Menafsir Singhasari Lewat Tari Topeng (1)

Ratusan pasang mata fokus menatap ke panggung di depan Pendapa Kabupaten Malang, Jalan Kiai Haji Agus Salim Kota Malang, Kamis malam 29 September 2016. Tiga orang menari mengenakan topeng. Mereka menari diiringi bunyi gamelan yang membahana di seluruh ruangan, penari menyatu dengan karakter setiap topeng mereka menari dengan gagah.  Kaki penari terbuka, kaki kanan agak maju ke depan kaki kiri menumpu badan. Kaki kanannya menjejak lantai, kakinya bergetar sehingga genta-genta kecil yang melingkar di kaki mengeluarkan bunyi nyaring. Sementara tangannya bergerak memainkan memainkan sampur.

Tari topeng awalnya merupakan pertunjukan sakral untuk pemujaan terhadap roh leluhur. Tari topeng mengangkat cerita Panji yang berasal dari zaman Jawa klasik. Menceritakan dua tokoh utama Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji, topeng Malang memiliki 84 karakter tokoh. Cerita panji menyebar ke seluruh nusantara, termasuk sebagian kawasan Asia mulai Thailand, Vietnam, Kamboja dan Filipina. Kisah Panji merupakan kisah kepahlawanan pada zaman Kerajaan Kadiri. Pementasan tari topeng ini membuka Singhasari Literasi Festival yang diselenggarakan 29 September-1 Oktober 2016.

Bupati Malang, Rendra Kresna saat membuka acara mengatakan jika sejarah mewariskan budaya dan hikayat, salah satunya topeng Malangan dan cerita Panji. Festival menjadi media para pihak untuk menafsir dan mendialogkan sejarah Singhasari. Mengenalkan masa keemasan Singhasari kepada publik. Serta menggali warisan seni budaya untuk menjaga situs dan jejak sejarah Singhasari. Kerajaan Singhasari meninggalkan banyak situs perbukala yang harus dijaga seperti Candi Singhasari, Jajaghu, Kidal dan Stupa  Sumberawan. “Relief candi menceritakan kemajuan teknologi pertanian, pemerintahan dan budaya.

“Literasi Singhasari merekam jejak sejarah dan membangkitkan seni dan kebudayaan,” katanya. Singhasari Literasi Festival yang bertema Mitreka Buddhaya Singhasari-Singaraja juga menetapkan sister heritage antara Malang dengan Buleleng Bali. Menurutnya, Singhasari dan Singaraja memiliki tautan sejarah dan budaya yang tak bisa dilepaskan.

Baca juga :  Air Bicara, Ucap Syukur kepada Alam

Rendra menceritakan kisah Raja Singhasari Mahesa Cempaka atau Batara Narasinghamurti yang memerintah bersama Raja Wisnu Wardhana. Mahesa Cempaka merupakan keturunan Ken Arok dengan Kendedes, sedangkan Wisnu Wardhana keturunan Tunggul Ametung dan Kendedes. Keduanya memimpin bersama-sama yang kemudian dikenal dengan dua naga atau dua raja. Lantas Mahesa Cempaka tak ingin ada dua matahari dalam pemerintahan Singhasari dan memilih pergi ke Singaraja membantu menata pemerintahan, kebudayaan dan keagamaan. Sehingga tercipta persamaan budaya, adat istiadat dan seni antara Singhasari dengan Singaraja. “Selama festival akan diperbanyak literasi dan kajian mengenai Singhasari,” katanya.

Dalam pembukaan juga disajikan budaya Singhasari (Malang) dengan Singaraja (Buleleng). Sejumlah kesenian tradisi Buleleng juga ditampilkan Tari Topeng Tua, seni tari yang dianggap sakral dan  hanya dipentaskan dalam acara tertentu. Juga ditampilkan tari topeng pajekan yang menceritakan Babad Bali, yakni menceritakan raja-raja Bali. Sementara komunitas dawai nusantara memadukan sejumlah instrument dawai. Instrumentalia berdurasi 10 menit itu merespon relief Candi Jajaghu di Tumpang, Kabupaten Malang. (bersambung)

Tinggalkan Komentar

Please enter your comment!
Please enter your name here