Menafsir Singhasari Lewat Tari Topeng (2)

Ken Arok Pribadi Unik

Arkeolog dari Universitas Negeri Malang Mudzakir Dwi Cahyono mengupas kepribadian Ken Arok melalui psikologi historis dalam membedah Singhasari. Dalam serat Pararaton, katanya, digambarkan Ken Arok merupakan sosok yang memiliki kepribadian yang unik. Separuh usianya dihabiskan di jalanan dan diasuh oleh tujuh orang berbeda. “Empat pengasuhnya latar belakangnya tak baik, ada yang penjudi, dan perampok sedangkan tiga pengasuhnya berkepribadian baik,” katanya.

Serat pararaton bersumber dari tradisi lisan yang ditulis ratusan tahun setelah peristiwa sehingga pasti ada pengurangan, penambahan, pengayaan dan pembelokan fakta. Apalagi serat pararaton merupakan produk kasusastraan Jawa. Serat itu sebenarnya dua bundel, bundel pertama merupakan kitab berjudul katuturan nira ken arok. Disampaikan dalam bahasa tutur, sekitar 60 persen menceritakan mengenai Ken Arok. Sedangkan bundel kedua menceritakan kisah raja pasca Singhasari sampai Majapahit. “Kedua naskah ditempelkan jadi satu,” katanya.

Serat tersebut diceritakan dengan gaya balada, dengan detail menceritakan perjalanan hidup mulai Ken Arok lahir. Dia dibuang oleh Ibunya, Nindok dan ditemukan Lembong seorang pencuri. Tubuh kecil bayi Ken Arok memancarkan sinar. Setelah dewasa, Ken Arok menjadi anak nakal suka mencuri dan berjudi. Kenakalan Ken Arok memuncak sampai seluruh harta orang tua angkatnya habis untuk membayar berjudi. Dia juga dituduh mencuri dua kerbau. Ken Arok lantas meninggalkan rumah dan mengelana. Dia diambil sebagai anak angkat oleh Betara Guru Janggan. Ken Arok belajar membaca aksara, mengenal huruf dan berhitung.

Setelah itu, dia juga dikenal menjadi benggol atau begal. Sasarannya para saudagar, mereka dibekal dan dirampas harta bendanya. Dalam perjalanan hidupnya Ken Arok bertemu dengan diangkat menjadi anak oleh Mpu Palot. Lantas Ken Arok bertemu Lohgawe seorang rohaniawan Hindu untuk belajar kerohanian dan politik pemerintahan. Bersama Lohgawe Ken Aroh bisa masuk ke dalam Tumapel, meski sebelumnya menjadi buruan Tumapel karena terkenal sebagai begal. “Ken Arok kepribadiannya terbelah karena berbeda pengasuhan,” katanya.

Baca juga :  Dedikasi untuk Kaset Pita

Sementara praktisi pariwisata asal Bali yang juga penggagas Singhasari Literasi Festival, I Gede Wiwin Suyasa menyebutkan jika di sebuah daerah di Lombok Tengah masih ada tradisi melatih anak usai remaja atau lare angon dengan keterampilan fisik. Seperti berlari bersembunyi dan menghindar. Keterampilan fisik ini dilatih untuk mencuri kerbau, seorang anak dianggap sudah dewasa dan pendidikannya berhasil jika mampu mencuri kerbau. Kitab Negara Kertagama karya Mpu Prapanca ditemukan di Lombok yang diperkiakan mempengaruhi budaya dan kebiasaan setempat. “Daerah itu dikenal desa maling,” katanya.

Semakin banyak versi dan masukan, kata Wiwin, akan banyak berwarna. Sehingga akan menyempurnakan kajian dan membuka ruang diskusi untuk mengungkap masa kejayaan Singhasari. Hasil dari kajian ini, katanya, bisa dibukukan serta menjadi materi untuk mengenalkan budaya dan kesenian termasuk mengungkap masa kejayaan Singhasari untuk keperluan pariwisata. (bersambung)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here