Memutus Rantai Kekerasan dari Rumah

memutus-rantai-kekerasan-dari-rumah
ILustrasi : vectorstock.com

Oleh : Sulih Indra Dewi*

Terakota.id–Tanggal 25 November menjadi momen penting bagi perjuangan kaum perempuan dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Setiap 25 November hingga 10 Desember diadakan kampanye “16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan” (16 Days of Activism Against Gender Violence). Berharap kampanye memberikan dampak terhadap perempuan dan masyarakat secara umum. Namun kenyataannya jumlah kasus kekerasan terus meningkat dari tahun ke tahun. Kekerasan tidak mudah diputus dan tak akan pernah pupus tanpa kerjasama semua pihak.

Komnas perempuan memaparkan angka kekerasan sepanjang 2018, terjadi peningkatan jumlah kekerasan terhadap perempuan. Total kekerasan selama 2018 sebanyak 406.178 kasus atau naik 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini sebenarnya masih kecil dibandingkan kejadian kekerasan yang riil di masyarakat. Lantaran biasanya perempuan enggan melapor atau tidak tahu harus melapor jika mengalami kekerasan.

Kekerasan yang terjadi pada ranah privat masih menempati posisi tertinggi setelah ranah komunitas dan Negara. Kekerasan pada area privat misalnya Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), perkosaan, pemaksaan perkawinan pada anak, pemaksaan aborsi atau kontrasepsi dan kekerasan dalam pacaran. Ternyata area privat dalam rumah tangga dan dalam hubungan personal menjadi tempat yang paling berbahaya bagi perempuan. Bisa dibayangkan rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman dan aman justru menjadi tempat yang paling rentan terhadap kekerasan. Jadi harus kemana perempuan bisa mendapatkan perlindungan dan tempat yang aman?

Kekerasan terhadap perempuan bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada dan jumlahnya besar. Kekerasan terhadap perempuan merupakan akumulasi kompleksitas masalah dalam masyarakat kita. Bagaimana paham patriarki demikian kuat membentuk pola pikir dan ketetapan-ketetapan yang merugikan bagi perempuan dan laki-laki yang kemudian dilanggengkan oleh budaya, media massa dan regulasi.

Lihatlah bagaimana media massa merepresentasikan laki-laki dan perempuan dalam pemberitaan, televisi, sinetron, film dan iklan. Laki-laki selalu digambarkan sebagai sosok yang kuat, maskulin, berotot dan akrab dengan kekerasan. Sementara perempuan selalu digambarkan sebagai sosok yang lemah, korban, tidak berdaya dan hanya mengandalkan tubuh dan kecantikan.

Paparan representasi tersebut yang terus menerus membuat laki-laki dan perempuan mempercayai dan akhirnya menerima kondisi tersebut. Jadi tidak heran apabila kekerasan selalu diidentikkan dengan laki-laki dan perempuan yang selalu menjadi korban. Padahal pada kenyataannya perempuanpun bisa menjadi pelaku kekerasan atau laki-laki menjadi korban kekerasan. Hitler mengatakan sebagai propaganda sebuah kebohongan yang ditampilkan secara berulang-ulang akan dianggap sebagai sebuah kebenaran.  Kekerasan sudah menjadi bagian dari keseharian kita, sebagai solusi atas buntunya sebuah masalah.

Dalam beberapa budaya, kekerasan juga menjadi bagian dalam keseharian masyarakat. Laki-laki akan “dipaksa” untuk menjadi kuat. Boys don’t cry misalnya merupakan ungkapan yang biasa didengungkan untuk menggambarkan laki-laki agar kuat dan tidak cengeng. Represi terhadap perasaaan atau emosi laki-laki dalam pola asuh keluarga menjadi jamak dan wajar sehingga social expectation terhadap laki-laki menjadi demikian tinggi. Sebaliknya bagi perempuan sosok yang lemah dan perlu dilindungi menjadi dominan dan dianggap sebagai  “takdir” yang tidak bisa diubah.

Akar permasalahan kekerasan terhadap perempuan adalah budaya dan pola asuh sejak dari rumah sehingga sudah seharusnya solusi atas permasalahan kekerasan ini juga bisa dituntaskan dari rumah yakni dari keluarga. Relasi kuasa yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan menjadi penyebab banyaknya terjadi kekerasan sehingga pola relasi yang lebih berkeadilan gender menjadi solusi.

Pola relasi berkeadilan gender yang bagaimana yang bisa dimulai dari level rumah? Yang pertama adalah dengan membangun pola asuh yang lebih berkeadilan gender. Untuk bisa membangun pola asuh ini tentunya orantua perlu memahami seperti apa konsep gender dan bagaimana aplikasinya.

Mulailah dengan tidak memberikan stereotipe pada anak laki-laki atau perempuan misalnya dari pemilihan warna baju (biru untuk laki-laki dan merah muda untuk perempuan). Memilih jenis mainan yang boleh dimainkan anak dan jenis buku cerita yang diberikan pada anak. Mobil-mobilan, bola, dan robot merupakan jenis mainan yang selalu indentik dengan anak laki-laki sedangkan anak perempuan identik dengan bermain masak-masakan dan boneka.

Ilustrasi permaianan anak. Sumber : Dissolve.com

Cerita dongeng-dongeng tentang putri yang disiksa dan  menderita lalu menunggu pangeran berkuda putih untuk menyelamatkannya merupakan dongeng yang melemahkan posisi kaum perempuan. Hal ini berdampak pada nilai-nilai yang diyakini anak dan cita-cita yang akan dimiliki. Anak laki-laki akan cenderung akrab dengan hal-hal yang berbau fisik, teknologi dan kegiatan publik. Sedangkan anak perempuan dikondisikan berada pada area domestik.

Oposisi biner publik dan domestik memiliki keterkaitan dengan relasi kuasa. Bahwa area publik selalu dianggap sebagai area yang dominan, penting dan punya kuasa sedangkan area domestik adalah area yang remeh-temeh dan lemah. Pemahaman terhadap perbedaan gender dan peran yang berbeda menjadi penting untuk mulai mengikis dominasi budaya patriarki.

Cara yang kedua adalah dengan membangun pola komunikasi yang terbuka antara pasangan dan anak-anak. Kekerasan yang terjadi dan dilakukan oleh seseorang biasanya memiliki keterkaitan dengan pola asuh dan pola komunikasi dalam keluarga. Seorang anak akan mencontoh cara-cara penyelesaian yang dilakukan oleh orangtuanya. Teriakan, makian dan kekerasan secara fisik bukanlah fitrah seorang anak tapi hasil peniruan dari lingkungannya.

Pola komunikasi yang terbuka terhadap pasangan, menyelesaikan masalah dengan berdiskusi akan membangun pola hubungan yang lebih sehat menjadi cara sederhana yang bisa dimulai. Kekerasan hanyalah akumulasi dari emosi yang tidak terekpresikan secara sehat sehingga hanya perlu sedikit hal untuk memicunya dan membuatnya meledak. Kebanyakan pola asuh anak laki-laki dalam budaya kita merepresi emosi-emosi tersebut.

Laki-laki tidak boleh cengeng, tidak boleh lembek harus kuat dan tidak boleh menunjukkan sisi lemahnya adalah sebagian kecil bagaimana doktrin keluarga berpengaruh terhadap mind set laki-laki. Sehingga dengan memperbaiki pola komunikasi dalam keluarga, orangtua dan anak akan kembali menemukan makna dan kehangatan keluarga dan rumah akan memiliki arti bukan hanya sebagai bangunan fisik untuk berteduh tetapi ikatan yang menyatukan dan memberi rasa aman.

Banyak hal-hal kecil yang bisa kita mulai lakukan agar kekerasan terhadap perempuan tidak terus terjadi. Ini bukan hanya menjadi perjuangan perempuan tetapi juga peran serta laki-laki dengan mulai terbuka pada pemikiran-pemikiran tentang kesetaraan dan tidak terlena dengan priviledge yang diberikan oleh budaya patriarki selama ini. Laki-laki dan perempuan harus mau berubah. Bergerak dan belajar menjadi sejatinya manusia untuk kemudian menjadi orangtua dan guru yang baik agar mampu mencetak generasi selanjutnya yang lebih peka pada kesetaraan gender.

* Dosen pada Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Tribhuwana Tunggadewi dan pemerhati isu-isu perempuan dan pengampu Mata Kuliah Media, Gender dan Identitas

Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan ke email : redaksi@terakota.id. Tulisan yang menarik akan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini