Menangkal Radikalisme dengan Kekuatan Budaya

Termasuk seni Ludruk juga dikembangkan di pesantren. Ludruk dikembangkan santri pesantren Tebu Ireng pada 1930. Kiai Haji Hasyim Asyari mengizinkan perkembangan kesenian Ludruk karena memiliki misi. Berupa pendidikan informal perlawanan terhadap Belanda. Lakon yang dipentaskan senantiasa mengambil tema perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Terakota.id– Arus globalisasi, telah mengancam budaya dan kesenian lokal. Budaya global telah merambat ke seluruh pelosok negeri. Lambat laun, kesenian dan tradisi lokal mulai luruh. Ketua Umum Lembaga Seniman dan Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) NU, Kiai Haji Agus Sunyoto menyebut globalisasi menjadi masalah utama yang dihadapi seniman dan budayawan.

“Hampir 20 tahun, selesai perang dingin dan komunisme tumbang. Globalisme menghantam sendi-sendi akar budaya. Kocar-kacir, termasuk NU,” katanya dalam rembug budaya, ‘merawat kebhinekaan dan menangkal radikalisme dalam bingkai Pancasila’ yang digelar di Universitas Brawijaya Malang, Rabu, 3 Januari 2018.

Agus Sunyoto menyebutkan saat ini sulit menemukan nama lokal di desa-desa seperti nama Sumaji, Martono tetapi berubah nama yang kebarat-baratan seperti Farel dan Lusi dan sebagainya.  “Tak ada lagi yang memanggil Emak, dan Embok.”

Nahdlatul Ulama, katanya, telah meneliti perubahan itu sejak dua tahun lalu. Untuk itu, NU merumuskan strategi kebudayaan yang diserahkan kepada Lesbumi. Strategi kebudayaan Sapta Wikrama artinya tujuh kekuatan.  Salah satu strateginya adalah mengembalikan pengetahuan leluhur zaman dulu melalui pendidikan.

Berupa nalar atau sifat analisis, dan kaweruh yakni yang ada di hati. Dulu padepokan, asrama dan pesantren, ujar Agus Sunyoto, membekali santri dengan ilmu akal dan hati. Namun, sekarang hilang, hanya diajarkan akal saja. Sehingga paham ideologi tafsiran gampang berkembang. Termasuk paham radikalisme dan ekstremisme.

“Banyak yang menafsir agama tanpa imam. Sehingga yang tak sama dianggap kafir, dan ahli neraka.”  Amaliah yang tak dicontohkan Nabi Muhammad disebut bid’ah, selamatan tak diajarkan nabi,  juga bid’ah. Kelompok ekstrem juga melarang perempuan belajar, tak boleh sekolah.

“Itu tafsiran mereka sendiri. Pandangan ini dibawa ke pesantren ditertawakan.” Paham ekstrem ini menimbulkan kebencian dan hanya menganggap diri yang paling benar. Sedangkan paham radikalisme dan intoleran tak mampu menembus pesantren. Lataran pesantren mewarisi Wali Sanga dengan ilmu tasawuf. Sehingga penyebaran agama Islam dilakukan dengan menghargai tradisi lokal dan cenderung toleran. “Tuhan yang disembah sama.”

Setelah perang dingin, katanya, terjadi konflik antara blok Timur yang dianggap diwakili Islam dan blok barat dari unsure Kristen. Kemudian menjalar ke Indonesia, gereja dibakar pelaku dari kelompok Islam, kemudian dibalas di Kupang masjid dibakar.

Kalangan pesantren, katanya, selama ini yang terdepan untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pada 1964, seorang anggota Banser menikam pemain ludruk yang digelar Lekra. Gara-gara mereka mementaskan ludruk berjudul “Matine Gusti Allah.”

Kesenian Tradisi Tumbuh di Pesantren

Ludruk Legi Pahit tampil di Malang Tempo Doeloe mengangkat tema kepahlawanan. (Terakota/ Fahruroji)

NU juga berupaya untuk meneruskan tradisi lokal. Karya seni tumbuh dan hidup di pesantren. Pada 2010 pesantren menggugah tradisi kuno seperti sedekah bumi. Dulu sedekah bumi telah punah, habis. Dianggap kepercayaan Jawa kuno, animisme dan dinamisme juga dituding bid’ah. Kemudian dibangkitkan lagi.

Termasuk seni Ludruk juga dikembangkan di pesantren. Ludruk dikembangkan santri pesantren Tebu Ireng pada 1930. Kiai Haji Hasyim Asyari mengizinkan perkembangan kesenian Ludruk karena memiliki misi. Berupa pendidikan informal perlawanan terhadap Belanda. Lakon yang dipentaskan senantiasa mengambil tema perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

“Pak Asmuri pimpinan ludruk tebu Ireng , temannya Cak Durasim. Pak Asmuri ini bapaknya Asmuni, Srimulat.”

Penasihat Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi dan Pancasila (UKP PIP) Romo Benny Susetyo menyebut siasat kebudayaan harus dilakukan serius untuk menangkal paham radikalisme. Yakni dengan menggali potensi dan kearifan lokal.

“Sekarang berpola pikir instan. Tak bangga dengan budaya lokal. Tak ada jati diri.” Masyarakat Indonesia, kata Benny, tak bangga dengan apa yang dimiliki. Dia menantang para pegiat dan pakar teknologi informasi untuk menciptakan permainan dan aplikasi berbasis budaya dan kesenian lokal.

Kesenian, katanya, merupakan bentuk perlawanan terhadap rezim seperti kesenian Ludruk di Jawa Timur untuk melawan Belanda. Untuk itu, di era digital ini harus dilawan dengan sejarah dan kesenian kampung. Kampung memiliki nilai, dan basis kebudayaan.

Ideologi Pancasila

Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya. (Foto : Warta Kota). (Foto : Warta Kota).

Sedangkan Ideologi Pancasila sudah final. Pancasila, katanya,  tak ke blok barat dan tak ke timur. Kalau ada yang melawan dengan ideology Pancasila, katanya, harus keluar dari Indonesia. Sikap itu diterapkan di Amerika dan Jepang. Bagi yang tak sejalan dengan ideologi harus  keluar dari Amerika dan Jepang.

Romo Benny menilai pendidikan saat ini tak mendidik kehidupan. Hanya berupa hafalan. Untuk itu, saat ini waktunya lembaga pendidikan untuk membangun basis kebudayaan. Berfikir global dengan bertindak lokal. “Generasi milenial menembus batas waktu dan ruang.”

Romo Benny melayangkan kritik terhadap pengguna media sosial yang hanya membagikan informasi. Tanpa mau membuat informasi asli yang akurat. Sekarang, katanya, malas membaca tetapi suka menyebarkan meme. Sehingga menyuburkan budaya copy paste. Generasi muda cenderung tak kreatif. Siswa menyelesaikan tugas, katanya, mencari di internet melalui mesin pencari. Generasi muda sangat bergantung dengan teknologi tetapi minim membaca.

Sedangkan dulu siswa diminta untuk membaca buku dan diberi tugas membuat resensi. Sehingga tak bisa mensontek. Lama-lama copy paste, katanya, akan membudaya. Pejabat tak malu mengambbil ide orang lain. Kekayaan intelektual tak dihargai sebagai karya kebudayaan.

Romo Benny mengajak para pegiat teknologi informasi untuk membuat konten yang beragam. Tujuannya memberikan pendidikan karakter. Keragaman budaya dan etnis juga dilakukan dengan praktik. Misal dengan berkunjung ke sejumlah rumah ibadah dan berkunjung ke teman-teman sekolah.

Dia juga mendorong agar kesenian, budaya lokal menggunakan media digital. Termasuk mengangkat tema keberagaman dalam film. Namun, dia menyayangkan sikap penggemar film yang justru menyukai film bertema setan. “Film setan berbiaya murah malah laris. Film bertema keberagaman tak laku.“

Dulu, katanya, permainan gobak sodor mengajarkan bergaul dengan multi etnis. Sekarang anak muda cenderung individual karena permainan. Lebih banyak menggunakan gawai dan tablet untuk bermain. Untuk itu, dia mengajak pakar teknologi informasi melakukan inovasi. “Tablet diisi dengan konten local. Menggabungkan teknologi dengan budaya. Petak umpet, dakon bisa dilakukan dengan rekayasa teknologi.”

Romo Benny juga menyapaikan jika selama ini agama dipahami sebatas ritual, bukan keimanan. Sehingga kebaktian di gereja meningkat, ibadat rajin tapi korupsi juga rajin. Sementara dulu dianggap secara ritual tak begitu religius. Tetapi tak merusak, pendidikan budi pekerti dan karakter sangat kuat.

“Agama tak mendalam, hanya sebagai simbol bukan isi.” Sehingga menimbulkan paham radikalisme. Romo Benny juga berharap televisi mengisi dengan pemahaman dan aktualisasi Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Voice of Pancasila Universitas Brawijaya Malang, Ki Riyanto mengatakan jika ujian terharap Pancasila terus berulang. Gerakan radikalisme muncul sejak Indonesia merdeka. Termasuk pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo yang akan mendirikan Negara berdasarkan agama. Kartosuwiryo di Jawa Barat mampu menggalang dukungan dan gerakan di berbagai daerah.

“Tak perlu khawatir, akhirnya mereka berhasil ditumpas.” Untuk mengelorakan semangat kebangsaan dan Pancasila Ki Riyanto mengusulkan membuat komik dengan konten budaya lokal. Dengan menyuarakan keberagaman dan toleransi.

Sementara seniman  Supriyanto GS atau yang akrab dengan sapaan Prie GS mengatakan jika godaan di media sosial sangat besar. Banyak yang marah dan menuangkan kekesalan melalui media sosial. Untuk itu Prie GS mengajak anak muda untuk mengangkat profil tokoh nasional dan meneladaninya.

Seperti Kiai Haji Agus Salim, yang berdiplomasi dan berdebat dengan gembira. Selain itu, juga menempatkan diri sebagai sosok yang memiliki kepercayaan diri. “Kiai Haji Agus Salim gembira berdebat dengan orang Eropa. Sambil menghisap kretek.”

 

Tinggalkan Balasan