“Selain Petrus, penghargaan juga diterima Wiji Thukul,” katanya usai sarasehan budaya Wiji Thukul, Ke Mana sang Penyair Kerakyatan yang diselenggarakan Terakota.id di wisma Kalimetro, Mertojoyo, Malang, Jumat 3 Februari 2017.

Penghargaan diberikan kepada sejumlah aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dianggap membantu perjuangan rakyat Timor Leste. Penghargaan juga diterima Budiman Sujatmiko, Danial Indrakusuma, Dita Indah Sari, Petrus Hari Hariyanto, Wilson Sitorus serta sejumlah aktivis lainnya.

Ayah kandung Bimo Petrus ini tak menyangka jika perjuangan anaknya dan teman-temannya diapresiasi negara lain. Sementara nasib Bima dan 12 aktivis yang hilang lainnya akibat penculikan juga tak kunjung menemui jalan terang. Utomo menanyakan kemana Bima? Jika masih hidup di mana dia sekarang, jika meninggal di mana kuburnya. Selama ini lebih dari 100 kali, harus bolak-balik Malang-Jakarta untuk menelisik keberadaan Bima.

Utomo yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Orang Hilang (Ikohi) bersama Bambang Widjojanto dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) melaporkan kejahatan kemanusiaan yang dialami Bima ke markas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa, Swiss. Dia berulangkali menyambangi sejumlah institusi meliputi Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, DPR, Kementerian Hukum dan HAM, dan Markas Besar TNI. Namun, sampai saat ini belum membuahkan hasil.

Utomo bersama istrinya Genoveva Misiati, 74 tahun, terus menanti kejelasan nasib Bima. Nasib Bima sama dengan Wiji Thukul, menjadi korban penghilangan paksa. Bima merupakan salah satu dari 13 aktivis yang menjadi korban penghilangan paksa. Utomo berharap film biopik Wiji Thukul berjudul Istirahatlah Kata-kata untuk merawat ingatan terhadap nasib korban penghilangan paksa.

“Semoga film ini menjadi pintu masuk menagih janji pemerintah untuk mengungkap pelanggaran HAM masa lalu,” kata Utomo.

Namun, dia juga beragukan niat pemerintah termasuk Presiden Joko Widodo mengingat sejumlah pelaku pelanggaran HAM masa lalu juga berada di lingkaran istana. Seperti Hendropriyono dan Sutiyoso. Tomo menolak rencana penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu melalui Dewan Kerukunan Nasional. Lantaran dikhawatirkan akan semakin tidak jelas nasib para aktivis korban penculikan tersebut.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini