Memoar Hujan Panas

Ilustrasi : Phive 2015

Terakota.id–Sore itu, tiba-tiba pria dengan napas ter-engus-engus duduk di samping Maja. Wajahnya seperti tukang pos yang setiap Minggu datang, mengantar amplop berwarna coklat. Tatapan seperti menggenggam pesan yang ingin disampaikan. Sedangkan, matahari sudah bersandar ke arah Barat, sambil menjalarkan cahaya ke Timur. Saat berdiri, tubuh terpantul dan bayangannya tak susuai, posisi tak berbanding lurus dengan tubuhnya, seperti tak sepadan dengan lekuknya. Tiba-tiba langit menyirami bumi, tanpa menjanjikan. Bumi hanya bisa menerima, walaupun tanah tak cepat menyerapnya: sampah-sampah plastik indomie mengapung berserakan, dan hilang tak tahu kemana adanya.

________________

Sambil  mendongak ke langit, Ia membicarakan hujan. Seperti seorang ahli ilmu alam. Dengan intonasi suara rendah, seperti mengatur frekuensi sinyal radio agar jernih suaranya. Musim yang tak sesuai  hujan panas sebagai tanda melahirkan kepedihan.

“Musim kemarau, tiba-tiba hujan-panas. Cuaca seperti ini sangat buruk Nak!,” sontak perkataan itu terlontar pada cucunya.

“Iya, saya tidak tahu, Mbah, kan, tiba-tiba, dari panas langsung hujan. Tak ada mendung dan petir, bau tanah dari kering ke basah terasa tajam”. Saut ia sambil malas-malasan menjawab.

“Biasanya ada petanda ini Nak!”. Sambil mendongak ke langit, lalu memandang ke dataran luas. Teras rumah yang bertanah merah, teras tanpa kramik.

“Tanda apa Mbah, bikin penasaran, cuaca  seperti ini bertanda buruk atau baik?”. saut sambil menanyakan dengan mata yang tidak berkedip, penasaran.

“Biasanya kalau ada hujan dan panas, ada tanda-tanda carok[1] umumnya, Nak”. Diam sejenak sambil merundukkan kepala, seperti orang sedang berdoa dan ada penyesalan yang telah lama dipendam.

“Ah, yang benar aja mbah, mana ada mbah bencana ditandai adanya hujan-panas, aneh-aneh saja, Mbah ini seperti seorang peramal yang handal, tahu sesuatu yang belum pasti”. Dengan menggelengkan kepala, senyum kecil, seperti tidak mempercai apa yang disampaikan mbahnya, namun tetap tatapan mata merespon setiap cerita. Ia, lanjut mendengarkan lagi.

***

Di rumah sederhana. Kakek itu, berdiri membenahi sarung sambil merapikannya kembali, sebab kalau dibiarkan akan melorot. Kiamat bagi sang kakek  kalau sarungnya  melorot di depan cucu. Aib bagi orang dewasa ‘katanya’. Ia duduk kembali, memebenahi posisi duduknya, walaupun tidak di tempat semula. Dan memulai pertanyaan baru. Ia tertawa dengan sambil mengajak cucunya. Mulut, yang masih berbicara tak henti berbicara, terus tersenyum, dan sambil terus berbicara. Asap rokok yang mengepul menggulung-gulung ke udara, seperti tak ada beban. Pembicaraan terus belanjut.

***

Di tahun 2018. Mak Tahe, ya, dia yang akan melanjutkan cerita. “Mula-mula, dulu. Pada tahun 1980-an teknologi langka, walaupun ada tapi tidak banyak. Namun, kehidupan dan  kemajuan seolah-olah jalan bergandengan, walau, pada dasarnya tak sejajar bahkan siap. Semua orang hanya menggunakan telempek[2]”. Lalu bertanya lagi kepada cucunya.

“Nak, kamu umur berapa?”.

“Mungkin, umurku 17-18 tahunan mbah,  kalau tidak salah, kalau salah, ya, wajar, karena saya tidak begitu pandai menghitung umur, di ijazahku tertulis seperti itu, padahal kata teman tanggal lahir dan tahun bukan itu. Intinya masih muda, karena baru dua kali saya junub[3], hehe. Kenapa mbah?”.

“Enggak nak, Kakek mau cerita sesuatu. Sudah waktunya sekarang kamu tahu!”.

“Iya mbah, kok sepertinya serius!”. Dengan tersenyum, si cucu sambil memainkan tangannya. Dan hatinya, bergumam ‘bagaimana mendapatkan uang dari kakeknya’.

“Gini nak, saat Munali masih muda!”. Tiba-tiba, dari saku kanan berwarna coklat. Tlit, tlit, tlit. berbunyi telpon kakek. Lalu bergegas mengangkat. Dari percakapan itu, hanya terdengar dari pembicaraan Mak Tahe saja.

“Halo, siapa ini?”.

“Oooh Iya. Iya, aku Mak Tahe, kenapa?”

“Oooh kamu, sehat juga aku. Kamu di mana?”

“Ohh,,, masih bertani di daerahnya, lancar ya!. Aku tetap ini, di rumah, ya, di Alasrajah[4]”.

“Iya, di Alasrjah, Konyik, aku tunggu ya.. kalau jadi ke rumah, kabari wes, wessalam..”

Ia hanya menganggunk-angguk. Namun, sudah dapat dipahami obrolannya. Ia satu-satunya pendengar kakeknya. Sudah selesai perbincangan di telepon. Kakek itu hendak melanjutkan ceritanya. “Tadi itu, Mak Nali teman lamaku”. Ucap kakek itu pada cucunya.

Maja telah meninggalkan teras rumah. Ia harus mengambil daun pisang, disuruh Mbah Jumani, istri dari kakek itu. Tiba-tiba, suara keras terdengar dari teras, di depan ruang tengah di mana Mak Tahe duduk bermalas-malasan “Nakkk, sini, sini! mbah belum selesai cerita,” sambil meninggikan suara.

“Iyaa, iyaa, Mbah. Tunggu, nanti saya dimarahi mbukk, saya selesaikan ini dulu.”, kata Maja sembari segera bergegas. Tidak ada lagi yang bisa disuruh-suruh, hanya Maja, andalan Mbah Jumani untuk membantunya mengambil daun pisang, pembungkus nasi. Karena akan ada syukuran.

Ia sambil mengisap rokok, lalu merebahkan badannya. Lalu menyerput kopi, cucu yang masih di belakang kamar mandi itu yang sambil mengambil daun pisang. Kakek itu terlelap sekejap. Lalu, Ia kaget ketika Maja tiba di sampingnya.

“Mbah, ada apa, ada apa, triak-triak aja. mbah ini bikin gaduh serumah aja. Tidak tahu, kalau lagi ambil hati buat cari uang saku dari mbukk.” Meggeruyam sambil menepuk-nepuk pundak Mbahnya. Hendak membangunnya tapi takut, tapi hanya dalam hatinya bergumam.

“Eh, eh, adduh, bikin kaget aja Nak”. Sambil mengambil rokok di asbak yang masih berasap, hampir  habis tak  dihisap. Bergegas duduk Mak Tahe itu. Lalu menyuruh Maja untuk sambil memijat pundaknya.

“Sini, pijet pundak badan pegel semua, sambil mau cerita”.

“Langsung bergegas”. Dengan wajah yang tidak enak dipandang, kusut, kecewa. Lantaran menyita waktu untuk bermainnya.

“Jangan murung seperti itu nak hehe, nanti kalau sudah, uang yang dilipat songkok hitam itu nanti ambil 20 ribu.” Dengan nada menjanjikan ke anak yang kesal menanggung keadaan yang tidak mengenakkan. Waktu bermain tapi tidak bisa.

“Benaran ya mbahh..!” sautnya dengan nada gembira-ria. Dalam hatinya berkata ‘main PS, main PS, sepuasnya ini, tak apa-apa mijet, terpenting nanti pasti bisa main dengan Dani, .

“Berapa umurmu?” Mak Tahe mengulang pertanyaan padanya.

“Saya  sekarang SMA, kenapa Mbah, tadi sudah tanya?” jawabnya dengan nada singkat dan tepat.

“Oh iya, lupa, sudah ya.”

Mereka berdua melanjutkan cerita yang sempat putus dipertengahan, lantaran Maja masih menunggu mengambil daun pisang. Maja yang bertubuh mungil, dengan kulit kecoklatan, lantaran jarang mandi sepulang sekolah langsung main tanpa cuci muka. Belajar pun tak serajin Sueb yang selalu mendapatkan rangking dan rajin mencuci muka dengan Pons[5].

***

Mula-mula, Ia melanjutkan cerita, perihal ‘hujan panas’[6]. Hujan panas ini, sebenarnya bukan hal baru. Khususnya masyarakat Alasrajah. Semua orang percaya mitos tersebut kalau ada hujan panas, ada tanda-tanda tak baik, entah itu bencana alam dan tragedi yang sulit dilupakan. Maja yang kelahiran tahun 2000-an, Ia seperti merasa sangat asing perihal cerita yang tak dapat dijelaskan dan masuk akal. Namun, kakek itu tetap ingin menceritakan kepadanya.

***

“Pada  tahun 1990-an kakek mengalami tragedi itu. Mahe, anakku yang kedua, paman kamu Nak, Ia memang merantau ke Malaysia, kamu masih belum ada. Saat itu setiap bulan mengirimkan uang kepada kami. Kalau kamu ingin tahu wajahnya, coba lihat foto itu yang bersama dengan teman-teman di pesantren, walaupun agak buram. Tapi wajahnya tampak masih jelas, putih, pas wajah masih cerah, dengan kumis tebalnya”.

“Iyaah Mbah”. Dengan serius menyimaknya, sambil memijet bahunya. “Tidak harus berpikir berlebihan mbah”, dengan intonasi bahasa yang rendah.

“Mbah, pada mulanya tidak percaya kalau ‘panas hujan’ itu tanda adanya musibah, karena semua yang telah diberikan Tuhan bagiku anugerah, terutama hujan. Namun, bumi menganggap anugerah. Pada saat itu, tiga hari ada hujan panas di sini. mbah masih ingat waktu itu bulan rajeb[7] Rabu Legi, tepat satu bulan pamannya lahir, kira-kira tanggal 25, hampir mau bulan puasa. Terus pamanmu tidak ada kabar sejak itu. Telepon mbah sama sekali tak berbunyi, biasanya menelepon setiap hari, tiada  bosan-bosannya. Mulanya mbah tidak berpikir aneh-aneh Nak. Firasat, beranggapan lagi sibuk, ada kegiatan lain. Bapakmu masih di Jakarta jarang memberikan kabar, tapi setiap akhir bulan wesellin[8] uang ke mbah dan mbuknya. Kerisauan kadang datang seperti kebahagiaan. Ternyata hujan panas itu ada tanda petaka. Beberapa hari berikutnya ada kabar dari Malaysia, Pamanmu sudah meinggal. Kakek sangat tidak menyangka, datangnya kabar itu. Hujan panas memang mengingatkanku pada satu kisah ganjilku. Makanya, saat hujan panas kakek langsung membuka baju walau tidak sumuk.  Itu caraku melepaskan segala duka, ya, walau tak sungguh terlepas dan bahkan tuntas”.

Mata yang berkaca-kaca, tak disangka air mata tak tertahan mengalir, sambil bercerita. Maja membujuk dan berkata “Mbah jangan nangis, mbah trauma ya, memangnya paman dimakamkan di mana mbah? ” sautnya dengan menanyakan.

“Yaaa, itu nak. Pamanmu di makamkan di Malaysia katanya, tapi masih bingung, benar apa tidak, dimakamkan, atau bahkan dibakar lantaran dianggap salah. Tidak tahu nak, keberadaan dan ketiadaannya masih penuh pertanyaan yang selesai-selesai”.

***

Namun, Ia kerap kali merahasiakan duka, kecuali bahagia akan selalu diumbar, itu seperti seekor musang melati, sedang menangis karena sudah makan 9 hati ayam. Rahasia itu terus dibalut. Kematian yang dirahasiakan, dikawatirkan akan memberi dampak kegaduhan yang sangat besar. Balas dendam, yang dikwatirkan. Ternyata keberadaan itu, baru terungkap pada 2007. Itupun diceritakan adik ipar kepada kakek itu. Semua masih memiliki rasa, karena merasa kehilangan yang terus jadi bayangan, masih penuh tanda tanya, awalnya. Maja yang merasakan aneh, bergegas mengambil foto.

“Ini kan, foto paman, yang sebelah kanan?”

“Yaa, itu Nak. Kakek hanya berdoa setiap malam jumaat, sambil membakar kemenyan sambil khususon[9] sebagai almarhum, almarhum untuk pamanmu, walaupun tidak tahu benar-benar tiada.” Nada sedih tidak dapat dipendam.

Tiba-tiba nenek itu datang, membawa gorengan pisan dan singkong rebus hasil panen kemarin. Dari arah dapur dengan bunyi pintu yang agak reot, langkah kaki itu terasa menuju ke mereka berdua, dari kejahuan seperti seorang yang sedang menonton sepak bola El-Clasico di kandang Madrid. Namun, tidak ada makanan ringan di sampingnya. Datang nenek itu kepada mereka.

“Wah, seru sepertinya. Ini, makan mumpung hangat, enak ini, mumpung masih hangat”. Ujarnya, kepada mereka berdua sambil mencicipi singkong kuning bening. Maja langsung menerobos lalu memakannya. “ Hmmm enak mbahh, hmm, top” sambil nyengir,  mulut yang masih penuh dengan singkong yang dikunyahnya.

“Sudah Heh[10] jangan ceritakan semua ke Maja, yang terjadi sudah ikhlaskan, agar tenang anak kita di sana.” Dengan nada lemah lembut dan tidak begitu ada beban yang berat, sambil berjalan kembali ke dapur.

“Tak tahu, bagaimana sulit melupakannya, apalagi pas ada hujan panas”. Ia sambil merunduk dan seperti menyembunyikan rasa malu.

“Iya mbah, tidak usah terlalu dipikirkan, hujan panas pasti selalu ada, tak akan bisa dihapuskan, kalau tidak dibiasakan melupakan, apalagi berharap tidak adanya hujan panas, luka akan terus mengeras dan menganga. Mbah kalau tidak membiasakan menghilangkan sesuatu yang berharga, luka akan selalu datang, apalagi adanya hujan panas yang akan menghadirkan luka. Seberapa lama, jiaka tidak dibiasakan. Itu yang saya temukan di pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah. Bahkan, ada sajak indah diambil dari penyair Indonesia “hidup hanya menunda kekalahan[11]”  Tafsiirnya begini, kata guru. Hidup kita ini sementara semua akan bertemu dengan keabadian yaitu kematian” . Dengan senyum sempit sambil berkata kepada Mbahnya.

Dari jarak kurang lebih 7 meter. Nenek itu tersenyum mendengarkan cucu yang tegar dan sedikit nyeleneh[12] iya seperti orang yang tidak memiliki beban apa-apa dalam hidupnya. Waktu terus maju, lonceng akan terus berdering, semua akan merasakan sesutu berharga dari apa yang ada. Dan akan tiba suatu hari yang tidak biasa, hujan panas tentu akan selalu ada selama itulah terus membekas di dalam dirinya, luka.

“Kamu ini pandai buat kata-kata, kamu cocok jadi tukang Kejung[13] Cong”. Saut Mak Tahe yang seperti tersenyum mendengarkan bahasa indah dari cucunya.

“Haha saya ini mbah, akan jadi guru, penulis atau penyair nanti, tapi kaya,  agar bisa bantu orang. Memang saya tidak sepintar dia yang jadi kebanggaan orang sini. Saya tidak sebutkan namanya nanti dikira mau rasanan, ini namanya anak milenial mbah”. Sautnya dengan nada humor yang sangat memukau mbahnya. Nenek itu segera bergegas kembali beraktivitas kembali.

***

Kakek itu, ingin menyampaikan sesuatu yang lain, mengenai Siti pacar dari ayahnya. Bernama Tahe. Namun, ada yang paling menyedihkan pada saat 2001. Saat itu hujan panas hampir setiap hari selama 10 hari, tak berhenti. Saat itu ternyata ada tragedi perang di Sampit. Saat itulah awal perpisahaan Siti dan Tahe. Sekarang membiarkan Ia bermain dulu, agar tak ada beban hingga. Ia hanya memberi aba-aba.

“Maja, kamu hati-hati kalau bermain ke arah Utara!” pesan kakeknya.

“Iya mbah kenapa?” tanya ulang dengan penasaran.

“Nanti mbah ceritakan, intinya hati-hati. Sini mbah mau berbisik”. Sambil menarik tangannya menoleh kanan-kiri takut ada yang melihat, lalu mulut yang mendekatkan ke telinga Maja dengan nada yang tidak ada yang tahu kecuali mereka.

“Siaaap mbah, saya tunggu cerita selanjutnya hehe” sambil tersenyum.

Mbah itu, tanpaknya masih ingin membiarkan Ia berpikir bebas, dengan cara paling baik, dan hanya dibatasi dengan aba-aba. Karena ia selalu berharap, setiap perang usai semua bisa membawa pulang bunga[14] mungkin seperti halnya para Pandawa pulang dari perang Kurusetra. Hujan panas akan selalu ada dalam kehidupan, selalu seperti bahagia  dan duka seperti kejutan, jika menghapusnya akan seperti hal menghapus tabir Tuhan.

Bersambung!! Akan ada cerita selanjutnya..

[1] Orang yang berkelahi menggunakan celurit, calok, dan bujur

[2] Telempek: lentera yang buat menyinari ruang gelap

[3] Tanda orang yang sudah balig dalam islam, sudah keluar air mani dari zakarnya

[4] Nama desa dari suatu daerah di Bangkalan Madura

[5] Sabun muka pembersih wajah.

[6] Panas hujan; memberi tanda yang tidak baik bagi masyarakat Kampung Konyik Desa Alasrajah

[7] Bulan sebutan bahasa Madura; dua

bulan sebelum bulan Ramadan.

[8] Jasa pengiriman seperti post, namun ini ada 1990.

[9] Khususon: Mengirimkan doa kepada yang telah meninggal

[10] Heh, sebutan kepada kakek itu. Nenek yang saat pacaran hingga sekarang.

[11] Puisi Chairil Anawar

[12] Beda dengan yang lain.

[13] Sastra di Madura yang tradisi lama.

[14] Kutipan puisi Wislawa Symbozka penyair Polandia

Tinggalkan Komentar

Silakan tulis komentar anda
Silakan tulis nama anda di sini