Menafsir Istirahatlah Kata-kata

Oleh : *Haris el Mahdi

Terakota.id-Duduk dalam deretan kursi dengan kode C, saat mencoba menyimak detail film Istirahatlah kata-kata, pikiran saya terbuang pada dua karya penting Walter Benjamin, The Task of The Translator dan The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction. Dua karya klasik yang masih relevan dibaca ulang.

Saya kutip satu penggal terjemahan bebas dari The Task of The Translator : “sebuah proses penerjemahan akan dipengaruhi oleh ‘kesalahan membaca ‘ yang tidak bisa dihindari dari sebuah perkelahian dengan teks asli yang tidak bisa dipindahkan keseluruhan artinya ke dalam sebuah bahasa asing (teks yang baru)”. Artinya, menurut Benjamin, dalam proses penerjemahan selalu ada ruang hilangnya makna otentik dari teks yang asli.

Proses penerjemahan menyebabkan teks yang asli tidak cukup bisa direpresentasikan oleh teks yang baru. Demikianlah saat saya “membaca” film Istirahatlah kata-kata yang merupakan bentuk penerjemahan dari sepenggal kisah hidup Widji Thukul ketika berada di Pontianak. Ada “bias baca” film Istirahatlah kata-kata dalam menafsir kehidupan Widji Thukul di Pontianak.

Film Istirahatlah kata-kata, seperti ditengarai Walter Benjamin, tidak sanggup memindahkan secara keseluruhan Widji Thukul, terutama saat di Pontianak. Hal fundamental yang luput dicandra dari film ini adalah Kota Pontianak itu sendiri, sebagai setting utama film ini. Tidak ada simbol ikonik Kota Pontianak dalam film ini, kecuali sungai Kapuas. Tugu Khatulistiwa atau Istana Kadariah, misalnya, tidak ditampilkan sebagai pemanis visualisasi.

Andai tidak ada teks tulisan penjelas niscaya penonton gagal paham tentang setting film ini. Maknanya, di film istirahatlah kata-kata, Kota Pontianak mengalami “decay of aura”, peluruhan aura, sekali lagi meminjam istilah dari Walter Benjamin. Pontianak, dengan segala atribut yang dimilikinya, tidak cukup terwakili dalam sinematografi. Kedua, bias baca juga terjadi pada subyek utama film ini, yakni Widji Thukul.

Gunawan Maryanto, pemeran Thukul sangat apik dalam menafsir dan mengeksplorasi Thukul. Antara Maryanto dan Thukul terdapat jarak karakter yang relatif dekat. Namun, usaha Maryanto untuk mengurangi “kesalahan tafsir atas Thukul” tidak cukup mampu dieksplorasi dalam narasi utuh sinematografi Istirahatlah kata-kata. Fragmen film berjalan cukup lambat dengan dialog yang minim artikulasi. Film, dari awal sampai akhir berjalan datar.

Tidak ada titik pra, klimaks, dan anti klimaks dalam film ini, setidaknya menurut saya. Tafsir atas Thukul juga terkesan hambar. Thukul seolah adalah pribadi yang murung minus harapan. Padahal, sebagaimana dituturkan oleh Martin dalam sebuah wawancara, selama kurang lebih satu tahun di Pontianak, Thukul adalah pribadi yang ramah, rajin dan mudah bergaul. Ia rajin menyapu halaman rumah dan bahkan memasak. Thukul juga kerap keliling kota untuk menyapa penduduk dengan mengendarai sepeda motor.

Di samping itu, Thukul juga gemar membeli majalah dan koran. Artinya, selama di Pontianak, Thukul tidak semurung dan secemas seperti digambarkan dalam film. Thukul, sebagaimana puisi-puisinya, adalah pribadi yang penuh optimisme. Fragmen tentang Thukul bersepeda. blusukan di pasar tradisional, atau membeli koran dan majalah tidak muncul dalam Film.

Bahkan, sebagaimana diberitakan Martin, kegemaran Thukul bercerita tentang mendidik anak, ketidak-adilan rantai ekonomi, dan degradasi moral Kalimantan Barat juga tidak muncul. Di luar itu, selama di Pontianak, Thukul juga sangat rajin menulis puisi dan cerpen yang ia kirim ke koran lokal dengan nama pena Alexius. Melalui puisi dan cerpen yang khas ala Thukul itulah kehadiran laki-laki cadel ini diendus oleh publik Pontianak.

Di titik ini, karakter Thukul sebagai penulis puisi berbasis realisme sosial mengalami decay of aura. Tidak muncul dalam Film Istirahatlah kata-kata.

Titik Harapan

Namun, titik positif Istirahatlah kata-kata adalah sanggup menghipnotis begitu banyak penonton. Manajemen marketing sangat piawai memanfaatkan psikologi massa melalui media sosial untuk menarik animo penonton. Dilihat dari perspektif ini, ada harapan cukup besar, film ini menjadi stimulus bagi khalayak untuk lebih mencintai sastra, terutama puisi karya-karya Widji Thukul.

Film Istirahatlah kata-kata mempunyai peran cukup besar sebagai karya seni yang memberi harapan, seni untuk menumbuhkan harapan. Hal ini bisa kita lacak dari membeludaknya peserta diskusi paska pemutaran film di wisma Kalimetro, 3 Pebruari 2017.

Walter Benjamin di bagian XIV, The Work of Art in the Age of Mechanical Reproduction, menulis sebuah kalimat tentang tugas penting sebuah karya seni : “One of the foremost tasks of art has always been the creation of a demand which could be fully satisfied only later” (salah satu tugas agung dari seni adalah untuk selalu menciptakan karya demi memenuhi permintaan yang dapat secara penuh memuaskan masa depan”).

Karya seni, demikian dalam bacaan Walter Benjamin harus menjadi obor harapan untuk membawa umat manusia menuju masa depan yang lebih baik. Dan, film istirahatlah kata-kata mempunyai peran untuk menjadi menstimulus hal itu, menstimulus hadirnya kembali Widji Thukul-Widji Thukul baru dalam kasusastraan Indonesia.

Namun, jika proyek istirahatlah kata-kata hanya berhenti di film, aura Widji Thukul menjadi luruh secara otentik. Ia hilang dua kali.

*Dosen Sosiologi Universitas Brawijaya Malang

Tinggalkan Pesan