Mempromosikan Konten Positif dan Informasi Valid

mempromosikan-konten-positif-dan-informasi-valid
Ilustrasi : pes.cor.europa.eu

Oleh : Frida Kusumastuti*

Terakota.id–Eskalasi penggunaan media digital di era pandemi meningkat tajam. Kebijakan works from home, belajar daring jelas memberi andil besar terhadap eskalasi tersebut. Konsumsi dan produksi konten digital melebihi volume sebelumnya.

Konten-konten akademik melalui webinar dan analisis-analisis akademik berseliweran bersama dengan konten hiburan, dan informasi. Tidak terkecuali konten positif dan negatif diantaranya. Jadi dari sisi volume maupun frekwensi lalu lintas konten digitial di internet sangat luar biasa.  Pertanyaan berikutnya adalah apakah literasi digital masyarakat kita sudah memadai dalam dunia yang kini serba daring ini?

Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japeidi) Indonesia pada 8 September 2020 merilis hasil penelitian mereka yang dilakukan pada kurun waktu 2019. Penelitian dilakukan di 32 kota di Indonesia untuk memetakan kompetensi literasi digital masyarakat Indonesia. Menarik, Japelidi membuat tajuk Kompetensi Literasi Digital Masyarakat Indonesia Mulai Berkembang.

Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan mengonsumsi secara fungsional mendapatkan nilai tertinggi. Menurut Japelidi itu menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat baru menggunakan media digital sebatas untuk mencari informasi. Sementara skor terendah ada pada keterampilan produksi yang melibatkan keterampilan berpikir kritis.

Koordinator penelitian nasional yang mengolah data sebanyak 2.280 responden Dr. Ras Amanda mengatakan, “meskipun lebih rendah namun temuan kami menunjukkan ada sebagian masyarakat yang sudah mampu berpikir kritis baik saat mengonsumsi informasi maupun memproduksi informasi. Yang menarik meskipun keterampilan kritis cenderung ada pada responden dengan tingkat pendidikan tinggi, namun ada sebagian responden dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah yang juga memiliki kompetensi kritis yang baik,”

Bagaimanapun hasil penelitian itu merupakan gambaran sebagian masyarakat Indonesia yang layak disyukuri dalam menghadapi Pandemi pada tahun 2020. Namun tentu saja jika dilakukan penelitian ulang sepanjang 2020, hasilnya akan berubah. Bisa jadi kompetensi semakin menuju level yang lebih tinggi, walau juga tidak bisa dihindari kegagapan disana-sini karena eskalasi konten-konten yang bertebaran juga sangat tinggi. Japelidi sendiri tidak menampik hal itu.

Terbukti dengan program-program Japelidi di awal pandemi. Isu hoax Informasi Covid19 menjadi perhatian. Pada kurun bulan April – Agustus bahkan Japelidi melakukan kampanye masif Anti Hoax Informasi Covid19. Latar Belakang Kampanye anti hoax informasi Covid19 adalah keprihatinan Japelidi pada banyaknya missinformation dan dissinformation Covid19 yang mempengaruhi perilaku negatif masyarakat dalam memandang bahaya pandemi.  Kampanye dilakukan baik secara luring maupun daring. Bahkan kampanye Japelidi dilanjutkan dengan kampanye patuh pada protokol kesehatan yang dimulai pada September ini.

Tiga aktivitas Japelidi yang penulis singgung di awal tulisan bermaksud memberi gambaran potensi dan kenyataan yang terjadi di  masyarakat kita terkait Literasi Digital. Potensi kompetensi pada 2019 ternyata juga masih tergagap ketika dalam keadaan krisis pandemi. Oleh karena itu gerakan literasi digital masih harus terus dilakukan.  Sebuah survei yang dilakukan oleh Klinik Misinformasi menggambarkan bahwa sebanyak 9 dari 10 responden Klinik Misinformasi terpapar berita bohong dan menyesatkan. Temuan ini merupakan hasil uji keterpaparan lebih dari 5 ribu responden terhadap misinformasi yang beredar selama pandemi (JawaPos.com, 26/08/2020).

Gerakan Literasi

Literasi memang isu yang selalu ada di setiap pergantian teknologi komunikasi dan informasi yang berkuasa dalam setiap periode kebudayaan. Ketika budaya lisan digantikan oleh budaya baca sebagai efek ditemukannya mesin cetak, juga terjadi revolusi budaya. Gagap budaya tidak bisa dielakkan. Struktur masyarakat juga berubah. Indikator kemajuan sebuah negara juga berubah. Budaya baca mendorong adanya gerakan literasi melalui gerakan berantas buta huruf, gerakan cinta buku, dan literasi media massa cetak.

Namun satu abad kemudian budaya baca ini terusik oleh munculnya teknologi baru yang mendorong membanjirnya konten-konten audio visual. Masyarakat yang terbiasa dengan budaya baca mendadak tergagap dengan budaya audio visual. Literasi media audio visual (terutama televisi dan video) pun digalakkan. Lalu ketika teknologi informasi berkembang, dengan ditemukannya komputer, gerakan literasi informasi juga didengungkan. Begitu seterusnya hingga teknologi serat optik dengan ditemukannya internet. Gerakan Literasi Digital juga digencarkan.

Jadi kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman tersebut. Isu dan keprihatinan rendahnya literasi masyarakat ini adalah persoalan yang berulang karena perubahan teknologi komunikasi dan informasi. Namun mengapa selalu nampak tergagap? Peristiwa perubahan teknologi dalam hal berkomunikasi, memproduksi dan mengonsumsi pesan-pesan ini sudah terjadi ratusan tahun.

Gerakan-gerakan literasi juga tampak sudah banyak dilakukan dan diberitakan. Namun mengapa angka-angka literasi di Indonesia begitu rendah? Kita masih menjadi negara dengan tingkat budaya baca yang rendah. Bahkan memprihatinkan dibandingkan dengan  tingkat budaya baca negara-negara di dunia.

Lalu bagaimana dengan tingkat literasi media massa? Isu bias berita, dan isu konstruksi media massa sebagai institusi mendominasi literasi media cetak.. Sementara literasi media televisi didominasi dengan isu pornografi, kekerasan, irasional, pelecehan, rasis, dan etnosentris. Dan kini isu literasi digital lebih kompleks lagi karena meruakan konvergensi konten dari semua format media.

Artinya isu bias, konstruksi, pornografi, kekerasan, irasional, pelecehan, rasis, dan etnosentri terangkum semua dalam literasi digital. Namun begitu, pada setiap peristiwa publik, peristiwa sosial-budaya, dan peristiwa politik, masyarakat kita masih mudah dipengaruhi oleh agenda media.

Konten Gerakan Literasi

Ragam gerakan literasi beragam. Japelidi memetakan pada 2017 tentang ragam literasi digital, dan berhasil memetakan 342 kegiatan literasi digital di sembilan kota. Tulisan ini ingin mengulas konten gerakan literasi media massa dan literasi digital yang lebih khusus lagi adalah meninjau konten-konten materi literasi. Konten gerakan literasi media massa dan literasi media digital perlu ditinjau ulang. Sejauh ini belum ada data tentang hal tersebut. Namun, penulis mengikuti, terlibat, dan mengamati gerakan literasi media . terutama yang dilakukan oleh para akademisi.

Ketika melakukan literasi, kebanyakan pegiat literasi cenderung mempromosikan konten-konten negatif tanpa sengaja. Tujuan literasi lebih menuju pada kemampuan mendeteksi konten-konten negatif daripada konten positif. Memang prosesnya hanya digunakan sebagai contoh. Misalnya untuk membuktikan bahwa sebuah tayangan itu banyak mengandung pesan kekerasan, maka akan ditayangkan program-program tayangan yang memang banyak mengandung kekerasan.

Begitu juga ketika ingin menunjukkan bahwa sebuah tayangan banyak mengandung kekerasan, maka akan ditayangkanlah program yang banyak mengandung kekerasan. Begitu pula dengan konten pornografi, irasional, pelecehan, dsb. Akibatnya apa? Para peserta yang semula tidak menyadari adanya kekerasan, pornografi, rasisme, dan irasional, menjadi terpapar konten tersebut justru pada saat mengikuti pelatihan. Dan itu akan terbawa di setiap waktu relasinya dengan media. Berlakulah Prinsip Paparan Selektif. Audiens akan tergerak memilih program yang ingin diidentifikasi sebagai tayangan negatif. Bisa karena penasaran, maupun karena memang secara sadar ingin mengeliminasi.

Begitu pula konten gerakan literasi digital seperti gerakan anti hoax. Materi gerakan lebih banyak mempromosikan contoh informasi hoax daripada informasi yang valid. Memang tujuannya untuk mengasah kepekaan mendeteksi informasi hoax. Namun, pada akhirnya para peserta pelatihan akan selalu tergerak mencari informasi hoax.

Awalnya ingin meyakinkan bahwa dia telah mampu mendeteksi dan mengritisi. Namun, lambat laun kebiasaan itu malah berpotensi terhegemoni oleh informasi hoax karena efek pemaparannya akan lebih kuat daripada kualitas kesadaranya. Jika produsen konten negatif dan informasi hoax itu adalah orang-orang atau institusi yang memiliki kompetensi dan keterampilan mengemas pesan dengan menarik dan sangat persuasif. Banyak teori menyatakan bahwa frekuensi paparan suatu pesan berhubungan dan berpengaruh terhadap kognisi, sikap, dan perilaku seseorang.

Melalui artikel ini, penulis memiliki gagasan mengubah materi atau konten gerakan literasi. Alih-alih memberi contoh konten negatif, dan hoax. Sebaiknya, konten gerakan literasi lebih banyak memberi contoh konten positif, dan informasi yang valid. Dengan demikian, gerakan literasi  membawa misi sekaligus mempromosikan konten positif dan informasi yang valid. Harapannya, peserta gerakan terdorong untuk lebih mencari konten-konten positif dan informasi yang valid, serta tidak tertarik dengan konten negatif dan informasi hoax.

*Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan anggota Japelidi Indonesia

**Pembaca Terakota.id bisa mengirim tulisan reportase, artikel, foto atau video tentang seni, budaya, sejarah dan perjalanan melalui surel : redaksi@terakota.id. Redaksi akan menyeleksi dan diterbitkan di kanal terasiana.

 

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini