Menanam Pohon, Memanen Air

Masyarakat Suku Tengger pemeluk Hindu meyakini ajaran Tri Hita Karana. Yakni hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan

Pohon cemara gunung tetap dipertahankan di sela-sela tanaman sayur. (Terakota/Eko Widianto).

Terakota.id–Tanaman cemara gunung kokoh berdiri mengelilingi areal pertanian sayuran petani Desa Wonokitri, Pasuruan. Pepohonan tegak berdiri, ditanam berjajar rapi. Di bawahnya terhampar tanaman sayuran kentang, kubis, bawang dan wortel. Pohon cemara gunung memiliki peranan penting bagi kehidupan suku Tengger di Wonokitri.

Mereka hanya memanfaatkan ranting pohon cemara gunung untuk tungku perapian. Saban malam setiap rumah membakar kayu sebagai perapian untuk mengusir hawa dingin. “Ranting dipotong untuk perapian. Pohon tetap berdiri tegak,” kata warga Wonokitri, Sutiko.

Ketua kelompok tani Subur ini tetap mempertahankan tanaman cemara gunung berdiri areal pertanian. Pohon dijaga dan dipertahankan secara turun temurun. Sehingga banyak pohon berusia seratus tahun lebih. Tetap dipertahankan tak ditebang. “Peraturan desa masyarakat dilarang jual kayu,” katanya.

Kayu tersebut disiapkan khusus untuk bangunan rumah warga. Keberadaan cemara gunung di lereng Gunung Bromo ini sangat penting, sebagai kawasan penyangga. Apalagi, permukiman warga berada di kawasan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Masyarakat Suku Tengger pemeluk Hindu meyakini ajaran Tri Hita Karana.  Yakni hubungan manusia dengan Tuhan,  hubungan dengan sesama manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan.  Sehingga umat tetap menjaga dan melestarikan lingkungan secara turun temurun.

“Pohon disayang.  Seperti merawat bayi,” ujarnya.  Di lahan sawah miliknya rata-rata pohon cemara gunung berusia sekitar 10 tahun. Rumput ditanam di sela kebun sayur agar tak tergerus air.  Cemara gunung dipilih karena kuat,  dan menyerap air.  Sehingga cocok untuk usaha konservasi. Pohon cemara gunung ditanam secara turun temurun.

Sementara di bawah, Kelompok Tani Sumber Rejeki Desa Tempuran,  Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan turut mempertahankan tegakan pohon untuk menyimpan air. Mereka juga membuat rorak, sebuah parit buntu.  Lebar, panjang dan kedalaman 50 centimeter.  Ketua Kelompok Tani Marsudi menjelaskan rorak berfungsi menjebak air hujan agar terinfiltrasi ke dalam tanah.

“Kami turut berkontribusi mengendalikan banjir,” katanya Marsudi. Setiap hektare dibuat 200 lubang rorak. Pembuatan mudah juga bermanfaat mencegah banjir di kawasan hilir. Kini, petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Rejeki telah membuat 1.000 buah rorak.

Tak mudah, katanya, untuk mengajak petani lain terlibat membuat rorak. Awalnya, ia memberikan contoh di kebun durian miliknya. Berangsur-angsur 25 anggota tergerak dan terlibat membuat rorak. Kini kebunnya dipenuhi tanaman durian, di bawah tegakan berjejer rorak. Tanaman pangan seperti ubi, jagung dan singkong ditanam di sela-sela pepohonan.

Khusus untuk tanaman pohon sengon, jati dan jabon para petani mencegah tebang muda.“Ada program tunda tebang dari Badan Layanan Umum (BLU) Desa,” katanya.

BLU menyediakan dana pinjaman sehingga petani tak menebang pohon di usia muda.  Jika petani membutuhkan uang bisa mengajukan ke BLU dana pinjaman bergulir. Petugas BLU menginventarisasi tanaman, data identitas pohon dan lokasi penamana.  Sehingga tanaman tetap lestari, sedangkan petani mendapat uang saat kebutuhan mendesak.

“Kami tak mengejar nilai kompenasasi. Ada dampak yang lebih luas. Alam dan lingkungan terjada,” ujarnya. Kerja keras para petani tak bisa dinikmati seketika, tapi bakal dirasakan anak cucu kelak. Dibutuhkan bertahun-tahun, agar sumber Umbulan kembali mengalir deras. Mengalir jauh hingga sampai ke Surabaya sejauh 90 kilometer.

Menyelamatkan DAS Rejoso, Menyelamatkan Umbulan

Untuk mengatasi penurunan debit sumber Umbulan, sejumlah lembaga bergabung melakukan gerakan RejosoKita sejak awal 2017. Diinisiasi Yayasan Social Investment Indonesia (YSII), World Agroforestry Centre (ICRAF), Collaborative Knowledge Network (CK-Net) Indonesia, dan The Nature Conservancy (TNC) Indonesia. Berkolaborasi dengan perguruan tinggi, masyarakat dan pemerintah untuk menyelamatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) Rejoso.

DAS Rejoso sepanjang 22 kilometer. melintasi 11 Kecamatan membelah Pasuruan. Kawasan hulu di lereng Bromo mengalir sampai ke hilir di laut utara Pasuruan. “Menyelamatkan DAS Rejoso juga menyelamatkan Umbulan,” kata Direktur Eksekutif Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) Pitono Nugroho.

Limpasan air dari sumber Umbulan mengalir ke DAS Rejoso. Sehingga Umbulan harus dijaga debitnya agar DAS Rejoso tetap terjaga. Program RejosoKita berjalan selama dua tahun sejak 2017. Diawali dengan studi dan penelitian melibatkan ahli hidrogiologi,  geologi,  dan sosiologi.

Riset hidrogeologi dilakukan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Montpellier Perancis berjudul sistem air tanah lereng utara Gunung Tengger. Studi dilakukan Haris Mifrahul Fajar dari UGM sejak setahun lalu. Fokus untuk meneliti penurunan debit mata air umbulan dan maraknya sumur bor di sana. Serta mengetahui keseimbangan atau neraca air di kawasan DAS Rejoso.

Hasilnya ditetapkan recharge area atau daerah yang menyarap dan meneruskan air sampai ke dalam tanah di DAS Rejoso berada di ketinggian antara 700 sampai1.200 meter di atas permukaan laut (m.dpl). Ditetapkan kawasan recharge area sekitar 30 ribu hektare.

“Sampai ke kawasan lautan pasir di Gunung Bromo,” kata Pitono. Haris merekomenfasikan dilakukan restorasi, menghentikan izin tambang dan reboisasi di kawasan tangkapan air. Selain itu ditemukan banyak izin tambang di kawasan catchment area atau daerah tangkapan air. Penambangan pasir dan batu dilakukan sampai dalam.

“Berbahaya dikeruk sampai dalam bisa sampai merusak kawasan tangkapan air,” ujarnya. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasurunan telah mengevaluasi sejumlah izin tambang pasir dan batu di kawasan tersebut. Izin tambang bagi dua perusahaan perusahaan dibekukan. Lantaran merusak kawasan dan reklamasi tak dilakukan sesuai prosedur sehingga membahayakan jiwa.

“Dari 65 izin tambang, sebanyak 15 izin tambang dievaluasi,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan, Muchaimin.

Kini tengah disusun Strategic Plant atau rencana strategi selama lima tahun.  Rencana strategi disusun oleh pemangku kepentingan melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, swasta dan masyarakat. Pemerintah terdiri dari Dinas Kehutanan, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Timur.

Anak-anak bermain dan berenang di kolam sumber air Umbulan, Winongan, Kabupaten Pasuruan. (Terakota/Eko Widianto).

Rencana strategi meliputi menjaga kuantitas dan kualitas air di DAS Rejoso. Secara kuantitas dilakukan reboisasi di kawasan tangkapan air di kawasan hulu. Sedangkan di hilir menjaga agar mencegah pencemaran untuk menjaga kualitas air.  Para pemangku bekerja sesuai bidang, tugas pokok dan fungsinya.

Selain itu, juga melibatkan industri yang memanfaatkan air, untuk memberikan dana jasa lingkungan agar pasokan air tetap terjaga. Sementara saat ini baru satu perusahaan air minum kemasan yang bergabung.

“Ujungnya neraca air.  Keseimbangan antara air masuk dan keluar,” kata Pitono.

RejosoKita mendesain DAS Rejoso terbagi dalam tiga klaster untuk konservasi air. Meliputi klaster hulu atas atas, klaster tengah dan klaster hilir atau bawah.

Setiap karakter tanah menggunakan tanaman berbeda, disesuaikan dengan kondisi alam. Petani di Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan di bagian atas menanam pohon dengan tegakan tak begitu rapat. Serta dibangun strip rumput untuk menahan longsor. Sedangkan di bawah pohon cukup rapat serta dibangun rorak untuk resapan air ke tanah.

Menanam Pohon untuk Anak Cucu

Dua kelompok tani di Wonokitri dengan lahan seluas 7,5 hektare memenangkan lelang konservasi pada November 2017.  Lelang menentukan dilakukan RejosoKita untuk menilai kelompok tani yang berkomitmen mempertahankan pohon cemara.

Kelompok tani terpilih berhak mendapat bagian dari jasa lingkungan yang dibayar industri yang menggunakan air di DAS Rejoso. Meliputi industri air kemasan, perusahaan air berkarbonasi dan sejumlah industri lain.

Paceklik di Sumber Umbulan
Sejumlah pemuda bermain, berendam dan berenang di kawasan sumber air Umbulan, Pasuruan. (Terakota/Eko Widianto).

Skema ko-investasi jasa lingkungan berupa investasi bersama secara finansial dan non finansial. Melibatkan seluruh pemangku kepentingan pemerintah, swasta, perguruan tinggi, dan masyarakat mulai 2017. Lelang konservasi jasa lingkungan digerakkan RejosoKita. RejosoKita mewajibkan kelompok tani di Wonokitri setiap hektare mempertahankan 300 pohon. Lereng lahan ditanami rumput, untuk menahan laju tanah longsor.   

Setelah memenangkan lelang, Rejoso kita memasang kode batang atau barcode di setiap pohon yang bisa dipantau secara daring atau online. Kode batang berisi informasi meliputi jenis pohon, titik koordinat lokasi, pemilik lahan, dan kapan pohon di tanam. “Barcode ini identitas pohon, tak hanya manusia saja yang memiliki identitas,” ujar Pitono

Barcode dikeluarkan RejosoKita melalui dana jasa lingkungan dari industri yang memanfaatkan DAS Rejoso.

Tahap awal, sebanyak 170 petani dari 13 kelompok tani yang tersebar di tujuh desa bergabung dalam Rejosokita. Luas lahan mencapai 106,6 hektar meliputi Wonokitri, Sedaeng, Keduwung, Petung, Galih, Ampelsari, dan Tempuran. Petani menandatangani kontrak konservasi dan mendapat imbal jasa lingkungan. Khusus untuk wilayah atas di Wonokitri setiap hektare petani memiliki 300 pohon.

Sementara di bawah seperti Desa Tempuran minimal setiap hektar 500 pohon.  Pohon sengon dibatasi maksimal 50 batang dan kerapatan pohon diatur. 

1 KOMENTAR

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini