Menangkap Fenomena Sosial Melalui Bunyi  

Log Shanskrit mengikuti gerakan bakti pada abad ke empat. Sebuah masa peralihan saat penganut agama Budha menyusu. Lantas pengkarya turun ke masyarakat menyuarakan humanisme melalui simiotik ekspresi sehingga memunculkan sastrawan. Sampai pembaharuan epos Ramayana.

 

Semangat Sumpah Pemuda (4)

Terakota.id–Harmoni instrumen Hindustan mengalun merdu, menyambut senja di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, Kamis 2 November 2017. Puluhan pasang mata takjub memandang tiga pemuda yang tengah memainkan alat musik yang asing bagi mereka.

Asrie Tresnady, 32 tahun memainkan sitar sebuah instrumen petik khas India, sedangkan Yushaan, 26 tahun memainkan Shruti Box  dan Rahul Sharma, 27 tahun, memainkan Pakhawaj. Pakhawaj merupakan perkusi semacam gendang yang dimainkan ribuan tahun.

Ketiganya menghipnotis para penonton, meski suara atau bunyi yang dihasilkan juga terasa asing di telinga. Mereka terpukau. Ketiga pemuda ini menamakan diri Log Shanskrit Log didirikan Asrie Tresnady pada medio 2009 di kota Vadodara, India.

Mengawali dengan media jurnal dan blog yang menjadi ruang diskusi berpikir dalam pemikiran baru dunia indologi lintas profesi di berbagai belahan dunia. Menjadi ajang refleksi ruang kesederhanaan berpikir manusia dalam menyerap ilmu.

Musik asal India, katanya, sebagai alat untuk mengekspresikan seni namun konten musik menangkap kegelisahan atau fenomena di Indonesia. Unsur nusantara dalam instrumen musik India. “Komposisi mengambil modulasi gamelan dikonfersikan dalam musik India,” katanya.

Sesuai namanya, Log Shanskrit memiliki arti orang kebudayaan. Mereka tengah melakukan perjalanan selama setahun bernama Svarayatra. Sebuah misi perjalanan atau pengembaraan, silaturahmi bunyi. Mereka telah melakukan perjalanan panjang ke sejumlah tempat untuk pencarian suara.

Mereka mengawali ke sejumlah Negara di Timur Tengah mulai Palestina, Suriah, Beirut, dan Turki dilanjutkan ke Eropa. Kini, memasuki etape terakhir di Jawa mulai Cirebon, Jabotabek, Solo, Yogyakarta, Magelang, dan Malang. Dilanjutkan ke Lombok, dan Bali.

Dia mengaku menangkap banyak fenomena dituangkan dalam musik. Seperti saat bermain musik di Wisma Kalimetro dengan para pegiat antikorupsi dari Malang Corruption Watch (MCW). Mereka bermain musik sekaligus berdialog dengan siapapun.

Saat bermain di Bandung, Asri mengaku mendapat penghargaan dan apresiasi dari warga Bandung. Mereka berekspersimen bermain selama 40 menit di hadapan 300 pasang mata yang asing dengan bunyi ketiga alat musik. “Sekitar 70 persen penonton khusuk mendengarkan,” ujarnya.

Rencananya di Lombok mereka akan bermain musik dalam sebuah acara sedekah bumi. Sementara di Ulu Watu Bali mereka akan bermain di sebuah pesantren yang menemukan lingga dan yoni tertua. Mereka akan bermain musik di tengah-tengah jamaah umat muslim yang beristighotsah.

Bukan hanya unsur musik, katanya, tetapi semangat kolektif. Rahul yang asli dari India tengah belajar kolektifitas dalam perjalanan mencari bunyi ini. Semangat kolektifitas, kata Asrie, tak ada di India. Asri lama tinggal di India untuk menempuh pendidikan jurusan Indologi di The Maharaja Sayajirao University of Baroda (MSU), Baroda, India.

Selama menempuh pendidikan ini, Asrie belajar bermain Sitar. Serta mengenal kebudayaan India. Asrie memiliki dasar musik Nusantara, namun secara praktis sering memainkan sitar. Namun, rasa bermusik tetap gamelan. Dia memahami tradisi secara kuat. Log Shanskrit, katanya, mencari gagasan untuk diaktualsasikan dalam bunyi. Seperti dalam Borobudur Writers and Culture Festival mereka menerjemahkan serat centini dalam bunyi.

“Sama dengan melukis dan menulis,” ujarnya.  Membuat album, kata Asri, bukan menjadi prioritas utama. Namun, memilih mengembara untuk ke sejumlah tempat untuk berdialog dan menangkap fenomena.

Log Shanskrit berkolaborasi dengan instrumen sekaligus musikalisasi puisi bareng Profesor Djoko Saryono.
(Terakota.id/Eko Widianto).

Log Shanskrit mengikuti gerakan bakti pada abad ke empat. Sebuah masa peralihan saat penganut agama Budha menyusu. Lantas pengkarya turun ke masyarakat menyuarakan humanisme melalui simiotik ekspresi sehingga memunculkan sastrawan. Sampai pembaharuan epos Ramayana.

Perjumpaan dengan banyak orang sekaligus untuk menularkan ideologi dan gagasan dalam ruang diskusi. Bermusik langsung, katanya, berbeda dengan mendengarkan rekaman. Ada pesan yang disampaikan kepada para penonton. “Ada yang harus dilihat langsung. Ada ide, energi dan  propaganda. Ada dialog,” ujarnya.

Bahkan, aktivitasnya diteliti oleh mahasiswa untuk dijadikan skripsi. Asrie menganggapnya sebagai sebuah penghargaan terhadap aktivitas bermusik mereka. Dibandingkan dengan membuat album musik. Saat ini, mereka memiliki satu album musik yang bisa diunduh secara gratis. “Tujuan bukan membuat album,” ujarnya.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono mengatakan jika Sitar merupakan intrumen musik arkais. Terbukti ada pahatan pemain musik membawa musik asal India. Menurutnya, pada masa itu musisi asal India telah melintasi batas  ruang dan waktu. “Jelas terliat di relief Candi Jajaghu,” ujarnya.

Sitar atau Wina, katanya, dalam sumber daya tekstual berupa prasasti dan susastra. Secara visual terlihat di teras satu candi Jajaghu dalam cerita ‘Pathayajna’, pada panil relief Cerita Panji. Serta bangunan berundak di situs Kendalosodo di lereng Gunung Penaggungan. Juga ada relief Mregayatawati atau Katasaritsagara di Patirthan Jalatunda.

Relief Parthayajna menceritakan pemusik bermain dengan beragam intrumen berdawai lain yang menyerupai kecapi. Sedangkan pada situs Kendalisada, Panji terlihat memainkan intrumen dari Hindustan ini. Data tekstual dan artefaktual, katanya, terpapar bukti sejak Masa Hindu-Buddha, setidak-tidaknya pada abad X Masehi, Sitar dikenal, dimiankan dan dibuat di Nusantara sejak lama.

Sebutan “pandai arawanahasta” dalam sumber data prasasti menjukkan bahwa kala itu di Jawa telah terdapat pekriya (pandai) yang mampu membuat instrumen itu. Dalam relief candi Jajaghu maupun Kendalisada, yang ditampilkan adalah waditra wina yang dilengkapi dengan dua buah resonator menyerupai bentuk buah labu.

Mereka mengakhiri pertunjukan dengan berkolaborasi dengan para musisi di Malang. Menghasilkan harmoni yang indah dengan tiupan saxophone Nurman Rizki dan Ewot dari Tuban yang memainkan unen-unen rangel sebuah instrument musik berbahan bamboo asal Tuban. Serta musikalisasi puisi oleh Profesor Djoko Saryono, guru besar sastra Indonesia Universitas Negeri Malang.

Memperingati Sumpah Pemuda, Terakota.id menurunkan laporan tokoh pemuda yang menjadi pahlawan dalam bidang seni, budaya, sejarah dan pariwisata.

Tinggalkan Pesan